
Rumah keluarga Jaiz, si tukang ojek yang tewas bersama istri, anak dan keponakan dalam kecelakaan beruntun di Purwodadi Pasuruan, Senin (7/7) kemarin
Ratusan pelayat datang berduyun-duyun, silih berganti, ke rumah yang di kontrak keluarga Jaiz, selama lima tahun itu.
Air mata masih menghiasi wajah, Asmunah (80), ibu kandung Jaiz, setiap bersalaman dengan para pelayat yang datang silih berganti. Ibu empat anak itu sangat terpukul dengan kematian putra bungsunya yang dekat denganya semenjak ia kecil.
Asmunah yang duduk di teras rumah duka berwarna hijau itu, dengan berlinang air mata menceritakan, dia tak menyangka putranya yang di waktu kecil, sering menangis ketika ditinggal ke sawah untuk bercocok tanam, tewas mengenaskan beserta dua orang yang dicintainya. Khusnul Khotimah (40) dan cucunya Luluk Ulfatun Nadiro yang masih duduk di SDN Kota Lama 5 Malang.
‘’Kulo niku sak durunge kejadian, sampun nggadahi firasat ten ati kulo niku wonten nopo. Kulo kejuten terus bengi sak derenge kejadian niku,’’ ujar wanita yang bercerai dengan bapak kandung Jaiz, saat Jaiz masih dalam kandungan.
Duka Asmunah begitu dalam, ketika ia teringat masa kecil Jaiz yang sudah sengsara sejak di kandungannya yang berumur tujuh bulan, karena ditinggal bapaknya Ningram. Bahkan ejak saat itu Asmunah membesarkan Jaiz sebagai single parent.
Ningram menikahi wanita bernama Tayib dan membawa ketiga saudara Jaiz, yakni Mustofa, Lasiyah, Ishaq, untuk tinggal di desa Lepu kecamatan Sumber Manjing Wetan, Kabupaten Malang.
‘’Saya ingat adik saya itu. Ketika ia masih kecil, ia sering saya gendong ketika menangis karena ingin ikut ibunya kerja di sawah, itu waktu dia umur tiga tahun,’’ ungkap H Mustofa, kakak pertama Jaiz.
Jaiz pun hidup bersama ibunya berdua. Begitu sengsaranya kehidupan mereka, hingga Jaiz pun, harus putus sekolah saat ia duduk di bangku Madrasah dan membantu ibunya berjualan.
Cukup lama Jaiz berada dirumah, hingga pemuda tanggung itupun bosan dan memohon restu ibunya untuk berangkat ke kota Surabaya, mengadu keberuntungan.
Dikota Surabaya itulah, Jaiz selama 7 tahun menjadi tukang becak dan berhasil menyunting Khusnul Khotimah pujaan hatinya. Tak lama setelah berkeluarga dan tinggal di Surabaya, Jaiz kembali ke Malang untuk berjualan bakso di sekitar Kota Lama. Namun usaha yang dilakoninya bersama istrinya selama lima tahun, mengalami kerugian dan harus gulung tikar.
Jaiz pun putar otak dan berangkat bersama istrinya untuk menjadi sopir, sedangkan istrinya sebagai pengurus rumah seorang saudagar kaya di Uni Emirat Arab selama 3 tahun.
Sepulang dari Uni Emirat Arab, Jaiz menyewa tempat tinggal di Jl Muharto Gang 5 Rt 9/ Rw 8. dan bekerja sebagai tukang ojek yang mangkal disekitar gang tersebut.
Dengan kondisi prihatin seperti itu, wajar jika tangis keluarga serta pelayat semakin menjadi-jadi ketika pukul 24.00 Senin malam kemarin, saat jenazah Jaiz datang dari rumah sakit Bangil Pasuruan.
Mereka tak kuasa melihat ayah ibu dan anak terbujur kaku diruang tamu, terbungkus kain kafan putih yang diletakan berjejer, ketiga jenazah itu disemayamkan dirumah duka untuk dikuburkan esok harinya.
Lantunan ayat suci alquran terus dikumandangkan di rumah duka, hingga pagi menjelang. Beberapa pria tampak berjaga-jaga di depan rumah menunggu esok hari.
Tepat pukul 06.00, Selasa (8/7) kemarin, jenazah satu keluarga itupun dimakamkan di TPU Sukorejo di Jalan Muharto. Jenazah Luluk dan ibunya di kubur berdekatan sedangkan Jaiz.
‘’Begitu jenazah Jaiz datang, saya pegang di bagian kepalanya, saya raba ternyata kepalanya sudah gak ada, hancur,’’ ungkap Mustofa sambil mengusap airmata, sesaat setelah jenazah di kuburkan.
Sedangkan Alda 7 tahun keponakan Khusnul yang berasal dari Surabaya, yang sedang liburan di tempat budenya Khusnul Khotimah dan ikut meninggal dalam kecelakaan tersebut, langsung dikirim ke Surabaya untuk dimakamkan oleh pihak keluarga.
Belum berhenti Mufaridah menangisi ibunya, wanita 23 tahun itupun mengaku tidak ada firasat apapun akan kehilangan ayah, ibu, serta adiknya itu. Ia terakhir bertemu kemarin ia bersama suaminya membantu pindahan rumah keluarganya itu di kawasan Mbareng kota Malang.
“Saya dan Istri bertemu dengan ayah, ibu serta adek kemarin minggu, saat itu say bantu-bantu untuk pindahan rumah yang rencananya rumah barunya hari ini (selasa 8/7) ditempati, saya benar-benar gak menyangka jadi seperti ini,’’ ujar Budi menantu korban pada Malang Post.
(rendi Sebastian ramadhan/malangpost)