70 Persen Mahasiswa Penikmat Dugem

Banyaknya mahasiswa yang mencari kesenangan malam di cafe dan diskotik, ternyata bukan isapan jempol belaka. Buktinya, fenomena yang biasa dikenal dengan Dugem (dunia gemerlap) tersebut menjadi kebiasaan rutin mahasiswa.
Demikian dingkapkan Gilang Desti Parahita, penulis buku “Tuhan di Dunia Gemerlapku” saat ditemui Malang Post seusai acara bedah bukunya di Aula BAU, UMM Jumar (16/5) kemarin.

Menurut cewek yang akrab dipanggil Desti ini, hasil penelitiannya menunjukkan 80 persen mahasiswa pernah memasuki tempat dugem. Bahkan, 70 persen diantaranya termasuk dalam penikmat dugem. Karena itu, dia mengaku prihatin melihat kondisi tersebut.

“Dalam penelitian itu, saya menemukan tiga tipe mahasiswa yang ada di tempat dugem. Pertama, mahasiswa yang dugem karena coba-coba, kedua karena telah terbiasa dan ketiga karena prestise. Dan, 70 persen dari mereka karena terbiasa dan prestise”, tandas Juara Harapan I Puteri Indonesia tahun 2005 itu.

Desti menjelaskan, mahasiswa yang masih dalam kategori coba-coba belum bisa disebut sebagai penikmat dugem. Sebab, mereka belum menjadikannya sebagai kebutuhan yang harus dia penuhi. Namun, untuk mengarah ke level terbiasa atau prestise, kemungkinannya sangat besar.
“Kalau level terbiasa, biasanya sudah menjadikan dugem layaknya hobi yang sulit untuk ditinggalkan. Di tempat dugem tersebut dia sudah memiliki gank atau kelompok. Sedangkan, level prestise lebih banyak menjadikan dugem sebagai gaya hidup”, ujar alumni Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Gajah Mada (UGM) ini.

Hasil penelitian Desti tersebut, diamini Pradana Boy ZTF, pembedah buku. Menurut Boy, fenomena dugem belakangan ini memang sangat melekat dalam diri mahasiswa. Bahkan, dia menanggapi judul buku itu dengan sedikit berseloroh. “Jangan ingat Tuhan kalau sedang dugem. Beragama itu sewajarnya saja, sebab kalau semua yang kita lakukan kita ukur dengan agama, kita akan salah terus. Apalagi dugem”, ujar Dosen Fakultas Agama Islam, UMM itu mengakhiri. (mp-11/udi, malangpost)
(Mp11, malangpost)

15 Komentar

Filed under Pendidikan

15 responses to “70 Persen Mahasiswa Penikmat Dugem

  1. “Hasil penelitiannya menunjukkan 80 persen mahasiswa pernah memasuki tempat dugem”.

    Silogismus-nya mbak puteri Indonesia ini gimana sih. Angka 80% itu di dpt dari mana? Emang mbak sempat nanya KTM-nya?
    Semua yang berembel2 mahasiswa itu mahal mbak, jadi …..Ya iya lah masa’ ya iya dong.

    Masa’ tulisan sekelas Puteri Indonesia, ya iya deh.
    Semoga komentku salah, coz b’lom baca bukunya hi..hi…hik :-)

  2. Dugem memang asyik banget. tapi negatifnya juga banyak. Memang dibutuhkan kontrol diri yang kuat. Dugem gak papa selama ngerti batasannya. Harus diimbangi dengan yang bertolak belakang dengan dunia gembira, misal ikut pesantren, atau mengunjungi panti asuhan, maen ke desa desa di pelosok pelosok yang miskin miskin. Nanti akan bisa merasakan nikmat yang mana…atau lebih tepatnya nanti bisa malu sendiri..aduh gw ngapain aja ya selama ini…

    Ini sebenarnya pengalaman pribadi kekekekek…

  3. rudi prasetya

    dugem emang asik sih..tapi jangan lewat batas n jgn mabuk ..{ntar minumannya ga laku he he he}

  4. Ary nugroho

    sptnya bener juga tuh putri indonesia dng hasil risetnya….tp gmn ya..gw ndiri demen bgt ma yg namanya ”DUGEM”..bwt penghilang penat setelah beraktivitas seharian….ASALKAN yg wajar2 aja kalex..krn gw sadar nie bkn america coy,kta mst pegang adat ketimuran kita….gtctu BO”……

  5. saya sangat kangum dengan hasil penelitian Mbk Gilang Desti Parahita, bagi saya permasalahan otenti tidaknya itu bukan masalah bagi saya, yang terpenting mbk Gilang Desti Parahita sudah mendekripsikan relitas jogja sekarang ini, yang kemudian membuka mata kita semua.
    dengan melihat relitas yang ada di sekitar kita dan apa sebenarnya yang terjadi. ini kemudia hari akan menjadi pelajaran bagi kita semua, bahwasanya pemuda kita sekarang ini mungkin belum sadar secara keseluruhan pada dirinya. lambat laun kekahawatiran terhadap kehilangan jati diri akan terbuka lebar yang berujung hilangnya edentitas keindonesiaan.
    alangkah baiknya jika ramai-rami pemuda menciptaka alternatif tampa haru boros hidonis, konsumeisme. itu semua perlu kita ketahui bahwa kita telah menguntukan budaya asing dengan mengkultuskanya, bisa lewat menggandrumi Gudem dan lain sebagainya. kita boleh mengenal budaya asing dan mencobat selama itu masih wajar dan tidak bertentangan dengan norma lokal, asal tidak fanatisme. kecenderungan anak muda sekarang persentase kepada fanatime sangat banyak, itu sebenarnya yang mbk Gilang Desti Parahita mencoba membuka mata kita untuk melihat realitas sekarang ini agar kita lebih bijak dalam memilih.

    Mbk Gilang Desti Parahita, seumpama mbk tidak keberantan, saya menginginkan data padangan mbk selama melakukan penelitian, karena saya sedang melkukan tugas akhir yang berhubungan prilalaku anak muda sekarang dengan budaya pop / dan berhubungan dengan dugem. mohon kiranya di tangaapi ke alamt saya e-mail: bertanoval@yahoo.co.id

    trimakasih atas ruang blog yang di berikan untuk berpendapat..
    salam

  6. Dugem? Jangan sampai lah. Pernah waktu itu dapat 4 tiket gratis masuk ke diskotik colloseum dari hasil membeli kratingdaeng d PRJ tapi akhirnya ga kepake juga cuz ga da kendaraan. Alhamdulillah Allah masing sayang gw…

  7. Dugem ngapain aja? Gak asik ah…

  8. mgkn krna pengaruh globalissasi,jg lingkungan,tp tegantung individualny,bs ga kita ngontrol diri..ngapain juga dugem mending boboxxxxxxxx…

  9. sbnrny dugem itu asik jg loh,gw kn dah tobat,mslhny bau asap baju klo kluar dr clubny,n mubazir…buang waktu

  10. keNyuTz

    emh gmn y…………………… kya’na y9 nmana DUGEM tuh dah jd komsumsi publik bgt,gmn gak!lha wong jgankan anak kuliahan,anak SMA ato Bahkan SLTP ja dah bsa masuk tempat kya gthu……nah lho gmn cb??

  11. Wah bicara soal dugem,… kebetulan gue punya film dokumenternya nih,… AMPUN DJ

  12. mahasiswa = sex bebas

  13. dugem klo ga bisa jaga diri habis d

  14. Assalamu’alaikum wr.wb.
    Selamat beribadah di bulan suci Romadlon ya mbak Desti… udah taroweh dan tadarrus, di dunia gemerlap itu juga ada tarowih dan tadarrus nggak, 80% para pemikir pemula alias mahasiswa berpengalaman berziarah ke Dugem, sekedar ziaroh sih saya pikir perlu agar nggak ketinggalan berfikir alias telmi, apalagi yang suka bahas hukum agama termasuk Mas Dosen itu, perlu tahu deh agar tidak salah memberikan hukumnya, jangan-jangan semua haram, seperti mereka yang mengharamkan facebook itu, yaiyalah maklum, belum tahu yang sebenarnya udah kasih putusan, ibarat kisah empat orang buta menamai seekor gajah, tapi berbeda-beda karena merekaq hanya menamainya apa yang dia rasakan aja.. “Wala Taqfu Ma Laisa Laka Bihi ‘Ilmu”, kita deh udah diajari sama Tuhan bahwa bila belum ngerti betul nggak usah ikut ngomong, apalagi membuat sebuah statment hukum, kenapa demikian ? kullun lil ibahah illa ma waroda ‘alaihi addalil bitahrimihi.Mbak Desti semoga yang 80% itu tidak sampai masuk ke Duzin…”Dunia perzinaan”, baik sesama mereka atau dengan yang profesional alias profesor di duzin itu.
    Wassalamu’alaikum wr.wb.

    • Subhanallah..kalau kita lihat kehidupan mahasiswa yang imannya mulai tergoyahkan oleh kondisi masa kini dengan perkembangan Informasi Tehnologi yang cukup canggih, kita hanya mengarahkan, membinbing, menasehati dan mencegah dengan penuh kearifan, apa yang kita mau saat ini sangat mudah didapatkan apalagi dengan duit, mau google search pendorong nafsu sex jenis dan bentuk apa saja cukup satu dua detik kita peroleh, ebook tersedia, isinya menggaerahkan, blogger sensual, situs-situs yang katanya sejak 1 April 2008 yang lalu nggak bisa membuka yang berbau nude and purn dllsb. ternyata nggak seberapa effektif, tulisan pembangkit tenaga listrik alat vital manusia sangat mudah didapat,erotisme berserakan di sekeliling kita, miss-miss maksiat bertebaran di seluruh layar-layar baik kaca,plastik,tenda kain, bahkan cukup dengan HP kita… ya udahlah berdo’a aja.. saya salut sama mbak Desti sempat meneliti hal itu untuk pengembangan pengetahuan kita semua, tapi tak perlu tangan kita dicelupkan ke api kalau hanya ingin tahun dan meneliti bahwa api itu betul-betul panas… Oh DUGEM.. oh Dunia Zukhruf…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s