Peserta UNPK Paket C nampak malu saat difoto dalam ujian kemarin. (Lailatul Rosida/Malang Post)

Peserta UNPK Paket C nampak malu saat difoto dalam ujian kemarin. (Lailatul Rosida/Malang Post)

Ikut Ujian Nasional Pendidikan Kesetaraan (UNPK) Paket C bagi beberapa orang masih dianggap kurang membanggakan. Buktinya, banyak yang malu dan menutup muka saat akan difoto. Rasa malu itu karena terbukti mereka tidak lulus Ujian Nasional (UN) dan harus ikut pendidikan non formal. Walaupun sebenarnya, ijazah warga belajar WB, (istilah siswa kejar Paket, red), sudah disetarakan dengan ijazah siswa sekolah formal.

“Tandatangan di ijazah mereka saja ditandatangani kepala dinas pendidikan (Disdik), jadi tidak ada alasan untuk malu,” ungkap Urusan Pendidikan Luar Sekolah (PLS) Disdik Kota Malang, Budiono kepada Malang Post, kemarin.

Tidak hanya itu, pemegang ijazah UNPK Paket C ini pun memiliki hak yang sama untuk mendaftar di manapun. Di perguruan tinggi negeri (PTN) pun bisa, juga di instansi pemerintahan yang lain. Karena itu, ia berharap WB serius dengan UNPK sehingga bisa segera memperoleh ijazah tersebut untuk melanjutkan ke jenjang berikutnya.

Sementara itu, pada pelaksanaan UNPK Paket C kemarin, ada dua peserta yang tidak hadir. Satu peserta karena mengikuti ujian khusus di RS Lanud ABD Saleh, dan satu siswa berada di lembaga pemasyarakatan, sehingga terpaksa dinyatakan gugur mengikuti UNPK.

“Kepala SMA inisial DB asal siswa tersebut baru melapor, bahwa muridnya ada di penjara hari ini, sehingga kami tidak bisa menyiapkan petugas ke sana. Terpaksa dia dinyatakan gugur,” tegasnya.

Sementara itu, data awal jumlah peserta mencapai 207 peserta. Terdiri dari peserta IPA 10 orang, dan peserta IPS 197 orang. Ujian setara SMA tahap ke dua ini merupakan penentu apakah peserta yang tidak lulus pada ujian tahap pertama bisa lulus karena kebijakan konversi nilai. Sebab, pada ujian tahap dua ini, nilai yang terbaik yang akan dikonversikan menjadi nilai penentu kelulusan peserta. (oci/udi) (Lailatul Rosida/malangpost)