Sumiarsih Minta Maaf pada Keluarga Purwanto, Ingin Kematian Wajar

Setelah pengajuan grasi Sumiarsih ditolak presiden, kemarin terpidana mati itu kembali meminta maaf kepada keluarga almarhum Letkol (Mar) Purwanto.

Penyampaian maaf itu, disampaikan Rusmawati, salah seorang putri Sumiarsih, usai bertemu ibunya di LP Wanita kelas II A, Sukun. ‘’Saya sudah bertemu ibu. Beliau minta maaf kepada keluarga Pak Pur (alm Purwanto, Red.),’’ ucap Wati sebelum meninggalkan LP. Wanita berambut pendek itu, kemarin sengaja datang dari Surabaya untuk bertemu secara khusus dengan ibunya. Dia ditemani Ita, salah seorang kerabatnya.

Selain menyampaikan permintaan maaf, Sumiarsih juga menyampaikan keinginannya untuk mati secara wajar. ‘’Ibu minta supaya meninggalnya secara wajar, tidak ditembak. Ya, matinya seperti bapak, seumur hidupnya di penjara,’’ ucapnya dengan mata berkaca-kaca.

Wati yang terlihat berusaha menutupi kesedihannya itu berharap agar persoalan ini jangan sampai menambah beban hidup mereka. Karena itu dia berharap wartawan mengerti kondisi keluarganya.

Sebelumnya, Kepala Divisi Pemasyarakatan, Kanwil Departemen Hukum dan HAM, T Darmono Bc, IP bertemu Sumirasih. Dalam pertemuan itu, Sumiarsih kembali meminta agar dirinya mati secara wajar.
Sekalipun belum mengetahui waktu eksekusi, Darmono sudah menguatkan hati Sumiarsih. Selain itu, pengawasan terhadap wanita berusia 59 tahun yang sudah 20 tahun menunggu waktu eksekusi ini juga ditingkatkan.

‘’Dia dikuatkan agar tegar dan tidak shock, stres dan tidak melakukan hal-hal yang tidak diinginkan, seperti bunuh diri. Kami beri motivasi supaya dia mendapat kekuatan bahwa orang hidup pasti mati,’’ terangnya.

Hanya saja, sampai kemarin siang, pihaknya belum mendapat pemberitahuan resmi tentang pelaksanaan eksekusi. Pemberitahuan eksekusi, kata dia, biasanya dilakukan secara resmi kepada lapas dengan tembusan ke Kanwil Departemen Hukum dan HAM.

Sumiarsih sendiri, kemarin mulai menunjukkan perubahan sikap. Mbah Sih, sapaan akrab Sumiarsih, tidak lagi mau bertemu dengan wartawan. Bahkan kabarnya Mbah Sih sempat ngambek saat ditanya kesediaannya bertemu wartawan.

‘’Saya jangan dipaksa, saya pusing,’’ kata seorang petugas mengulangi pernyataan Sumirasih saat berada di ruangan Binpas dalam kompleks Lapas Wanita, Sukun. Seketika itu, petugas pun berusaha menenangkannya. ‘’Kemudian dia diajak tidur,’’ kata petugas LP.

Kendati tak mau bertemu wartawan, dia menyampaikan permintaan maafnya secara santun. Bahkan, nenek satu cucu ini menitipkan surat yang ditulis tangan kepada wartawan yang menunggunya.

Surat itu kemudian dibacakan Kepala Lapas Kelas II A Wanita, Sukun, Hj Entin Martini BcIP, SH di depan wartawan. Isi suratnya : ‘’Kepada Yth, Saudara2 saya wartawan. Untuk sementara, belum bisa menemui anda2. Saya ingin menenangkan diri. Sampaikan mohon maaf saya pada semua pihak yg merasa dirugikan. Karena saya sekeluarga dlm keadaan prihatin. Mohon doa dari teman2 wartawan. Dari saya, Bu Sumiarsih’’.

Kalapas Entin Martini mengatakan, sampai saat ini, kondisi Sumiarsih sehat-sehat saja. Bahkan dia tetap melaksanakan aktifitasnya seperti hari-hari biasanya. Petugas juga semakin memperhatikan kesehatannya. ‘’Saat ini, kondisi kesehatanya baik-baik saja,’’ ucap Entin. (van/avi) (vandri/malangpost)

Tinggalkan komentar

Filed under Berita, Indonesia, Malang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s