Kisah Bunga, Enam Tahun Dipaksa Melayani Nafsu Ayah Kandungnya

Hidup tanpa didampingi ibu membentuk Bunga (nama samaran), 14, menjadi remaja yang tertutup. Ia tak berani mengungkap aib ayahnya. Berikut lanjutan penuturan Bunga sekaligus ayahnya, Misdianto, 44, kepada Radar yang masih ditulis dalam bahasa saya.

Enam tahun memendam aib perbuatan ayah kepada saya, lambat laun saya tak kuat menahannya. Hati ini ingin berontak. Namun apa daya, seakan tak ada orang yang sanggup berpihak kepada saya. Anggapanku, orang bakal menyalahkanku setelah mendengar permasalahanku.Berkeluh kesah kepada teman sekolah, rasanya tak mungkin karena masa depanku dipertaruhkan di situ. Saya mengira teman-teman akan mencibir dan mengecap saya orang yang tak patut diajak berteman. Karena saya memiliki ayah bermoral bejat yang tega menghancurkan masa depan anaknya.

Demikian juga jika memilih tetangga sebagai tempat curhat, sudah pasti kabar ini akan cepat menyebar. Maklum rumahku berada di gang sempit yang letak rumah antartetangga berhimpitan. Apalagi sejak lama saya hidup ditinggal ibu yang bekerja menjadi TKW diluar negeri, Hongkong. Mungkin karena itu, tetangga saya selalu menyorot kehidupan keluarga saya.

Hasrat untuk berontak akibat tak menemukan tambatan untuk berkeluh kesah, kian terasa ketika saya lulus SD. Lalu saya duduk di bangku SMP swasta yang ada tak jauh dari rumah. Saya pun sering mencari pelampiasan.

Caranya, saya malas belajar hingga akhirnya prestasi saya jeblok. Tahu itu, ibu sempat marah-marah pada saya. Saat itu, ibu sedang pulang ke Indonesia pertengahan 2007. Akibatnya, dengan cara memaksa, ibuku memindah saya ke SMP negeri. Meski harus mengeluarkan uang cukup besar, ibu berharap saya pindah ke sekolah yang lebih bagus.

Saat duduk di sekolah yang baru, saya makin meratapi nasib ini. Karena teman-teman saya di sekolah baru itu, ternyata lebih rajin dan memiliki tingkatan sosial ekonomi lebih mapan.

Saat itulah kesadaranku muncul. Saya sadar kalau harus berubah dan segera keluar dari permasalahan ini. Saya mulai mulai mendekatkan diri pada Allah. Setiap kali usai salat, saya berdoa dan memohon petunjuk Allah agar diberikan jalan keluar. Ya….meski tak intens salat lima waktu, namun setidaknya ajaran agama tetap kujaga.

Sebagai muslimah, saya merasa masih jauh dari kesempurnaan. Mungkin itu karena selama ini ayah jarang membimbing saya. Dalam hati kadang berbicara, kondisi keimanan saya makin tebal apabila ada ibu yang terus membimbing serta mengarahkan langkah saya. (Bunga menghentikan ceritanya sejenak lalu memejamkan matanya).

Doa saya akhirnya terkabul pada Februari 2008 lalu. Saat itu saya kenal pria bernama Andre,17. Dia seorang pramuniaga di salah satu stan di Pasar Besar Malang. Saya kenal pemuda itu ketika belanja. Pribadi Andre penyabar serta sosok pendengar yang baik. Itu yang saya kagumi dari Andre. Apalagi, setelah itu Andre mengutarakan keseriusannya untuk menjadi kekasih saya. Saya terharu dengan ketulusan Andre. Saya sangat sayang sama dia. (Beberapa saat Bunga menghentikan penuturan sambil menarik nafas panjang).

Melalui sebuah sandiwara, saya coba mengutarakan perbuatan ayah kepada Andre. Saya mengemas cerita duka yang saya alami sebagai kisah teman saya. Harapan saya, hanya ingin tahu bagaimana sikap Andre apabila memiliki calon istri yang pernah disetubuhi oleh ayah kandungnya. Ternyata, Andre mengaku tak mempermasalahkannya. Andre bahkan menaruh iba pada “tokoh” teman yang saya kisahkan itu.

Yang saya ingat, Andre mengatakan bahwa ketulusan cinta adalah hal utama untuk membangun sebuah keutuhan rumah tangga. Hidup manusia tak hanya sebatas hingga pacaran saja. Namun juga berkeluarga hingga beranak cucu. Untuk itulah ketulusan cinta sangat ditentukan dalam berhubungan, sekalipun ada permasalahan besar yang sedang dihadapi.

Merasa penasaran dengan cerita yang saya buat, Andre terus mencecer siapa sosok teman yang saya ceritakan itu. Karena terdesak, akhirnya saya mengaku jika sosok teman yang saya ceritakan adalah saya sendiri.

Tahu pengakuan ini, Andre terkejut. Ia mengaku sangat prihatin atas kondisi saya. Ia lantas menyuruh saya bersabar. Katanya, dia bisa menerima saya apa adanya dan membantu saya untuk keluar dari permasalahan ini. Selanjutnya Andre mempertemukan saya dengan kerabatnya. Oleh saran kerabat Andre, saya disuruh melaporkan kejadian ini ke polisi. Andre dan kerabatnya menemani saya ke Polresta Malang untuk mengadukan perbuatan ayah, pada Rabu (12/6).

Saat itulah polisi lantas menjemput ayah saya di rumah. Ayah diperiksa dan dimasukkan tahanan. Setelah mengatahui ayah dipenjara, perasaan saya makin tak menentu. Di satu sisi kasihan namun disisi lain terpaksa karena tak mungkin saya terus-terusan melayani nafsu bejat ayah. Jujur sekarang saya dalam posisi sulit. Hasrat untuk memberitahu ibu di luar negeri, rasanya tak mungkin. Saya khawatir ibu bakal kaget dan jatuh sakit. Saya masih belum bisa mikir, apa ibu dikabari atau tidak.

Beban saya sekarang adalah bagaimana membesarkan adik saya, Chandra,5. Saya bingung, adik saya akan dirawat siapa. Ikut ibu tiri yang kini tinggal di Surabaya rasanya tak mungkin. Saya berharap ada satu mukjizat lagi supaya bisa segera keluar dari permasalahan ini.

Apa kata Misdianto, sang ayah? Saya menyesal sekaligus berdosa kepada istri saya. (Misdianto menundukkan kepala menjawab dialog dengan Radar di Mapolresta Malang Jumat, (13/6) kemarin).

Sebenarnya, bagi saya memiliki anak kandung seperti Bunga adalah karunia. Anak ini baik, patuh pada orang tua serta rajin. Saya mengaku salah telah memperlakukan dia menjadi sasaran pelampiasan nafsu seksual saya. Tapi mau bagaimana lagi. Saat itu nafsu tak lagi bisa dibendung, setelah nonton film porno.

Niat untuk mencari pelampiasan, tak kuasa karena takut nama baik saya tercemar. Saya juga tak nafsu dengan wanita yang belum saya kenal. Karena gelap mata, Bunga saya suruh melayani nafsu yang sudah tak terkendali. Setiap kali usai memperkosa Bunga, hati saya mengalami pergulatan yang cukup kuat. Satu sisi puas karena hasrat sudah tersalur. Namun sisi lainnya, saya juga menyesal karena menjadikan anak sebagai pelampiasan.

Sekarang yang saya pikirkan adalah nasib anak-anak di rumah. Mereka tak lagi ada yang menemani. Bagaimana sekolah Bunga dan bagaimana keseharian Chandra. Saya minta maaf sebesar-besarnya kepada anggota keluarga saya karena saya telah khilaf. Saya ingin menebusnya dengan menjalani hukuman. (Mardi Sampurno/ing/jawapos)

About these ads

4 Komentar

Filed under Malang

4 responses to “Kisah Bunga, Enam Tahun Dipaksa Melayani Nafsu Ayah Kandungnya

  1. kasus ini rumit kalau kata saya dia menghadapi dilema but she kok mau cerita setelah 6 taon di setubuhi bokap na ama tu cow so selama 6 taon di ga cerita maybe ke enakan kali pas tu totong bokap na masuk ke vagina na tu ce yg gue mau nanya ne tu ce pernah ga ngasih vagina gratis ama tu co bingung gue ama dilema

  2. nafsu banget ayahnya…!!!

  3. muhlasin

    perbuatan orang tua yang semcam itu perlu di hukum yang seberat-bertnya sebab tidak melindungi tapi malah membuat susah anak dan keluarganya. semoga penegak hukum mampu menjerat dengan hukuman yang setimpal.

  4. junaidi

    BG CEWEK2 KORBAN PERKOSAAN AYAH KANDUNGNYA, JGN RAGU2 MENHUBUNGI SY, DEMI RASA KEMANUSIAAN DAN NIAT YG TULUS IKHLAS KARENA ALLAH SEMATA, SY AKAN MERINGANKAN BEBAN PENDERITAAN KALIAN. HUBUNGI SY SEGERA DI NO 0852 6889 8585 ATAU 0877 9651 6931

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s