Menumbuhkan kesadaran berkendara dan berlalu lintas tidak hanya dengan kampanye di jalanan. Strategi dan cara bertindak harus digodok terlebih dahulu dengan melibatkan pihak-pihak intelektual. Khususnya dalam mengatasi kerugian akibat kecelakaan lalu lintas.

Pakar transportasi dari Universitas Brawijaya (UB) Prof Dr Ir Harnen Sulistio MSc memaparkan, tingkat kematian akibat kecelakaan lalu lintas yang telah menjadi masalah sosial ekonomi serius. Di sepuluh negara anggota ASEAN, kerugian yang ditimbulkan oleh adanya kecelakaan lalu lintas sebesar USD 15 milyar. Setara dengan 2,2 persen GDP regional ASEAN. Estimasi kerugian terbesar terjadi di Indonesia yaitu USD 6,03 milyar (2,91 persen dari GDP) sekitar Rp 60 triliun.

Dengan kondisi itu, harus ada perhatian dan upaya sungguh-sungguh untuk mengatasi tingginya kerugian akibat kecelakaan tersebut. Apalagi sampai saat ini, program keselamatan lalu lintas di Indonesia masih bersifat parsial, mengadopsi negara lain. “Belum dibuat perencanaan terintegrasi dan berkelanjutan atau pun road map program keselamatan secara nasional,” ujar guru besar ilmu teknik jalan raya UB ini.

Setelah itu ada paparan rekomendasi program aksi keselamatan lalu lintas oleh perwakilan peserta. Termasuk pilihan-pilihan program yang akan dipromosikan di kabupaten dan kota asal masing-masing.

“Kami berharap bisa tercipta persamaan persepsi dan peningkatan koordinasi dalam mengurangi angka kecelakaan. Pemikiran-pemikiran baru dan strategis juga ditunggu dari agenda ini,” katanya. (yos/lia/radarmalang)