Tak selamanya sampah itu menjijikan. Bila tekun mengelolahnya, sampah justru bisa menjadi barang bernilai seni tinggi. Melalui tangan halus Hj Rr Sulistiyawati Tony, sampah pun berubah menjadi aneka bunga yang menawan. Harga jualnya pun bisa mencapai jutaan rupiah. Menariknya bunga-bunga ini pun diekspor ke Belanda, Australia dan Swiss.
Sejak kemarin hingga Jumat (25/4) besok, karya seni bunga dari sampah ini dipamerkan di Perpustakaan Umum dan Arsip Kota Malang. Pameran bertajuk ‘bunga dari sampahe wong Malang raya’, kemarin dibuka Istri Wawali Ny Bambang PU.
Ada 62 bunga dari sampah hasil karya Sulistiyawati yang dipamerkan. Semuanya terdiri dari beraneka jenis bunga. Bahannya pun macam-macam, umumnya dari sampah dapur dan ada yang di lingkungan sekitar. Mulai dari kulit bawang merah, kulit bawang putih, biji cabe merah, tangkay cabe merah, kacang, brambang prei, kulit luar dan dalam kedelai. Tidak hanya itu saja, puntung rokok dan orotan pensil juga bisa jadi bahan bunga hias.
Bunga dari biji cabe merah, merupakan salah satu karya tangan Sulistiyawati yang menawan. Biji cabe merah disusun, kemudian dilem menjadi bunga Melati. Tangkai bunga melati dibuat dari batang suvelir, sedangkan akarnya rumput.
Untuk membuat bunga dari sampah, kata dia, dibutuhkan ketelitian dan keuletan. “Kalau berjiwa seni, semua bisa membuat bunga dari sampah. Kalau saya, juga menggunakan jamu, jamu sabar,” kata pemilik Prigel Art & Gallery ini.
Perempuan 59 tahun ini cukup ulet, tekun dan sabar. Untuk membuat bunga dari sampah, dia tidak membutuhkan sketsa atau pola. “Saya lakukan menurut kata hati saya,” terang Sulistiyawati.
Untuk mengerjakan satu karya, waktu yang dibutuhkan relatif. Berdasarkan keinginan dan suasana hatinya. Bila sedang mood, dia bisa membuat satu karya dalam waktu 10 hari. Tapi bila sedang tidak mood, membutuhkan waktu antara 20 hari sampai 1 bulan.
Sejak 2002, dia sudah membuat 167 bunga dari sampah. Harga hasil karyanya yang paling murah Rp 150 ribu, sedangkan yang paling mahal Rp 1,5 juta. Hasil karyanya itu sudah dijual kemana-mana. Selain dalam negeri, seperti Bali dan Batam, juga sudah menembus luar negeri. Di antaranya Belanda, Australia, Swiss. Salah satu karya bunga dari puntung rokok pernah dikirim ke luar negeri karena bantuan PT HM Sampoerna Tbk. (van/lim) (Vandri Van Battu, MalangPOst 24 April 2008 )
15 Oktober 2008 at 12:52
bagus banget idenya, kebetulan utk tgs MK q ngambil puntung rokok untuk dijadikan produk yang mempunyai nilai guna… bisa dibagi gk literatur n cara pengolahan dasarnya?… mksh bnyk