Dibalik Pembuatan Film “The Dream of Batu”

Bukan hanya potensi alam yang diangkat Atin Martino untuk pembuatan film The Dream of Batu yang disutradarainya. Hampir 95 persen pemain dalam film yang akan dimulai syuting pertengahan Juli mendatang ini adalah putera daerah Kota Batu. Alasannya, banyak warga yang memiliki potensi untuk menjadi pemain film. Kemampuan mereka tidak kalah dengan artis ibukota.

UNTUK pembuatan film ini, Atin tidak main-main. Dia melakukan berbagai sigi untuk melihat potensi yang ada di Batu. Bukan hanya soal keindahan alamnya, tapi juga kemampuan warga Batu dalam bidang acting. Hasilnya, sunggung mencengangkan Atin.

“Saya sigi sejak empat bulan terakhir. Banyak tempat sudah saya datangi dan ngobrol dengan penduduk. Saya melihat, potensi di Batu ini bukan hanya pada keindahan alamnya, tapi juga kecerdasan penduduknya. Saya banyak melihat orang cantik dan ganteng, dengan pengetahuan yang cukup luas. Itulah yang menjadi alasan saya menggunakan arek Batu untuk bermain dalam film saya,”katanya saat jumpa pers film The Dream of Batu di Royal Orchid Garden kemarin.

Orang yang akan dipilih menjadi pemeran utama filmnya itu tentu bukan sembarang orang. Untuk menemukan sosok dan karakter yang tepat dia akan membuka audisi. “Dari audisi itulah, akan mendapatkan orang yang tepat memerankan tokoh utama,” ucapnya sembari mengatakan pendaftaran audisi ditutup pada 25 Juni mendatang, dan audisi dimulai Kamis (26/6) nanti.

The Dream of Batu merupakan film semi documenter yang bertujuan untuk mengangkat potensi Kota Batu. Bukan hanya kepada publik nasional tapi juga internasional, karena Kota Batu akan menjadi tujuan wisata. “Di sini banyak potensi yang dapat diangkat. Mulai dari pariwisata, budaya, religi, ataupun edukasi, semuanya bisa dijual”, tambah Atin.

Meskipun film ini berlatar belakang potensi Kota Batu, tapi penggarapannya tidak sembarangan. Agar The Dream of Batu menarik perhatian, disisipi cerita asmara sebagai bumbu. “Kalau kita hanya mengenalkan keindahan alam, tanpa alur cerita, sudah pasti penonton akan bosan dan saya yakin tidak bakalan dilihat orang. Tapi jika ada alur cerita yang menyertai, dengan penggarapan yang all out, saya sangat yakin, penonton dapat mencerna. Itu sebabnya film ini masuk kategori dokumenter,” ucap sutradara yang juga pemain sinetron Pendekar 212 Wirosableng itu.

Atin yang ditemani Pungky Kusuma, general manager Royal Orchid Garden, dan dr Jermy Octavianus ketua umum pembuatan film The Dream of Batu, menceritakan isi film. Diawali munculnya Vega (diperankan oleh Tyas Mirasih), salah satu mahasiswa yang melakukan riset di Kota Batu, bersama tujuh temannya. Agar risetnya berjalan lancar, tanpa gangguan, Vega dan teman-temannya mengahap Wali kota, sekaligus meminta izin. Wali kota (yang rencananya akan dimainkan sendiri oleh Eddy Rumpoko) menyambut baik, dan memberikan guide beranam Leon (belum ditentukan pemerannya) untuk kelancaran riset delapan mahasiswa tersebut.

Kehadiran Leon sama dipandang sebelah mata oleh delapan mahasiswa tersebut. Mereka menganggap Leon adalah pemuda kampung yang tidak memiliki pengetahuan apa-apa. Pikiran para mahasiswa ini sedikit demi sedikit berubah, setelah Leon mampu menginterpretasikan tempat-tempat yang dituju dengan bahasa yang cerdas.

Vega yang tadinya memandang Leon pemuda kampung pun mendadak jatuh cinta, setelah mendapatkan pertolongan dari pemuda ini. Sikap heroik Leon yang mampu merebut kembali kalung, uang dan kamera milik Vega dari tangan preman, membuat Vega jatuh hati. Tapi saat itu, ada gadis lain yang juga menyimpan perasaan yang sama dengan Leon.

Vega tidak bisa melupakan Leon dan betul-betul jatuh cinta. Itu sebabnya dia memilih ingin tinggal di Kota Batu, demi kekasihnya itu. Tapi sayang, niat tersebut tidak direspon baik oleh tujuh temannya yang memaksa Vega pulang ke Jakarta.

Leon pun mengantar kepergian Vega kembali ke Jakarta. Saat di Bandara, Leon memberikan buku kepada Vega. Sebelumnya Leon berpesan agar buku tersebut dibaca saat di dalam pesawat.
Vega tertegun dengan isi buku Leon yang berisi hasil riset Leon untuk mendapatkan gelar sarjana. Ternyata riset itu sama dengan riset yang dilakukannya bersama tujuh mahasiswa temannya.
Vega memutuskan kembali ke Kota Batu, setelah bertahan seminggu di Jakarta. Tapi sayang, dia tidak pernah bertemu dengan Leon. Dalam pencariannya, Vega akhirnya tahu Leon mengantarkan adiknya yang mendapatkan bea siswa untuk melanjutkan sekolah ke Amerika. Sebelumnya, adik Leon memenangkan lomba Olimpiade pendidikan dan mendapatkan juara satu.

“Film ini akan dibuat dengan teknik digital agar gambar yang dihasilkan sempurna. Kami juga menyewa helikopter untuk mengambil gambar dari atas. Agar film ini terkesan mewah, kami memakai kendaraan Cargo M 75 buatan Amerika dan Apace,” katanya yakin jika film ini akan meraih sukses.

Terkait dengan penayangannya, Atin memilih media TVRI dengan alasan TVRI bisa menjangkau seluruh wilayah Indonesia. Untuk pasar luar negeri, dia menyediakan dubbing suara untuk beberapa bahasa. “Target kami film ini akan diputar di Jepang, Malaysia, Singapura, Inggris, Australia dan Hongkong,” katanya.(ira) (Ira Ravika-malangpost)

4 Komentar

Filed under Batu, Malang Raya

4 responses to “Dibalik Pembuatan Film “The Dream of Batu”

  1. Beatrix de Rozari

    Apakah akan ada audisi untuk dubbing nya? Saya berminat deh ^_^
    Mohon infonya dong ke labradorism@yahoo.com.
    Makasih…

  2. gerrybrown

    Wah. .
    Buat penggemar film dokumenter, film yang satu ini layak ditonton nieh. .apabila ditambah dengan bumbu cerita asmara.
    Ayo,buat Indonesia terkenal !
    Love Indonesia!

  3. emaNg bKlaN bGus bGt tu fiLm,,,

    paLagI yG bkLan jD pmEran Na tmN aQ
    za AllaH pSt kRen bGt tmN ku tu,,,

    tLonG z sLAmiN baT V-TRA,,,
    good luCk,,,,,’

    N don’T foRgeT mE,,,,,,

  4. Nancy

    Hi, pak pungky ya??? ini nancy (silae).. moga masih ingat.. how are u, sir ? btw saya mau konsul soal manajemen nich pak… boleh kan??? kirim e-mail balasan ya ke alamat emailku… tq so much …

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s