Entrepreneurial University


Kalau saat ini pengangguran intelektual yang dicetak perguruan tinggi jumlahnya sangat banyak, diprediksikan jumlah tersebut akan berkurang pada 20 tahun mendatang. Itu jika perguruan tinggi mulai menggunakan prinsip entrepreneurial university (EU).

Begitu diungkapkan Ketua University of Brawijaya Entrepreneurship Education (UBEEC) Dr Ir Liliek Setyobudi MS dalam seminar nasional Entrepreneurial University yang digelar Badan Pemerintahan Mahasiswa (BDM) Republik Demokrasi Mahasiswa (RDM) Fakultas Hukum Universitas Brawijaya (UB) Kamis (12/6), di Widyaloka UB kemarin.

“Entrepreneurial University ini sebenarnya sudah dimulai tahun 2000 lalu di UB, dan kini semakin mantap dengan dibangunnya gedung Inkubator Bisnis (Inbis). Harapannya universitas ini mampu mencentak mahasiswa yang bisa membuka lapangan kerja sehingga pengangguran intelektual itu bisa dihilangkan,” tegasnya.

Hadir pula dalam kesempatan tersebut, Musfihin Dahlan, anggota DPR RI Komisi X Fraksi Partai Golkar. EU ini aplikasinya tercermin dalam kurikulum. Dimana kurikulum PT didesain dengan tiga hal yaitu to know, to be dan to do. To know sifatnya wajib untuk mahasiswa. Harapannya setelah tahu dan belajar mahasiswa diajak untuk mempraktikkannya. Dengan konsep ini pula menurut dia pembelajaran akan lebih menyenangkan. Tidak seperti sekarang, dimana konsep pembelajaran membuat orang menjadi stres.

Sementara Musfihin Dahlan menuturkan, selama ini masyarakat percaya bahwa perguruan tinggi merupakan instrumen paling efektif untuk melakukan transformasi dari kebodohan menjadi tercerahkan, dari terbelakang menjadi maju dan dari miskin menjadi sejahtera.

Ia mengungkap fakta terkait survei angkatan kerja nasional yang mencatat 740.206 atau 7,02 persen pengangguran Indonesia yang diisi kaum intelektual. “Ironis sekali kelompok elit yang mestinya dapat melakukan perubahan besar dan menjadi sumber daya paling potensial ternyata menjadi beban sosial karena mengganggur”, ujarnya.

Karena itulah Anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi Golkar ini menyatakan, dibutuhkan kebijakan pendidikan tinggi yang tepat untuk mengatasi hal ini. Di antaranya pemetaan kebutuhan dunia kerja dan lulusan perguruan tinggi, memperbaiki sistem pengajaran serta memperkuat kewirausahaan. (oci/lim) (Rosida/malangpost)

Tinggalkan komentar

Filed under Malang, Pendidikan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s