
Selama tiga hari terakhir terjadi hujan sesaat di musim kemarau. Menurut Kepala Kantor Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) Stasiun Klimatologi Karangploso, Ir. Antoyo Setyadi Pratikto, fenomena ini merupakan hal yang biasa terjadi. Meski pada musim kemarau.
Secara teknis, Antoyo menjelaskan, kejadian itu disebabkan oleh adanya gelombang gangguan pada dinamika atmosfir. Hujan itu disebabkan oleh munculnya Palung Selatan (Prough). Osilasi itu terjadi di Samudra Hindia di bagian Barat Australia. Karena adanya Prough tersebut, maka terjadi tekanan rendah yagn berdampak pada terjadinya peningkatan awan-awan hujan.
“Jika awan-awan hujan itu terus meningkat di atas pulau Jawa, maka sangat mungkin akan terjadi hujan meski di musim kemarau. Tergantung dari kondisi lokal. Peningkatan intensitas awan hujan tersebut karena berkurangnya kecepatan angin atau afeksi. Sehingga awan yang menumpuk segera akan menimbulkan hujan,” ujarnya.
Selain adanya daerah prough, penyebab terjadinya hujan di musim kemarau itu karena di Utara Katulistiwa, di atas Malaysia, terjadi hambatan angin Pasad Timur yang akan berembus menuju Asia. Angin Pasad Timur tersebut dari Asutralia. “Jika angin tersebut tidak bisa masuk secara utuh, maka di daerah-daerah konveksi akan turun hujan. Tetapi, hujan tersebut tidak akan lama. Paling banter 3 sampai 4 hari. Kemungkinan muncul lagi setelah 9 atau 10 hari berikutnya,” urainya.
Prough yang terjadi itu, lanjut Antoyo, jaraknya relatif jauh dengan wilayah Indonesia khususnya pulau Jawa. Sehingga, hanya menimbulkan hujan sesaat yang berlangsung selama 30 hingga 60 menit. “tetapi, jika prough yang terjadi cukup dekat, bukan tidak mungkin akan menyebabkan hujan deras dan lama, meski di musim kemarau seperti ini,” imbuhnya.
Hujan sesaat tidak akan terjadi, atau kecil sekali kemungkinan terjadi, ungkapnya, jika terjadi fenomena Elnino yang kuat. Elnino membawa udara yang amat kering yang tidak membawa awan-awan hujan. Jika fenomena ini tidak terjadi, hujan sesaat di musim kemarau tetap bisa terjadi.
Lebih lanjut dia menjelaskan, menurut data statistik, hujan pada bulan-bulan kemarau rata-rata terhitung 50 mm perbulan. Puncak kemarau, jelas Antoyo, akan terjadi pada bulan Agustus dengan rata-rata hujan mencapai 20 mm perbulan. “Musim kemarau tahun ini masih akan terjadi hingga bulan Oktober. Puncaknya akan terjadi di bulan Agustus,” tutupnya.(sin/lim) (Sinyo/malangpost)