Manfaatkan Identitas Palsu, Pembobol Kartu Kredit BII Dibekuk

Sepasang suami istri, Trianggono (45) dan Yuli Krisnawati (36), kemarin terpaksa diamankan petugas reskrim Polsekta Blimbing. Warga Perum Pondok Sedati Asri Blok D, Kelurahan Pepe, Kecamatan Sedati, Sidoarjo ini, terlibat aksi pembobolan kartu kredit (KK)sejumlah bank.

Pasutri itu tidak hanya melakukan aksi di Malang, tapi sudah merambah sejumlah wilayah di Jawa Timur, keduanya langsung digelandang ke Polda Jatim. Hal ini untuk mengembangkan penyidikan karena diperkirakan masih ada anggota komplotannya yang berkeliaran di luar.

‘’Kami mohon maaf, karena kasus ini masih dalam taraf penyelidikan dan pengembangan, maka agar tidak diekspos dulu. Selain itu juga masih banyak pelaku yang diluar. Mohon, kami diberi waktu, agar semua pelaku dapat diamankan,’’ ungkap Kapolsekta Blimbing AKP Abdul Hadi kepada wartawan yang berusaha kemarin.

Selain mengamankan pasutri itu, petugas juga menyita barang bukti 15 ponsel berbagai merek, puluhan sim card, baik baru maupun bekas, tujuh charger ponsel, uang Rp 1,3 juta, satu bendel blangko permohonan kartu kredit, kartu ATM berbagai bank, puluhan kartu kredit, dan puluhan KTP, atas nama yang berbeda-beda.

‘’Kami mengamankan pasutri ini dari Jalan Warinoi IV Malang. Keduanya sedang menginap di rumah Sugeng, tapi apakah Sugeng ikut terlibat dalam kasus ini atau tidak kami, masih melakukan penyelidikan,’’ terang salah satu petugas Polsekta Blimbing, kepada Malang Post kemarin.
Kasus ini terungkap setelah warga di Warinoi, curiga dengan keberadaan pasutri ini. Masalahnya, selain tidak izin dengan ketua RT/RW setempat, tindak-tanduk keduanya juga sangat mencurigakan. Warga pun melapor ke petugas.

Petugas yang mendapat laporan seketika tanggap. Dipimpin Kapolsekta Blimbing, AKP Abdul Hadi, polisi langsung mendatangi rumah Sugeng, yang dijadikan tempat menginap. Mulanya keduanya berbelit-belit saat ditanya seputar keberadaan mereka di Kota Malang. Namun setelah didesak, kedua mengakui, selama ini menjalankan kegiatan sebagai pemalsu identitas.

Dengan kartu kredit dari berbagai bank itu keduanya bisa mengambil uang cash. ‘’Keduanya mengaku setelah kami melakukan penggeledahan dan menemukan sejumlah barang bukti. Termasuk 15 ponsel dan beberapa barang bukti lainnya,’’ ungkap petugas yang meminta namanya tidak ditulis di koran.

Dalam aksinya, mereka tidak sendirian tapi bekerja sama dengan beberapa petugas bank yang mengeluarkan kartu kredit. Antara lain bagian marketing, bagian survei dan penagihan.
‘’Itu sebabnya, kasusnya dilimpahkan ke Polda, karena para pelaku lainnya berada di Surabaya. Aksi mereka diduga tidak hanya di Jawa Timur, tapi ke daerah lain,’’ tambah petugas lagi.

Modus operandinya, pasutri ini membuat KTP dengan identitas palsu. Setelah KTP selesai, mereka mengisi blanko pengajuan kartu kredit. Diantaranya dari Bank Panin, BII, Bank Niaga dan Bank Mandiri. Langkah selanjutnya menyerahkan kembali blanko yang sudah diisi ke bank yang mengeluarkan kartu kredit itu.

Lantaran kerja sama dengan ‘orang dalam’, mereka berhasil mendapatkan kartu kredit. Apalagi, persyaratan pemohon kartu kredit harus disurvei, tidak pernah dilakukan. Petugas survei hanya menelpon ke nomor telepon pemohon. Itupun hanya sekadar klarifikasi data permohonan sebagai formalitas.

Setelah kartu kredit disetujui dan dikirim, mereka langsung ke ATM untuk mengambil uang tunai dari kartu kredit tersebut. Termasuk membeli beberapa barang dengan kartu kredit tersebut.

‘’Pengakuan mereka, hanya berperan sebagai pemalsu identitas dan sebagai pemohon kartu kredit. Sedangkan yang mengambil uang, yang saat ini masih kita buru itu,’’ tambah petugas sambil menjelaskan, dengan peranan tersebut, mereka mendapat bagian 15 persen.

Lalu berapa uang yang dicairkan dalam satu kali transaksi ? Pasutri ini mengaku berbeda-beda. Yang jelas, satu kali transaksi atau pencairan uang secara cash paling sedikit Rp 5 juta, dan paling banyak Rp 25 juta.

‘’Yang jelas, keuntungan yang mereka raup hingga saat ini mencapai ratusan juta,’’ tandas petugas sambil menjelaskan jika pasutri ini juga pernah ditangkap petugas dari Polwiltabes Surabaya, dengan kasus yang sama. ‘’Informasinya mereka pernah ditangkap Polwiltabes, tapi saya kurang tahu kapan, dan berapa lama mereka ditahan,’’ jelas petugas.

Verifikasi Cuma lewat Telepon

Apa reaksi Bank Internasional Indonesia (BII)? Brian Triwihasono, Marketing Merchant Unsecured Lending Business BII Malang Region 5, selama ini pengajuan kartu kredit memang menyertakan kelengkapan administratif seperti fotokopi KTP, slip gaji, hingga kartu identitas karyawan.

“Kelengkapan yang disertakan berbentuk foto kopi, bukan kartu aslinya,” kata dia saat ditemui di ruang kerjanya kemarin.

Setelah pengajuan dan syarat administratif lengkap, sambung dia, bank penerbit melakukan verifikasi. “Tahapan verifikasi itu, pihak bank melakukan crosscheck data. Yakni, pada orang yang namanya direferensikan pemohon dalam aplikasi kartu kredit. Selain itu, mengecek datang ke data based BI tentang track record calon nasabah, apakah memiliki tunggakan utang atau tidak,” jelas dia.

Pada saat verifikasi tersebut, sambung dia, pelaku juga memanfaatkan teman atau sindikatnya sebagai orang yang direferensikan. Praktis, pihak bank yang hanya melakukan verifikasi via telepon langsung mempercayainya. Kontrol bank untuk kelengkapan data memang hanya sebatas via telepon. Pihak bank penerbit hanya melihat data yang tertulis dalam lembar aplikasi pengajuan kartu kredit. Yakni pada kolom nama saudara yang harus dihubungi, tapi bukan serumah.

Ketika data yang diverifikasi via telepon itu cocok dengan yang tertuang dalam aplikasi kartu kredit, maka pihak bank menyatakan bahwa data itu benar. “Saat semua data dinyatakan benar dan pemohon dinilai layak, maka kartu diterbitkan oleh bank penerbit. Proses penerbitan kartu tersebut memakan waktu sekitar dua mingguan sejak data nasabah masuk,” kata Brian.

Ia mengatakan, karena banyaknya kasus penipuan via kartu kredit, kini BII Credit Card semakin selektif dalam menyetujui permohonan kartu kredit. “Saat ini masyarakat tidak mudah mendapatkan kartu kredit. Karena persyaratan kian ketat. Saya yakin kalau pelaku pembobolan kartu kredit itu jauh lebih pintar dan lihai. Mereka benar-benar mempelajari kelemahan kita, bahkan kadang teknologinya kian canggih saja,” papar dia.

Sementara, Deputi Pemimpin Bank Indonesia (BI) Malang Laksono Dwionggo menambahkan, kasus pembobolan bank via kartu kredit harus dicermati serius. Khususnya bagi bank penerbit kartu kredit agar tidak lengah dalam melakukan verifikasi data kepada calon nasabah. “Bank penerbit kartu kredit semuanya ada di Jakarta. Yang jelas, penerbit harus tetap menerapkan prinsip kehati-hatian,” kata dia. (lia/war/jawapos-Ira Ravika/malangpost)

Tinggalkan komentar

Filed under Malang, Malang Raya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s