Kapten Sus Doni Wicaksono ‘Pamitan’ dengan Mengetuk Pintu Mobil

Kapten Sus Doni Wicaksono, benar-benar menepati janji terakhirnya kepada keluarga dan kedua anak kembarnya yang masih berusia 4 tahun. Yakni datang ke Malang Minggu (29/6) kemarin. Meskipun hanya raga tanpa nyawa.

Perwira muda yang masih berusia 34 tahun ini, adalah salah satu awak pesawat Casa 212  yang jatuh di kawasan Gunung Salak. Karena meninggal dalam menjalankan tugas, keluarga terlihat merelakan kepergian Doni untuk selama-lamanya. Hal itu juga terlihat pada raut wajah, Karseno Asmo Dioso (65) dan Djuminah Harjo Suwito (60), kedua orang tua Doni.

Karangan bunga terus berdatangan ke rumah duka di Perum Landungsari Permai blok A no A 6, dari berbagai pihak. Sebuah meja panjang, disiapkan di garasi yang disulap menjadi ruang tamu para pelayat. Di sebelah meja yang telah bertaburan bunga melati dan telah ditutupi dengan kain putih, terpampang foto Doni lengkap dengan seragam plus atributnya.

Beberapa pelayat tampak sedang membacakan doa-doa di sebelah foto Doni, walaupun jenazahnya belum tiba ditempat. Sedangkan salah satu anggota keluarga, sibuk menerima para pentakziah yang terus berdatangan ke rumah yang terletak di pojok gang itu.

Karseno yang terlihat ramah dan sangat tegar ketika ditemui Malang Post menceritakan dengan gamblang, bahwa anak pertamanya itu sebelumnya pernah berjanji untuk pulang ke Malang untuk membelikan kedua anak kembarnya Devandra dan Danendra sepeda, sebagai hadiah ulang tahun mereka yang keempat 24 juni lalu.

‘’Keluarga ikhlas jika hari ini (kemarin, Red.), Doni datang ke Malang, walaupun hanya jasad tanpa nyawa. Dia telah menunaikan janji yang terakhir diucapkanya,’’ ujar Karseno.
Ketegaran tak hanya dirasakan oleh Karseno, ibunda Doni, Djuminah, juga dengan detail bercerita tentang kehidupan anak yang semasa kecil sangat dekat dengan dirinya.

Doni sejak kecil, dikenal penurut dan pendiam. Dia meninggalkan istrinya, Artha Intan Paluti (29), dan kedua anak laki-laki kembar, Devandra serta Danendra yang masih berusia empat tahun dan akan memasuki TK di Malang.

Salah satu anaknya, Devandra, sejak Selasa (24/6) terus saja menanyakan ayahnya pada kakek neneknya. Bocah kecil itu merasa kangen dengan sosok ayahnya yang selalu menemaninya bermain.

‘’Devandra yang sepertinya memiliki firasat tentang ayahnya. Malam sebelum kejadian pesawat jatuh, Devandra rewel sekali, tapi kita belum tahu kalau itu sebuah firasat,’’ kata Ida Agustyani (50) mertua Doni.

Ibunda Doni, Djuminah juga berulang kali merasakan hal-hal yang aneh. Tapi dia tidak sadar jika semua itu adalah firasat bakal kehilangan putranya untuk selamanya.

Tercatat beberapa kali di rumah, dia merasa ada yang aneh. Seperti saat dia membuatkan tamu, segelas minuman dingin yang diwadahi gelas khusus untuk tamu, tiba-tiba pecah di bagian bawah.

Tak cukup itu saja, Rabu (25/6) malam, ketika Djuminah sedang membuatkan suaminya Karseno, mie goreng instan. tiba-tiba piring itu terbelah saat akan dihidangkan.

Puncaknya ketika Kamis (26/6) pagi saat Karseno dan Djuminah dan salah satu cucu perempuanya Dimbi Arimbi 4 tahun, sedang mengendarai mobil Suzuki Futura hijau, dari Malang menuju ke rumahnya di Jalan Karya Yaso Kota Madiun.

Ketika sampai di Nganjuk, tiba-tiba terdengar ketukan di pintu mobil sebelah kiri beberapa kali. Suaranya terdengar layaknya orang yang sedang mengetok pintu. Kejadian itu berulang hingga 2 kali selama perjalanan menuju Madiun. Apakah itu pertanda Doni pamitan? Karena pesawat itu diperkirakan jatuh pagi itu juga.

Karseno dan Djuminah baru mengetahui perihal jatuhnya pesawat yang ditumpangi anaknya, Kamis malam, setelah mendapat telpon dari keluarga di Malang.

‘’Saya mungkin sudah tidak bisa nangis lagi, Mas. Air mata saya sepertinya telah mengering saat itu (Kamis), ketika saya mendapatkan kabar pesawatnya Doni jatuh,’’ ujar Djuminah.

Kedua orang tua Doni memang selalu berkomunikasi lewat telpon ataupun SMS tiap harinya. Karena itulah, meski ada beberapa kejadian aneh yang dialami, mereka tidak pernah menduga jika semua itu pralambang bakal kehilangan putranya.

Apalagi, Doni selalu memberikan kabar kepada kedua orangtuanya, jika ia akan terbang ke suatu daerah dan menginap. Walaupun toh itu hanya satu malam.

‘’Saya baru sadar firasat tentang beberapa kejadian yang saya alami, itu pertanda untuk Doni, ketika ia dan pesawatnya dikabarkan jatuh di Gunung Salak. Untuk kali ini, Doni belum pamit ke ayahnya, karena mungkin dia kira tidak sampai menginap di suatu tempat,’’ ujar Djumirah.

Ditanya mengenai dimakamkanya Doni di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Sama’an, tidak di taman makam pahlawan (TMP), Karseno mengaku ia tetap bangga terhadap anaknya karena ia juga telah gugur dalam tugas. Selain itu, dengan dikuburkanya Doni di TPU Sama’an, keluarga yang lain dapat setiap saat mengunjungi makam tanpa terikat aturan.

‘’Doni sudah merupakan pahlawan bagi saya. Dikuburkan di TPU Sama’an itu sudah cukup dan itu memang kehendak keluarga,’’ pungkas Karseno. (rendi Sebastian ramadhan) (Rendi/malangpost)

Tinggalkan komentar

Filed under Indonesia, Malang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s