
Larangan Dinas PertanianKota Batu soal pembibitan kentang dari hasil panen dikeluhkan para petani kentang Batu. Akibat larangan tersebut petani harus mengeluarkan biaya lebih besar, untuk musim tanam, lantaran harus membeli bibit kentang dari luar.
Menurut Warnan Tarmidi, Ketua Kelompok Pemuda Tani, Kecamatan Bumiaji, larangan itu berlaku sejak tahun 2001 lalu, menyusul hasil penelitian Dinas Pertanian, Pemprov Jatim. Saat itu hasil penelitian menyebutkan, tanaman kentang di Kota Batu rata-rata terserang penyakit golden ematoda (cacing emas). Tapi sayang, hingga saat ini belum ada klarifikasi ulang, ataupun penelitian ulang dari Dinas Pertanian Jatim.
“Kami kecewa, karena sudah tujuh tahun, tapi larangan membuat bibit kentang dari hasil panen kita masih berlaku. Kami harap Dinas Pertanian Kota Batu untuk merespon dengan melakukan penelitian kembali,’’ terang Warman sembari mengatakan hasil panen kentang biasanya tidak hanya dijual sayurnya, tapi juga dibuat bibit, yang juga dijual.
Kepala Dinas Pertanian Kota Batu Harsono membenarkan pihaknya masih memberlakukan larangan untuk menjual bibit kentang ke luar Kota Batu. Alasannya, penyakit golden ematoda yang menyerang tanaman kentang tersebut masanya hingga delapan tahun.
“Sebetulnya bukan larangan pembibitan secara total. Kalau petani ingin memakai bibitnya sendiri tidak masalah, asalkan jangan sampai dijual ke luar,’’ kata Harsono.
Pertimbangannya adalah untuk menyelamatkan produksi kentang skala nasional. Karena dengan tidak mengeluarkan bibit kentang ke luar Kota Batu, maka kentang dari wilayah lain tidak akan tertular. “Penyakit golden ematoda itu terletak pada buah kentang. Namun setelah penanaman, penyakit tersebut keluar melalui pori-pori kentang, yang kemudian dapat menggeroggoti akar. Akibatnya, tanaman kentang layu,’’ jelas Harsono, sembari mengatakan penyakit ini pertama hidup di daratan Jerman.
Namun begitu, Harsono memastikan kentang yang terserang penyakit golden ematoda masih layak untuk dikonsumsi dan tidak berpengaruh pada kesehatan. “Tidak masalah, kalau dikonsumsi. Tapi kalau dibuat bibit itu yang masalah, karena penularan penyakit golden ematoda cukup cepat,’’ tandas Harsono.(ira) (Ira Ravika, malangpost)