Apakah anda tahu penyakit pembunuh nomor satu di dunia saat ini? Dan bagaimana cara mengantisipasinya? Sebagian besar masyarakat pasti tahu dan mengenal dengan baik Penyakit Jantung Koroner (PJK). Karena penyakit ini diidap oleh sekitar 15 juta orang di Indonesia dan merupakan penyebab kematian nomor 1 di dunia hingga tahun 2008 ini. (Data sekretariat DepKes 1992).

Demikian pengantar diskusi kesehatan bertema “Sayangi Jantung Anda” bersama dr. CT. Tjahyono, M.Kes, SpJP, Divisi representatif dan Rehabilitasi Kardiovaskular, SMF Kardiologi dan Kedokteran Vaskular, Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya (FKUB) Rumah Sakit Saiful Anwar (RSSA) dalam Diskusi Panel yang digelar Malang Post bekerjasama dengan Laboratorium Klinik Pattimura, di Hall Malang Post, Sabtu (28/6) kemarin. Kegiatan ini merupakan wujud kepedulian Korane Arek Malang ini terhadap kesehatan masyarakat dan memperingati HUT ke 10 Malang Post.

Sebenarnya apa PJK itu? Penyakit Jantung Koroner adalah penyakit yang disebabkan oleh adanya penyumbatan atau penyempitan pembuluh darah koroner di Jantung akibat penggumpalan darah pada arteri, yang menyebabkan otot jantung mati.

“Karena Pembuluh darah koroner itu sendiri berfungsi untuk memberi makan dan penyalur oksigen ke otot-otot dalam jantung, jadi saat ada penggumpalan darah, berupa kerak-kerak yang melapisi sisi dalam pembuluh, yang menyebabkan terhentinya pasokan darah dan oksigen tidak bisa berjalan, “ jelasnya.

Ada beberapa faktor yang bisa menjadi penyebab PJK. Pertama, faktor genitas atau keturunan, kedua hipertensi atau tekanan darah tinggi, kegemukan, diabetes atau kencing manis, serta tingginya tingkat kolesterol, dan penyakit ini juga sebagian besar atau 70 persennya menyerang bapak-bapak karena perokok, dan menjadi 50: 50 pada kaum perempuan pascamenoupose.

“Maka ketika ada orang tua kita yang mati secara mendadak pada umur yang masih cukup muda, maka siap-siaplah. Sebab kita juga bisa jadi mengidap penyakit yang sama juga,” terang Cholis, panggilan akrab dr. CT. Tjahyono.

Sedangkan gejalanya sendiri, biasanya pengidap merasakan nyeri di dada, di belakang tulang dada, terasa seperti diremas, ditusuk. Kemudian rasa sakit itu menular ke bagian tubuh yang lain, seperti di leher, rahang, bahu, pergelangan kaki, jari-jari, dan ulu hati. “Sakit di daerah ulu hati ini orang biasanya mengidentifikasi penyakit ini sebagai penyakit lambung biasa atau maag, dan diikuti oleh rasa sukar bernafas atau sesak nafas, keringat dingin, dan wajah menjadi pucat,” tambahnya lagi.

Memang, fungsi jantung yang sangat fital melihat, denyut normalnya mencapai 70 kali permenit, dengan 5 liter darah curah jantung, dan berdenyut 100 ribu kali perhari ini, mengundang beberapa pertanyaan dari puluhan peserta yang hadir. Diantaranya tentang kapan dan berapa kalikah harus melakukan pemeriksaan terhadap jantung ini. “Paling tidak mulai menginjak umur sekitar 35 tahun, usahakan melakukan general check up satu kali dalam setiap tahunnya,” jawabnya.

Tetapi, anda tidak perlu khawatir pungkas Cholis, karena PJK ini bisa dicegah dan bisa diobati. Pertama-tama yang harus dilakukan adalah mengurangi faktor-kaktor risiko. Kedua kenali gejala atau tanda serangan jantung, dan berusahalah untuk bersikap tenang dan tidak panik. “Saat menemui penderita serangan jantung, pertama harus pastikan daerah keluhan, merasa yakin bahwa itu serangan jantung, panggil dokter, dan berikan aspirin untuk dikunyah,” sarannya.

Dan untuk penderita PJK yang sudah akut dan mengalami penyumbatan 40 persen bisa dengan kateterisasi. Yaitu memberikan semprotan zat kontras, dan untuk penggumpalan penuh bisa dengan operasi.

Selain itu, dalam Diskusi Panel Sayangi Jantung Anda, Malang Post juga memanjakan para peserta. Yaitu gratis pemeriksaan laboratorium, menyangkut pengukuran kadar lemak tubuh, golongan darah, dan gula darah sesaat, dan beberapa fasilitas lainnya.(mp-16/lim/malangpost)