instalasi pipa SumberawanUPTD PDAM (Perusahaan Air Minum Daerah) Kecamatan Singosari diperkirakan segera gulung tikar jika tidak lekas menurunkan harga langganan air di desa-desa sekitar mata air Sumberawan. Mahalnya tarif PDAM membuat warga desa di dekat Sumber air Candi Sumberawan memilih memakai jasa HIPAM (Himpunan Pengusaha Air Minum) desa setempat untuk memenuhi kebutuhannya.

Hal itu nampak dari jumlah saluran air yang dipasang di mata air Candi Sumberawan makin banyak dan posisi pipa milik PDAM kian terjepit.

Dari pantauan Malang Post dilapangan, pipa air yang terpasang di mata air tersebut sedikitnya berjumlah 40-an buah. 88 persen pipa milik HIPAM desa, 10 persen lainnya dimiliki beberapa instansi militer, sedangkan milik PDAM hanya 2 persen. Perbedaan itu makin menampakkan dominasi HIPAM pada industri air di kawasan Kecamatan Singosari.

“Di desa-desa daerah mata air Candi Renggo Sumberawan, warga yang memakai PDAM hanya lima persen, selebihnya dengan HIPAM,” ujar Riyanto salah satu pengurus HIPAM Dusun Tejosari Desa Candirenggo.

Saat ditemui Malang Post kemarin, pria itu sedang memperbaiki pipa air HIPAM dusun Tejosari di dekat mata air Candi Sumberawan. Dikatakannya, jumlah pelanggan HIPAM yang dikelolanya tersebut sekitar 300 kepala keluarga (95 persen KK dusun itu). Hal itu terjadi lantaran tarif PDAM amat mahal, baik itu amprah maupun iuran bulanan.

“Amprah PDAM saat ini bisa menembus Rp 2 Juta. Sedangkan iuran bulanan Rp 30 Ribu hingga Rp 100 Ribu. Tentu warga memilih HIPAM, karena harga amprah murah, dengan ongkos bulanan hanya sebesar Rp 5 Ribu,” terangnya.

Hal senada dikatakan Wiyono yang juga anggota HIPAM dusun Tejosari. Dia melihat posisi PDAM kian terdesak. Contohnya, jumlah pipa milik PDAM di sumber tersebut hanya dua buah, selebihnya hingga angka 40 adalah milik HIPAM dan instansi militer di Singosari. Praktis, meski tedapat UPTD PDAM di desa Candirenggo, warga desa itu lebih memilih HIPAM.

“Sekitar tahun 2001 lalu sempat terjadi perang antara HIPAM dan PDAM di kawasan ini. Saat itu HIPAM dilarang mengambil air dari mata air candi Sumberawan, akhirnya karena diprotes warga dan pemilik HIPAM larangan itu dicabut. Sehingga saat ini jumlah warga yang langganan PDAM makin mengecil dan nyaris hilang,” pungkas dia.(ary/eno) (Ary Wicaksono, malangpost)