Dalam Dunia Pendidikan Diperlukan Kurikulum Anti Kekerasan

Masih ingat dalam benak kita kasus kekerasan yang mengarah perbuatan kriminal dilakukan oleh beberapa oknom praja Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) semedang Bandung, yang menyebabkan kematian seorang praja tingkat 2 Cliff Muntu 3 April 2007, asal Sulawesi utara. Kini hal serupa baru terungkap di tubuh Sekolah Tinggi Ilmu Pelayara (STIP) Jakarta.

Kematian Agus Bastian Gultom asal surabaya taruna STIP sangatlah disayangkan. Sebagai lembaga pendidikan, tidak seharusnya tindak kekerasan perlu terjadi dengan dalil pendisiplinan para yunior. Apa lagi pendisiplinan umumnya berupa penganiayaan dan pemukulan yang tidak wajar dari senior kepada yunior sehingga menyebabakan kematian. Sepertinya ada yang salah dalam kurikulum pendidikan IPDN dan STIP, tentu saja budaya kekerasan dalam dunia pendidikan harus dihentukan, seiring dengan tujuan pendidikan itu sendiri.

Bisa kita bayangkan dalam mendisiplinkan taruna yonior mereka mengunakan beberapa istilah diantaranya tampaan bolak-balik, jangkus, dua tangan dengan memukul dua tangan di dada, jebulu hati dengan memukul bagian ulu hati dan raham dll. Kalau kita lihat bagian yang dipukul sangatlah menyakitkan, dan saya yakin siapapun yang mengalaim akan memnjadi dendam yang akan dibalas ke yuniornya lagi. Oleh sebab itu, memutus rantai kekerasan menjadi hal yang tidak boleh ditawar lagi, agar pembunuhan yang mengatasnamakan pendisiplinan tidak terulang lagi.

Kita berharap kekerasan yang menyebabkan kematian tidak terjadi lagi dalam dunia pendidikan, karena dunia pendidikan salah satu usaha untuk mencerdaskan anak bangsa sebagaimana yang telah diamanatkan dalam GBHN tentang tujuan pendidikan bahwa, pendidikan nasional berdasarkan pancasila, bertujuan untuk meningkatkan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, kecerdasan dan keterampilan, mempertinggi budi pekerti, memperkuat kepribadian, dan membertebal semangat kebangsaan dan cintah tanah air, agar dapat memumbuhkan manusia-manusia pembangunan yang dapat membangun dirinya sendiri serta bersama-sama bertanggung jawab atas pembangunan bangsa.

Sebagai bangsa yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan sudah seharusnya peran pemerintah, masyarakat dan pendidin menjadi tangga keberhasilan para anak didiknya, sebagai bentuk tanggung jawab moral agar perbuatan yang tidak menghargai sesamanya tidak terulang lagi.

Hamdani
Mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam (UIN) Malang, Aktif di Lembaga Kajian, Penelitian dan Pengembangan Mahasiswa (LKP2M)

3 Komentar

Filed under Indonesia, Pendidikan

3 responses to “Dalam Dunia Pendidikan Diperlukan Kurikulum Anti Kekerasan

  1. Untuk mengatasi kekerasan kayaknya ngga’ perlu banget mengorbankan kurikulum. Sekarang, di tingkat SD pun sudah ada mata pelajaran Pendidikan Nilai-nilai Kemanusia yang terintegrasi dalam semua mata pelajaran.
    Bahkan Universitas Paramadina kalo ngga’ salah ada matakuliah Korupsi. Pendidikan perlu sentuhan sejak kita dalam kandungan.
    Salam buat Mas Hamdani.

  2. Kayaknya udah mendarah daging itu budaya kekerasan di Indonesia ini. Sudah tambah parah negara ini. Krisis semuanya, bahkan krisis moralitas

  3. yaa emaang…. dah dari dlu toyooo….!!!!! mang baru tau ya mazzzz….. kciaaaaaaaaaaan deeeehloee.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s