Kades Ngadirejo-Kromengan Laporkan BPD

Kepada desa Ngadirejo Kecamatan Kromengan Cuk Sudiono di Polsek setempat melaporkan BPD yang dituduh menggondol uang panen desa, kemarin.

Kepada desa Ngadirejo Kecamatan Kromengan Cuk Sudiono di Polsek setempat melaporkan BPD yang dituduh menggondol uang panen desa, kemarin.


Konflik antara Pemerintah Desa (Kepala Desa) dan Badan Perwakilan Desa (BPD) Ngadirejo kembali terjadi. Kepala Desa Ngdirejo Cuk Sudiono menuduh BPD menggondol uang krakalan (pajak panen petani) dari beberapa Kepala Dusun (Kasun). Malah, Cuk bersama empat Kasun melaporkan Ketua dan sekretaris BPD ke Polsek Kromengan.

Ketidakharmonisan dua kubu yang seharusnya bersatu membangun desa itu telah nampak sejak lama. Dua yang lalu, BPD melaporkan Kades ke DPRD dengan tuduhan menggelapkan dana ADD. Malah BPD berhasil menggerakkan warga berdemo di halaman Pendopo Kabupaten Malang, saat itu Cuk berhasil terhindar.

Baru-baru ini, BPD kembali melaporkan Cuk, kali ini ke Polsek setempat dengan tuduhan memangkas dana BLT secara paksa. Uang BLT tersebut memang dipangkas, namun dari data Kecamatan Cuk sudah mengembalikan sebagian. Dikatakan Cuk, uang BLT tersebut dipangkas untuk diberikan pada warga miskin yang belum dapat jatah.

“Uang BLT sudah saya kembalikan, hari ini (kemarin) saya melaporkan BPD karena terlalu intervensi terhadap pemerintah desa. BPD turut campur ke perangkat desa, dengan mengambil uang krakalan untuk dipakai sendiri,” ujarnya kepada Malang Post di Polsek Kromengan.

Turut bersama Cuk di kantor Polisi dua Kasun, satu Kuwowo dan satu penjaga balai desa Ngadirejo. Mereka berempat mengaku telah didatangi ketua BPD Slamet dan sekretaris BPD Toni Suprapto untuk dimintai uang krakalan. Besarnya uang krakalan yang diminta bervariasi yaitu Rp 300 ribu hingga Rp 1.300.000.

“Akhir Juni lalu, Pak Toni Suprapto ke rumah saya dan meminta uang krakalan sebesar Rp 1.300.000, uang itu hasil pajak dari banyak petani di dusun saya. Katanya uang itu adalah jatahnya, dia dapat mandat dari Kades,” ujar Muntholib 60 tahun, Kasun Karangtengah.

Hal senada dikatakan Kasun Cendol Timur Kasiadi 55 tahun, hanya saja dia didatangi Toni dan Slamet. Kedua orang itu meminjam uang krakalan dengan total Rp 750 ribu, pada bulan Juni lalu. Pengakuan lucu datang dari Kuwowo dusun Cendol Ngatemun 60 tahun.

“Pak Slamet datang ke rumah dan meminjam Rp 300 ribu katanya untuk buwuh mantu,” ujar Ngatemun.
Terpisah Ketua BPD Slamet mengaku bahwa uang krakalan tersebut telah menjadi bagian BPD.

Dikatakannya Kades, LKMD dan BPD telah rapat bersama dan hasilnya uang krakalan di bagi bersama. Sementara itu Camat Kromengan Drs Torusman Situmeang mengamini hal itu.

“Biasanya uang krakalan dibahas dalam rembug desa mau diapakan. Memang ketidakharmonisan BPD dan Kades sudah tampak sejak lama dan ini terulang lagi. Mengenai BLT memang sudah dikembalikan Kades, dari pantauan kami Jumat (11/7) lalu sebagian, RP 1.350.000,” papar Situmeang kepada Malang Post kemarin.(ary/eno) (Ary Wicaksono)

Tinggalkan komentar

Filed under Berita, Kabupaten Malang, Malang Raya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s