Teknologi biogas, sebenarnya tidak hanya dari kotoran sapi. Lebih dari itu, kotoran manusia alias tinja, nyatanya bisa dioptimalkan sebagai biogas. Teknologi inilah yang mulai dikembangkan di Kabupaten Malang, khususnya dua lokasi di wilayah Kecamatan Kepenjen, yang kini masih mengalami kendala perlengkapan penyaluran.
Kalau saja kepengurusan yang terlibat dalam Sanimas (Sanitasi Masyarakat) bisa berjalan optimal, sudah barang tentu masyarakat sekitarnya sudah bisa memanfaatkan bahan alternatif pengganti minyak tanah dan elpiji itu.
Apalagi ada dua lokasi yang menjadi sentra pengembangan biogas dari tinja. Sanimas Panji II di Kelurahan Kepanjen dan Sanimas Molek di Jalan Kawi Selatan Kelurahan Cempokomulyo. Bahkan, sentra itu sudah mengembangkan biogas sejak 2006 dan berhasil
Malahan, beberapa pengurus Sanimas, juga sempat melihat bagaimana nyala warna api yang dihasilkan dari pemakaian tinja itu. ‘’Kalau warnanya, jauh lebih biru. Bahkan, terbilang nyala apinya jauh lebih bagus dari kotoran sapi. Hanya saja, waktu itu belum sampai didistribusikan atau dipakai rutin, karena memang perlengkapan pendukung lainnya masih belum ada,’’ kata operator Sanimas Molek, M Hidayat.
Bagaimana sistem kerjanya? Hidayat menjelaskan, dari septic tank yang sudah disediakan, nantinya di ujung paling atas tong atau ruang hampa udara, diberi semacam slang yang bisa dimanfaatkan sebagai pengatur keluar biogas.
Dari pengatur inilah, kemudian diberi pipa penyalur dan ditambah semacam spedo untuk pengatur besar-kecilnya biogas. Lalu, diteruskan ke kompor gas layaknya menyambungkan tabung elpiji ke kompor gas.
‘’Sarana yang dipakai dalam biogas ini, itu tetap kompor gas. Hanya, bahannya saja yang diambil dari tinja alias bukan elpiji,’’ tambah bapak empat anak itu.
Sebenarnya, tambah Hidayat, kalau pemanfaatan biogas tinja ini sukses, setiap warga bisa memproduksi sendiri. Masalahnya, sarana yang dibutuhkan hanya tempat penyimpanan septic tank, pembuang tinja dengan terbuangnya air di kamar mandi dilakukan pemisahan serta lokasi pengaturan keluar biogasnya.
‘’Jadi, sisa pembuangan air di kamar mandi dengan tinja, itu harus berlainan jalur dengan septic tank. Sementara tempat keluarnya biogas, juga berada di luar ruangan. Dengan pertimbangan, bau biogas yang keluar. Akan lebih bagus, kalau bagian atasnya pengatur keluar biogas, diberi endapan air agar bau tidak begitu menyengat,’’ lanjutnya.
Mengenai perawatan Ipal (Instalasi Pengolahan Limbah), kata kakek dua cucu itu, sebenarnya tergolong sangat mudah. Bahkan, Sanimas Molek juga memiliki panduan yang bisa dimanfaatkan dan dibaca cara perawatannya. Satu hal yang bisa diketahui, satu bulan untuk pembuatan closet atau septic tank sudah bisa menikmati biogas. ‘’Intinya, selama dua tahun sekali bisa dilakukan perawatan. Caranya pun, juga ada panduannya,’’ ungkap Hidayat.
Mengenai peluang pemanfaatan biogas tinja sendiri, sebenarnya cukup banyak menyimpan harapan. Malahan, warga pun mengharap kebutuhan pipa penyambung untuk pengoptimalan biogas tinja, segera terpenuhi. Sehingga, bukan barang tentu peluang dibuat layaknya pengisian tinja, bisa dikelola untuk desa.
‘’Kalau saya sendiri selain nantinya biogas bisa optimal, tentu ada semacam pengisian ulang. Itupun, kalau memang bisa. Sehingga, warga yang tidak memiliki cukup lahan, bisa membeli atau bagaimana caranya untuk mendapatkan pengisian biogas tinja,’’ kata warga di Sanimas Panji II.
(Sigit Rohmad, MalangPost)

26 Juni 2008 at 12:37
Saya tertarik dengan sumber energi alternatif biogas. kira2 bisa tidak saya meminta informasi lebih tentang aplikasinya di lapangan juga panduannya? Terima kasih
1 Juli 2008 at 12:14
Saya kepingin sekali menggunakan energi biogas tapi caranya bagaimana
15 Juli 2008 at 17:55
saya akan membuat biogas,kemana saya harus menghubungi ahlinya.terima kasih.