Anak Terlantar dan Sekolah Rusak

Oleh: Kurniawan Muhammad*

KOMEDIAN Kelik Pelipur Lara, di sebuah acara parodi politik di televisi pernah mem buat tebakan: “Me ngapa jumlah fakir miskin dan anakanak terlantar di negeri ini bukannya berkurang tiap tahun, tapi malah semakin bertambah?”. Saat itu, banyak jawaban dilontarkan. Tapi dianggap kurang tepat oleh Kelik. Menurut dia, “Salahnya ada pada UUD negara kita.” Lho kok bisa? “Karena fakir miskin dan anak-anak terlantar menurut UUD dipelihara oleh negara.

Karena dipelihara, ya jumlahnya akan terus bertambah,”Jawaban Kelik, bisa kita sikapi serius, bisa juga disikapi tidak serius. Ketika menyikapi tidak serius, kita anggap saja sebagai guyonan yang menghibur.

Jika menyikapinya secara serius, konsep negara dalam “memelihara” para fakir miskin dan anak-anak terlantar selama ini memang kurang jelas.

Diapakan sebaiknya para fakir miskin itu? Hanya cukup diberi uang tunai ketika harga BBM dinaikkan? Atau mereka dikumpulkan di satu lembaga sosial, lalu diajari ketrampilan tertentu? Cara ini, ada yang diterapkan. Tapi, tak cukup banyak menampung para fakir miskin.

Bagaimana dengan anak-anak terlantar? Sudah adakah konsep pendidikan yang tersistimatis mulai pusat hingga daerah untuk menangani para anak yang terlantar itu?

Sementara, ketika menyaksikan banyaknya anak terlantar di jalan-jalan, mungkin di antara kita ada yang peduli, tapi ada juga yang tak peduli. Mereka yang peduli, ada yang memberi uang recehan. Sedangkan mereka yang tak peduli, bisa karena nggak ada uang recehan, bisa juga karena merasa negara lah yang seharusnya mengurus anak-anak terlantar itu.

Oleh para pendiri negara ini, Indonesia memang dirancang menganut faham welfare state (negara kesejahteraan). Para pendiri negara ini juga me nga manati kepada siapa saja yang menjadi pemimpin, harus memprioritaskan masalah pen didikan (mencerdaskan kehidupan bangsa).

Selain mem per hatikan dan menangani nasib para fakir miskin dan anak-anak terlantar. Di bidang pendidikan, negara masih punya banyak PR (pe kerjaan rumah) yang harus diselesaikan. Salah satunya adalah membangun sekolah yang layak bagi rakyat. Kalau pun sekolah sudah terbangun, tak sedikit sekolah di negara ini yang rusak. Tak percaya? Buka saja Google. Lalu ketik “sekolah rusak”. Maka akan terpapar di depan kita, kondisi sekolah rusak di mana-mana.

Di Banyumas, ada satu sekolah yang terpaksa para muridnya mengerjakan ujian nasional di halaman sekolah karena atap sekolahnya jebol. Di Kabupaten Malang, menurut data dari Dinas Pendidikan setempat, untuk SD, dari 7.764 ruang kelas (dari 1.115 sekolah) yang ada, 482 ruangan di antaranya rusak parah. Sedangkan yang rusak ringan 1.118 ruangan. Untuk SMP, ada 622 ruangan kelas yang rusak. Di Kota Malang, dan juga di Kota Batu, saya yakin, angkanya juga tidak sedikit.

Soal ruang kelas yang rusak parah ini, apakah harus negara atau pemerintah daerah setempat yang menanggungnya? “Kan sudah ada anggarannya…dan itu memang sudah tugasnya negara,”. Mungkin di antara kita ada yang berpendapat seperti itu. Dan hal ini tidak lah salah.

Tapi, sebenarnya, ada satu pertanyaan yang patut dire nung kan: “Ketika kita membaca berita ada sekolah rusak, lalu muridmuridnya menjadi keleleran, dan sampai belajar di halaman, tidak kah nurani kita terusik? Dan tidak kah empati kita terbangun?,”. Apakah kita lantas menjadi cuek dengan fakta tersebut, karena sekolah rusak sudah menjadi kewajibannya negara untuk mengurusnya?

Dalam menyoroti masalah sekolah rusak ini, bagaimana jika kita tidak menggunakan terma negara yang punya kewa jiban, dan rakyat yang punya hak. Coba kita menggunakan terma orang tua dan anak. Coba kita bayangkan, anak-anak yang nasibnya keleleran karena sekolah nya rusak itu, adalah anakanak kita. Anak-anak itu harus terbakar terik matahari, karena bersekolah di halaman. Anakanak itu menjadi terganggu konsentrasinya mengerjakan soal-soal ujian nasional, karena lokasi ujiannya di alam terbuka. Saya dan teman-teman di redaksi Radar Malang, malam itu berdiskusi soal sekolah rusak.

Ketika saya mengusulkan untuk membuat gerakan dari rakyat, untuk membangun sekolah rusak di Malang Raya, ada salah seorang kawan yang ber komentar: “Anggaran untuk membangun sekolah rusak cukup besar. Kita nggak perlu bikin gerakan seperti itu,”. Sekali lagi, pendapat seperti itu, tidak salah.

Tapi, saya mencoba untuk melihat persoalan sekolah rusak ini bukan dari kacamata benar atau salah. Atau bukan dari kacamata: itu sudah menjadi tugas negara. Tapi, saya mencoba untuk mendekatinya dengan “bahasa nurani” dan “bahasa empati”. Dengan bahasa ini, saya berharap bakal ada gerakan yang masif dari para “kaum berada” untuk ikut memikirkan nasib sekolah rusak itu.

Di Cleveland, Ohio, Amerika Serikat, saya pernah mengunjungi sebuah sekolah yang sempat rusak parah karena diterpa angin tornado. Oleh warga di sekitarnya, sekolah tersebut diperbaiki secara swadaya hingga normal kembali. Puluhan tahun lamanya pasca direnovasi, selama sekolah itu berdiri, nama-nama warga yang ikut membangun sekolah tersebut, tercatat, dan selalu dikenang oleh para guru dan murid-murid di sekolah itu.

Di Amerika sana bisa, saya yakin di sini lebih dari bisa. Anda yang tertarik atau tergerak dengan wacana ini, kami tunggu respon dan langkah kongkretnya di email: radarmalang@yahoo.co.id. Apa pun komentar dan respon Anda, akan kami catat, dan akan sangat berarti buat kami.

*) Penulis adalah redaktur Radar Malang

About these ads

1 Komentar

Filed under Pendidikan

One response to “Anak Terlantar dan Sekolah Rusak

  1. rony

    oke mas.. aku ada kenalan orang mau menyumbang untuk sekolah2 yang rusak.. please email me sekolah2 yang kira-kira paling butuh bantuan..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s