Mengintip “Studio Sentosa”, Studio Rekaman Kelas Dunia di Kota Batu sejak 1978

Di Kota Batu ada studio rekaman berkelas dunia. Namanya: Studio Sentosa. Studio yang berada di kompleks Yayasan Persekutuan Pekabaran Injil Indonesia (YPPII) Kota Batu itu, dirancang oleh arsitek dari Eropa, seperti Norwegia, Inggris, dan Jerman. Kini usianya 30 tahun.

Juddi Wahyu, 48, teknisi Studio Sentosa terlihat sibuk, Sabtu, (14/6) lalu. Setiap hari pria berpostur tinggi kurus itu berkutat membenahi peralatan rekaman studio yang sudah berumur puluhan tahun itu.

Ada mixer merek Raindirk Limited Downham Market Nortock England, pita roll merek MCI England, tape 16 track. Ada juga salon merek Roger JBL, buatan Inggris, serta salon merek Rhodes buatan Jepang. Beberapa tape dan tv kuno merek Sony terlihat berjejer rapi di atas buffet terbuka. Tampak pula tape roll merek Revox.

Sebagian merek-merek produk elektronik tersebut memang sudah tidak popular di pasaran. Tapi di studio dua lantai itu, beberapa komponen pelengkap peralatan rekam masih berfungsi baik.

Tentunya ini tak lepas dari sentuhan tangan Wahyu. Meski cukup rumit, laki-aki yang telah mengabdi sebagai teknisi studio sejak tahun 1990-an itu tetap telaten merawat peralatan itu. Jadi sudah hampir 18 tahun dia mengabdi.

Wahyu harus melakukan itu karena banyak komponen yang tidak tersedia lagi di Indonesia. Kalau toh ada, tentu komponennya langka dan harganya mahal.

Atas keadaan itu, dia harus melakukan kanibalisasi terhadap komponen dari peralatan yang lain.

Wahyu harus mengambil komponen serupa dari peralatan satu untuk digunakan pada alat yang lebih baik. Sebab, jika tidak demikian, alat tersebut tidak bisa digunakan.

Atas keputusan kanibalisasi itu, kini banyak sekali peralatan rusak yang menumpuk di studio.

“Memang ini tugas saya. Saya berusaha sebisa mungkin memanfaatkan peralatan yang ada,” ujar pria berkulit sawo matang ini.

Meski begitu, kualitas suara dari alat-alat tersebut masih sangat bagus. Jika untuk rekaman hasilnya sangat jernih. Malahan dia menjamin tidak kalah dengan hasil rekaman digital yang saat ini marak.

Persoalan yang paling berat dia hadapai adalah sulitnya mendapatkan komponen yang orisinal. Sebab, mencarinya saja harus ke Amerika atau Eropa. Selain itu harganya juga sangat mahal. “Dulu head tipe perekam itu harganya Rp 16 juta,” ujar jebolan Teknik Elektro Widyagama Malang.

Wahyu memang dituntut kreatif untuk merawat peralatan agar studio terus bisa difungsikan. Meski tugasnya tak ringan, Wahyu tak hanya dituntut merawat peralatan. Tapi juga harus bisa merawat gedung studio yang dibangun sejak 1978 itu. Untuk soal merawat studio, Wahyu tak sendiri. Ada Martha Djarra, 40. Tugas Martha menyangkut administrasi studio.

Keduanya harus berkolaborasi. Sebab, studio yang diarsitekturi oleh tim dari Eropa itu, desainnya sangat rapi dan artistik. Bahkan, khusus peredam suaranya, didesain khusus oleh ahli akustik dan ahli bangunan gedung studio.

Itu bisa dilihat dari struktur bangunan studio. Untuk mengedapkan suara, temboknya tak hanya dilapisi karpet. Tetapi juga didesain dengan ketebalan khusus.

Tebal temboknya empat kali tebal batu bata. Lalu, di tengah-tengahnya masih diberi jarak satu bata lagi. Batas tersebut untuk meletakkan pengedap suara dari bahan khusus.

“Saya sendiri kurang paham bahan peredam antartembok itu,” ungkap Wahyu.

Dengan desain itu, tebal tembok hampir empat kali tebal tembok rumah pada umumnya.

Khusus kaca pembatas antara studio dengan ruang control, terdapat empat lapis kaca. Kaca itu dipasang denga jarak setebal tembok rangkap dua plus pengedap tersebut. Dengan model ini, hasilnya sangat bagus. Tidak ada sekecil pun suara dari luar yang masuk ke studio.

“Misalnya di luar ada heli turun di halaman, di dalam studio tidak terdengar,” terang Wahyu.

Sesuai dengan data administrasi, Studio Sentosa, tercatat satu-satunya studio yang memiliki peralatan kelas dunia terbaik di Indonesia.

Sebab, waktu itu, peralatan studio rekaman di RRI saja, tidak sebanding dengan peralatan di Studio Sentosa.

Karena dianggap paling bagus pada dekade 80-90-an, nama Studio Sentoso terkenal sampai di kalangan musisi Jakarta. Beberapa artis Jakarta pun sempat rekaman di Studi Sentosa. Sebut saja Mekli Guslaw, Ade Manahutu, Yonas Soisa, Tri Utami, dan Grace Simon. Juga kelompok musik Nat dari Surabaya.

Hanya saja, studio itu dibangun oleh yayasan, fungsinya tidak untuk komersial. Studio tersebut didedikasikan untuk pelayanan umat. Misalnya untuk merekam lagu-lagu rohani atau syiar agama.

Dengan kondisi itulah, pengelola studio tidak bisa men- up grade peralatan yang teknologinya terus berkembang. Jika dulu disebut studio terbaik dan terlengkap, kini tidak lagi. Sebab, peralatan Studio Sentosa justru kalah dengan yang peralatan modern yang baru. (KHOLID AMRULLAH/ing/jawapos)

2 Komentar

Filed under Batu, Musik

2 responses to “Mengintip “Studio Sentosa”, Studio Rekaman Kelas Dunia di Kota Batu sejak 1978

  1. kok ga ada fotonya om? GBU!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s