Penurunan Rangking Kota Malang Cukup Mengherankan


Kadiknas Jatim, Drs. Rasiyo MSi mempertanyakan sistem pengawasan dan pembinaan yang dilakukan Diknas Kota Malang, menyusul jebloknya prestasi pendidikan di Kota Malang. Padahal, Kota Malang selama ini dikenal sebagai kota pendidikan.

Hal di atas diungkapkan Drs. Rasiyo MSi kepada Malang Post dalam perjalanan menuju Kota Kediri, untuk melakukan sidak pengumuman lulusan SMP di Kediri. ‘’Saya juga heran, kenapa Malang , tahun ini, kok mudhun terus prestasinya,’’ tandas mantan Kepala Sekolah SMA di Lamongan ini.

Rasiyo lantas menceritakan jumlah kelulusan hasil Ujian Nasional (UN) tingkat SMP dan MTs di Jatim, yang diumumkan Sabtu kemarin. Secara umum, tahun ini, Diknas Jatim mampu mengerek turun angka ketidak lulusan SMP dan MTs dibanding tahun sebelumnya.

Tahun 2006/2007 lalu, siswa yang tidak lulus se Jatim mencapai 17.588 siswa atau 3,68 persen dari jumlah 477.186 siswa yang ikut UN. Sedang tahun 2007/2008 siswa SMP dan MTs yang tidak lulus 15.452 siswa atau ‘hanya’ 3,20 persen dari 483.091 siswa yang ikut UN.

Berdasarkan data Dinas P dan K Jatim yang diserahkan kepada setiap kabupaten/kota menunjukkan siswa SMP, jumlah ketidaklulusan mencapai 11.520 siswa atau 3,33 persen dari jumlah peserta 346.424 siswa. Sedang tingkat MTs, ketidaklulusan mencapai 3.932 siswa atau 2,88 persen dari total 136.667 siswa.

Dari jumlah ini, Rasiyo enggan menyebutkan, berapa kontribusi ketidak lulusan yang disumbangkan Kota Malang. Tetapi, dari total siswa SMP dan MTs yang tidak lulus, kebanyakan adalah sekolah swasta. Sedang, SMP dan MTs Negeri dianggap masih cukup bagus.

‘’Sekali lagi, saya tidak bisa menilai bagaimana sistem kerja diknasnya. Tetapi, dari prestasi yang diraih tahun ini, pasti ada yang tidak beres di dalamnya. Meski, sebuah kelulusan tidak mutlak menjadi tanggung jawab diknas bersangkutan. Bisa juga orang tua atau guru,’’ kilahnya.

Hal lain yang menjadikan tanda tanya Diknas Jatim adalah posisi juru kunci, untuk hasil UN se Malang Raya di Jatim. Sebab, dari 38 kabupaten/kota di Jatim, Malang Raya berada di posisi 35, 36 dan 37. Kenyataan ini, lebih menyakitkan lagi sebagai Kota Pendidikan, Kota Malang kalah dibanding Kabupaten Pamekasan dan Bangkalan.

‘’Pulau Madura menempatkan empat kabupaten/kota dalam peringkat 10 besar. Pamekasan, Bangkalan, Sumenep dan Sampang masuk. Begitu juga Situbondo dan Pasuruan, juga masuk 10 besar,’’ tuturnya sembari bertanya-tanya penyebab kondisi ini.

Sementara itu peringkat 10 besar kabupaten/kota terbaik di Jatim, yakni Pamekasan, Tulungagung, Lamongan, Bangkalan, Sidoarjo, Gresik, Sumenep, Sampang, Situbondo, dan Kabupaten Pasuruan. Dan lembaga atau sekolah terbaik, yakni SMP Negeri 1 Lamongan, SMP Negeri 1 Tuban, SMP Negeri 2 Arusbaya Bangkalan, serta SMP Negeri 1 Tulungangung.

Lima siswa terbaik Jatim diraih Riska Wakhidatussolihin dari SMP Negeri 1 Tulungagung dengan nilai 38,90, peringkat dua Febri Andika Putra Basuki dari SMP Negeri 1 Tulungagung nilai 38,80, M Ali Alfian dari SMP Negeri 1 Lamongan nilai 38.80, Jaco Nobel Leo Kristi dari SMP Ngeri 1 Blitar nilai 38,75, dan Fani Arif Romadhoni dari SMP Negeri 1 Lamongan dengan nilai 38,75. (has/avi)
(harry santoso/malangpost)

Tinggalkan komentar

Filed under Indonesia, Malang, Pendidikan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s