Panitia bersama SNM-PTN (seleksi nasional masuk-perguruan tinggi negeri) merancang unit crisis center menyambut ujian tulis pada 2-3 Juli mendatang. Unit yang menangani berbagai masalah dan keluhan peserta SNM-PTN lokal Malang itu berada di tiga kampus. Yakni, Universitas Brawijaya (UB), Universitas Negeri Malang (UM), dan Universitas Islam Negeri (UIN) Malang.

Ketua Panitia Bersama Bambang Suharto menjelaskan, crisis center itu dirancang untuk mengatasi persoalan-persoalan di luar rencana atau dugaan. “Kami tak bisa memprediksi apa yang terjadi saat ujian. Karena itu harus ada persiapan khusus,” ujarnya, di sela-sela pengembalian formulir pendaftaran SNM-PTN di gedung Samantha Krida UB, kemarin.

Mengaca tahun lalu, kata Bambang, banyak sekali peserta ujian masuk PTN yang mengalami beberapa masalah. Salah satunya seperti kartu ujian tertinggal. Tak sedikit juga kartu hilang atau terselip sehingga tak bisa ditemukan hingga keterlambatan. Belum lagi, kata dia, soal peserta yang sakit mendadak dan persoalan teknis lainnya. “Sekarang saja sudah banyak peserta yang kehilangan kartu ujian. Ada juga yang operasi di rumah sakit,” terang PR I UB ini.

Karena itu, dia mengimbau bagi peserta SNM-PTN yang kehilangan kartu ujian langsung melapor ke bagian unit ini. Caranya, sebelum bel masuk ujian, peserta yang bermasalah harus mencari koordinator pengawas (koorwas) ruangan. Intinya, melaporkan kondisi sebenarnya.

Sedangan pengurusan tidak harus saat itu juga, tapi peserta harus masuk ruangan dan mengerjakan soal terlebih dulu setelah mendapat rekomendasi koorwas. Baru setelah ujian tuntas, kartu ujian yang hilang diproses. “Ini untuk mencegah terjadinya perjokian. Karena itu, kartu hilang harus segera diurus,” tegas dia.

Berdasarkan jadwal ujian, lanjut dia, hari pertama pada 2 Juli nanti semua peserta dihadapkan dengan tes pengetahuan umum. Di hari kedua dihadapkan dengan tes spesifik berdasarkan program pilihan.

Untuk lokasi disebar berdasarkan tanggung jawab masing-masing program. IPS misalnya, program ini di bawah tanggung jawab UB. UB sendiri memfokuskan sebaran lokasi ujian di seluruh komplek gedung kampus. Termasuk dengan gedung pascasarjana.

Langkah itu juga ditempuh UM yang membawahi program IPC. Semua peserta IPC disentralkan di kampus setempat. Sementara untuk IPA di bawah kendali UIN ada sekitar 10 lokasi yang dimanfaatkan. (selengkapnya lihat grafis). “Sebelum ujian berlangsung, sebaiknya semua melihat lokasi dulu. Dengan begitu saat ujian berlangsung tidak bingung,” tandasnya.

Sementara itu, berdasarkan pantauan di lapangan, teknik informatika tetap menjadi pilihan pertama calon mahasiswa. Tidak hanya di UB, UIN, atau UM. Tapi, hampir semua pilihan di lintas wilayah ataupun di wilayah timur.

Selain teknik informatika, fakultas kedokteran juga menjadi pilihan tertinggi, menyusul kemudian S1 PGSD dan jurusan sastra Inggris UM, baru fakultas ekonomi. “Tren-nya memang sedang di informatika dan kedokteran. Jurusan lain hanya pilihan kesekian,” tambah Ari Wahyudi, panitia bagian pengembalian formulir IPS ketika ditemui di gedung Samantha Krida kemarin.

Sedangkan hari terakhir kemarin, total formulir terjual mencapai 18.944 lembar dari 22 ribu yang disediakan. Dari jumlah itu, baru 18.622 telah mengembalikan formulir. Data itu di-update per pukul 17.00 kemarin. (nen/ziz/jawapos)