Penambang Pasir Kali Brantas dirazia

Razia terhadap penambangan pasir di Sungai Brantas yang dilakukan puluhan personil Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Pemerintah Kabupaten Kediri berhasil mengamankan 8 mesin penyedot pasir di kawasan Desa Wanengpaten, Kecamatan Gampengrejo, Kabupaten Kediri, Rabu (4/6). Sayangnya, tidak seorangpun penambang bisa ditangkap karena melarikan diri dari kejaran petugas.

“Delapan mesin yang kami amankan ditemukan di tiga lokasi di Desa Wanengpaten. Kami sempat mengalami kesulitan karena medan cukup berat dan lokasi antar mesin berjauhan,” kata Kepala Seksi Perundang-undangan Satpol PP Pemkab Kediri, Agung Retmono usai melakukan razia.

Kesulitan yang dialami para petugas juga disebabkan beratnya mesin sehingga cukup merepotkan saat diangkut ke truk Satpol PP yang tidak bisa mendekati bibir sungai. Selanjutnya mesin-mesin itu diamankan di kantor Satpol PP. Setelah dilakukan pendataan spesifikasi mesin dan kondisi teknis, mesin itu rencananya akan dikirim ke Pemerintah Provinsi Jawa Timur di Surabaya.

Menurut Agung Retmono, dasar yang dilakukan untuk melakukan razia adalah Peraturan Daerah No 1/2005 tentang galian C di kawasan Sungai Brantas. Dalam aturan itu disebutkan, penambangan pasir dilarang menggunakan mesin penyedot. Pelarangan itu karena penambangan pasir dengan mesin telah merusakan kawasan Sungai Brantas.

Bulan Mei 2008 lalu Satpol PP Pemkab Kediri berhasil merazia 10 mesin diesel penyedot pasir. Petugas juga tidak bisa menangkap seorangpun pelaku penambang pasir. Sebelumnya, pada bulan Juli 2007, operasi gabungan antara Pemkab Kediri, Satpol PP Provinsi Jawa Timur, Satpol PP Pemkab Kediri dan Polres Kediri berhasil mengamankan 50 mesin.

Dari analisa tim Badan Koordinator Wilayah (Bakorwil) Bojonegoro yang membawahi Kabupaten/Kota Kediri, Mojokerto, Jombang, Bojonegoro, Tuban dan Lamongan, kerusakan Sungai Brantas sudah sangat parah, lebih parah dibanding Sungai Bengawan Solo. Kerusakan itu murni akibat penambangan pasir mekanik.

Di sepanjang aliran sungai yang bermata air di Gunung Arjuno, Malang itu, kondisi bantaran sudah banyak yang longsor dan hancur tergerus penambangan pasir. Hal itu membahayakan bangunan dan pemukiman warga yang berada di sepanjang aliran Sungai Brantas. Dalam waktu yang tidak terlalu lama, daratan-daratan di tepi Sungai Brantas akan longsor.

Sejumlah kawasan yang mengalami kerusakan parah akibat penambangan pasir adalah, Kecamatan Gedek, Mojokerto dan tiga kecamatan di Kabupaten Kediri, yaitu, Mojo, Gampengrejo dan Purwoasri.

Daerah aliran sungai Brantas seluas 12.000 km2 atau 25 persen dari luas Jawa Timur. Total panjang sungai 320 km, mengitari Gunung Kelud dan membentang mulai wilayah Malang, Blitar, Tulungagung, Kediri, Jombang, Mojokerto dan bermuara di Surabaya. DWIDJO U. MAKSUM-KoranTempo

Tinggalkan komentar

Filed under Malang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s