Biasanya sebuah sekolah negeri, angka ketidaklulusannya sangat kecil. Tapi yang terjadi di SMP Negeri 17, sangat bertolak belakang. Dari 223 siswa kelas tiga, ada 51 siswa tidak lulus. Kenapa hal itu bisa terjadi.

Kalau ada sisi menarik yang bisa diamati dari ‘konsistensi’ SMPN 17 Malang, yang selalu menyumbang jumlah ketidaklulusan paling banyak, itu adalah siswanya.

Siswa sekolah ini memang cukup unik. Mereka rata-rata adalah pemegang NUN rendah yang sudah tidak tertampung di sekolah-sekolah favorit di Kota Malang.

Menariknya lagi, ada lebih dari 30 siswanya direkrut setiap tahun, bukan diseleksi sekolah. Namun atas usulan lurah setempat yaitu Bakalan Krajan yang diminta untuk mendata anak-anak putus sekolah dan juga anak usia wajib belajar 9 tahun. Langkah ini dilakukan sekolah karena setiap tahunnya pagu pendaftaran siswa baru yang dibuka tidak pernah terpenuhi.

‘’Sebenarnya pagu pendaftaran siswa baru (PSB) kami selalu terpenuhi bahkan lebih dari kuota yang ada. Namun kecenderungan siswa yang sudah tahu lokasi sekolah ini memutuskan mengundurkan diri dan tidak mendaftar ulang. Karena itulah kami bekerja sama dengan lurah untuk mendata anak-anak putus sekolah untuk memenuhi pagu kami,’’ ungkap Kepala SMPN 17 Malang, Drs Bambang Widarsono M.Pd kepada Malang Post.

Lokasi SMPN 17 Malang, memang berada di pinggiran kota ini. Tepatnya di Kelurahan Bakalan Krajan Kecamatan Sukun. Cukup sulit mencari lokasi sekolah ini, karena memang tidak ada angkutan umum yang melewatinya.

Lokasinya berada di tengah persawahan dan jauh dari jalan raya. Siswa yang bersekolah di sana, harus berjalan kaki atau naik ojek sejauh kurang lebih lima ratus meter dari jalan besar.
Karena lokasi yang jauh pula, sekolah mengakui banyak siswa yang sering membolos meskipun disiplin selalu dijaga di sana. Bahkan seringkali saat ujian sekolah, siswa tidak datang. Sehingga sekolah pun harus menjemput mereka ke rumah masing-masing.

‘’Menjemput siswa kalau ada ujian sekolah sudah biasa dilakukan guru-guru di sini. Ya seperti itulah kondisinya dari dulu,’’ ungkapnya.

Input yang rendah dari siswanya ini, masih ditambah minimnya kesadaran orang tua dalam pendidikan. Kepedulian orang tua dengan pendidikan anaknya memang sangat kurang.

Sebab mayoritas memang siswa di sana berasal dari kalangan menengah ke bawah. Karena itulah para guru harus berjuang ekstra keras baik dari segi pembekalan akademik maupun spiritual untuk siswanya.
Pria yang sudah 5 tahun memimpin sekolah itu menuturkan, meski input siswa mereka pas-pasan, namun sekolah berusaha menampilkan pendidikan yang berkualitas.

Seperti dari segi kualitas guru misalnya. Guru-guru di SMP tersebut bisa dibilang sebagai guru unggulan. Sebab banyak diantara mereka yang kemudian diangkat menjadi kepala sekolah di sekolah lain.
Bahkan banyak yang kini menoreh prestasi di sekolah baru mereka. Misalnya saja penemu alat peraga edukatif dari SMAN 10 Malang Drs Chandra yang pindah ke SMAN 10 karena mendekatkan dengan tempat tinggalnya.

‘’SDM guru kami tidak kalah dengan sekolah lain. Begitupun dengan sarana sudah kami lengkapi. Tapi input yang memang sudah rendah ditambah minimnya kesadaran orang tua akan pendidikan membuat kami ngeri setiap kali akan menghadapi kelulusan,’’ tuturnya.

Pria bersahaja ini menuturkan, hasil UN sebenarnya tidak bisa menjadi bukti sekolah berkualitas atau tidak. Sebab jika dilihat dari sisi pencapaian GSA sebenarnya SMPN 17 Malang cukup berhasil. Jika dilihat nilai UN yang masuk dan dibandingkan dengan nilai UN yang dicapai saat lulus, sekolah mencatat selalu ada kenaikan.

‘’Kalau kami dibandingkan dengan SMPN 3 Malang yang inputnya saja sudah yang terbaik, dimana semuanya pemegang NUN tertinggi di Kota Malang, tentu saja tidak bisa. Wong NUN terendah di SMPN 3 Malang itu jauh di atas NUN tertinggi yang masuk di sekolah kami,’’ tukasnya.
(lailatul rosida/malangpost)