Pakai Gerobak Sampah-pun Dipungli Rp 750 Ribu

Tujuh Ketua RT di RW 04 Kelurahan Pagentan Kecamatan Singosari mempertanyakan tarikan biaya pinjam pakai gerobak dan biaya angkut sampah di wilayah mereka oleh UPTD Permukiman, Kebersihan dan Pertamanan (PU) setempat.

Pasalnya, pekerja pengangkut sampah di RW 04, Subur, diwajibkan membeli gerobak sampah seharga Rp 750 Ribu. Bahkan juga ada biaya pembuangan sampah Rp 200 Ribu- Rp 250 Ribu per bulan. Namun, pembelian gerobak tersebut menurut Subur dituliskan dalam kuitansi sebagai pinjam pakai.

Surat pernyataan yang ditunjukkan Subur dan akan dilaporkan pengurus RT dan RW ke Bupati karena keberatan.
Subur mengatakan, sejak pertama kali bekerja sebagai pengangkut sampah sekitar enam bulan yang lalu, dia diwajibkan membeli gerobak sampah oleh oknum UPTD Permukiman Kebersihan dan Pertamanan di Singosari.

Karena uang tersebut dinilai terlalu besar, Subur terpaksa meminjam kepada beberapa Ketua RT, hingga terkumpul Rp 750 Ribu. Menurutnya, uang tersebut dibayarkan kepada staff UPTD bernama Mustofa Heru P.

“Saya membayar uang gerobak itu sekitar bulan Januari 2008 lalu, karena diwajibkan membeli oleh UPTD. Tapi entah kenapa dalam kuitansi ditulis sebagai pinjam pakai,” ungkapnya kepada Malang Post kemarin.

Meski memberatkan, namun Subur terpaksa membayar meski dari uang pinjaman karena dia butuh pekerjaan. Bukan itu saja, setelah gerobak didapat, ternyata Subur wajib membayar biaya angkut sampah ke TPA Song-song. Menurut Subur, selain dirinya masih ada satu pengangkut sampah yang diwajibkan membayar.

“Ada dua pemegang gerobak yang ditarik sekitar Rp 200 Ribu – Rp 250 Ribu, untuk jalan Kauman dipungut Rp 150 Ribu per gerobak sedangkan Jalan Wijaya ditarik Rp 125 Ribu per gerobak. Tapi untuk Jalan Wijaya dibayar sendiri oleh Ketua RT-nya,” papar pria berkumis itu.

Sementara itu Ketua RW 4 Yuli Martoto menyatakan prihatin dengan biaya gerobak dan biaya angkut sampah tersebut. Dia bersama tujuh Ketua RT meminta pemerintah Kabupaten memberi penjelasan mengenai dua program itu. Pria yang akrab disapa Totok itu mengatakan, biaya pembelian gerobak dan biaya angkut sampah amat memberatkan bagi para Subur dan rekannya.

“Di RW 4 ini ada sekitar 635 KK, setiap 100 KK membayar biaya angkut sampah Rp 6 Ribu. Tarik hingga Rp 250 Ribu dari UPTD membuat pemasukan pekerja berkurang, kami minta penjelasan dari Pemkab,” tegasnya. Sementara itu secara terpisah Kepala Dinas Cipta Karya yang membawahi UPTD Permukiman Kebersihan dan Pertamanan hingga tadi malam tidak bisa dihubungi via ponselnya. Begitu juga dengan staf UPTD di Singosari yang saat didatangi kantornya sudah tutup.(ary/eno)
(Ary Wicaksono/malangpost)

About these ads

Tinggalkan komentar

Filed under Malang, Malang Raya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s