Di sebuah kamar intensif anak, RSSA, sepasang mata kecil Garneta, bayi berusia lima bulan, berkedip-kedip menangkap suara yang datang. Seolah-olah dia ingin menggapai tangan yang coba menyentuh pipi merahnya.

Tangan sang ibu yang duduk di sebelahnya, mencegah kaki dan tangan kecil Garneta, yang kadang menghentak, agar tidak menggangu infusin pump (pompa suntik) serta selang infus yang dimasukkan lewat lubang hidungnya.

Sudah hampir dua bulan ini, anak semata wayang pasangan Suliyono (35) dan Munawaroh (25), asal desa Sumber Bendo, Pasuruan, dirawat di RSSA.
Menurut diagnosa dokter ahli anak RSSA, Garneta divonis menderita penyakit singgle kidney (hanya memiliki satu ginjal). ‘’Kami sudah tidak bisa kemana-mana. Bahkan untuk hajatan keluarga kemarin, RSSA melarang kami keluar. Mereka takut kekebalan tubuh Garneta tidak memadai,’’ ujar perempuan yang menikah pada 2006 lalu.

Kondisi kelainan pada Garneta, cerita Munawaroh, berawal saat anaknya pilek dan batuk-batuk. Berlanjut dengan adanya sesak nafas dan dadanya turun naik. Garneta juga menangis menjadi-jadi.

‘’Saya kira pilek dan batuk biasa. Tapi kok nafasnya seperti sesak. Akhirnya kami bawa ke RSSA Malang. Ketika itulah, kami tahu kalau Garneta ada gangguan paru-paru dan setelah membaik, ia divonis lagi hanya memiliki satu ginjal,’’ terang ibu muda ini menahan tangis.

Suliyono sendiri, harus hilir mudik Malang – Pandaan. Karyawan Pabrik Agar-agar Cap Sriti Pandaan itu, harus tetap mencari uang tambahan untuk pengobatan anak pertamanya. Sementara sang ibu yang bekerja di pabrik yang sama, harus mengajukan cuti. Karena cuti yang tak terbatas itu, sang ibu rela, jika sewaktu-waktu dia menerima surat PHK.

‘’Saya kadang putus asa. Tapi mau gimana lagi, karena saya sudah tidak tahu apa yang harus saya lakukan. Kecuali terus berdoa dan selalu berada disampingnya,’’ ujar Munawaroh sedih.
Untuk biaya pengobatan dan perawatan, Munawaroh mengaku mendapat asuransi dari perusahaan tempat dia dan suaminya bekerja. Tapi hanya dalam jangka waktu dua bulan saja.

‘’Pengobatan untuk dua bulan ini, dibayar oleh perusahaan. Untuk diagnosa yang biayanya Rp 1 juta – 2 juta, dibantu separuh oleh Direktur RSSA. Tapi katanya ada diagnosa yang harus ke Surabaya, entah apa namanya,’’ tambahnya lagi.

Tapi setelah itu, pasangan suami-istri itu tidak tahu lagi harus bagaimana. Apalagi mereka tidak tahu, kapan Garneta bisa sembuh total. Padahal, selama perawatan di RSSA, seluruh tabungan dan perhiasan miliknya sudah habis terjual.

‘’Mau bagaimana lagi. Hanya itu yang masih tersisa. Yang penting Garneta bisa sehat seperti anak-anak pada umumnya,’’ paparnya lagi.

Sementara itu, dr Hariyudi Aji Cahyono, Sp.A, dokter yang merawat Garneta menegaskan, Garneta mengalami keterlambatan pertumbuhan.

‘’Dari hasil diagnosa selama ini, kami melihat dia mengalami komplikasi, karena ada keterlambatan pertumbuhan. Hasil tes medis, bayi ini mengalami gizi buruk, singgle kidney, bahkan ada gejala Disorder Seks of defelopment (gangguan pembentukan kelamin). Ini bisa terjadi karena faktor gen, infeksi saat janin, gangguan gizi dan kromosom yang tidak pas,’’ ujar dokter lulusan Singapura ini.

Hanya saja, harapan masih ada. Dr Hariyudi mengaku pernah memiliki pasien seperti Garneta, yang mampu bertahan meski hanya memiliki satu ginjal. ‘’Pernah ada kasus yang sama. Karena usaha dan doa, dia bisa survive,’’ pungkas dr Hariyudi mengakhiri.  (noor malady usman) (Nur Malady/malangpost)