Aksi damai mahasiswa menolak PP no.2/2008 tentang pengelolaan kawasan hutan untuk kegiatan pembangunan di luar kegiatan kehutanan yang berlaku pada Departemen Kehutanan berlangsung tertib. Mereka meminta pemerintah untuk meninjau kembali tarif pengelolaan yang berlaku pada PP (Peraturan Pemerintah) itu.
Aksi ini dilakukan oleh sekitar 150 Aktivis Forum Mahasiswa Kalimantan Peduli Lingkungan (FMKPL) pada hari kebangkitan Nasional di jalanan kota Malang, mulai dari Stadioan Gajayana dan berorasi di depan Balai Kota Malang.
Dalam aksinya, selain orasi mereka juga mengadakan teaterikal yang menyindir kebijakan pemerintah tentang pengelolaan kawasan hutan dan penderitaan rakyat sekitar hutan akibat kebijakan pemerintah ini.
“ Dalam Aksi ini yang bertepatan dengan hari kebangkitan nasional kami ingin merefleksikan kembali soal pengelolaan kawasan hutan yang diatur pada PP no.2/2008,” ujar Victor Taufan Handaya Putra Sekjen FMKPL.
Lebih lanjut mahasiswa Sekolah Tinggi Filsafat Teologi Widya Sasana ini menjelaskan,” kami menolak PP ini karena kami anggap kebijakan pemerintah ini telah ditunggangi oleh kapitalis asing yang akan berinvestasi di Indonesia”.
Menurut Victor dengan tarif antara Rp. 1,2 juta sampai dengan Rp 3 juta untuk pengelolaan hutan dinilai sangat tidak logis.” Dengan uang Rp 1,2 juta kita sudah bisa menggunakan kawasan hutan produksi untuk pertambangan migas, panas bumi, jaringan telekomunikasi, Repiter TV dan Telekomunikasi, Tenaga listrik dan jalan tol, serta dengan uang Rp3 juta kita dapat membuka pertambangan dikawasan hutan lindung. Hal ini sangat tidak logis dan pengambil kebijakan harus dipertanyakan keindependensialnya dari pihak luar,” paparnya.
“Selain itu apabila pemerintah mengaplikasikan PP ini pada 13 perusahaan pertambangan yang da di Indonesia, mengapa pemerintah tidak mencatumkan angka 13 pada salah satu pasal dalam PP ini,” kata Victor dengan nada tanya.
“Yang kami khawatirkan dari sebuah keambiguan yang ada dalam sebuah peraturan nantinya akan disalah gunakan oleh pejabat berikutnya,” jelas dia.
“Demo ini diadakan serentak di tiga kota, Malang, Yogjakarta, dan Jakarta kata,” Ucap Viktor.
Demo ini berlangsung kurang lebih satu jam dan tidak menyebabkan kemacetan di sekitaran bundaran Tugu. (MP7)(MP11, malangpost)
