Merekam Hari-hari Terakhir Sugeng-Sumiarsih

DI BALIK kegarangannya, Sugeng, terpidana mati ternyata merupakan seorang pria yang romantis. Dia yang dikenal sangat sadis saat membunuh Kol (Mar) Purwanto dan keluarganya, menyimpan rasa cinta kepada gadis pujaannya. Rachmawati Peni Sutantri. Inep, begitu Sugeng menamainya, saat ini merupakan anggota Komisi E Bidang Kesra DPRD Jawa Timur.

Di hari-hari terakhir menjelang eksekusinya, pria yang sekarang terlihat agak kurusan tersebut berusaha memberitahu Inep, bahwa dia sangat mencintai bekas temannya di kala SMP dulu. Apa yang dirasakan ini, ikut disampaikan kepada Ita, sahabatnya. Sugeng selalu mengirimkan SMS ke Ita dengan menyebut inisial namanya saja, SG. Bagaimana perasaan cinta Sugeng terhadap Inep yang tidak pernah tersampaikan ini, berikut laporan tim wartawan Malang Post.

Mungkin, perasaan Sugeng ini akan terbawa sampai mati. Saat melakoni kehidupannya di penjara, dia sering menceritakan perasaan cintanya kepada Ita, sahabat dan mantan wartawan media harian ini melalui SMS. Salah satu SMS yang dikirimkannya tersebut, berjanji akan memberikan bunga gelombang cinta kepada Inep bila wanita lulusan Universitas Jember ini mengunjunginya di penjara. Salah satu SMS yang dikirimkan kepada Ita, agar Ita segera datang bersama Inep. “Mbak, met malam aja ya. Kalau bisa, dengan Inep, besok atau secepatnya ke sini (LP Porong) ambil bunganya. Karena waktunya mendesak or sebelum saya dipindah ke Medaeng”.

Kecintaannya kepada Inep, sudah dirasakan sejak sama-sama sekolah di SMP Negeri 2 Jombang dan SMPP Jombang. Saking senangnya, Sugeng bahkan pernah nekat menyanyikan lagu Camelia dengan membawa gitar di depan Inep, saat merayakan ulang tahunnya yang ke 16 di Jombang. Tentu saja, Inep kecil yang tidak tahu apa-apa ini terkaget-kaget dan malu. Bagaimana tidak, usai pengagum Ebiet G Ade menyanyi lagu Camelia dan mengutarakan rasa senangnya, Inep sering diledek oleh teman satu sekolahnya.

“Hoiii, Peni Camelia. Atau kalau tidak, Peni Sugeng,” teriak teman-temannya. Sayangnya, belum kesampaian hubungan teman menjadi hubungan kekasih, Sugeng mendadak tersadar dari mimpinya ini. “Padahal, Peni iku biyen impiane cowok-cowok mbak, Pinter, cantik dan supel. He…He…He…Mbak, kok tahu aja rahasia SG,” kata Sugeng pada Ita melalui SMS ponselnya nomor 081931889956. Meski hidupnya berkecukupan atau bisa dibilang kaya, namun Sugeng sadar kalau orang tuanya hanyalah seorang mucikari di Gang Dolly.

Waktu itu saja, Sugeng yang dikenal oleh teman-temannya suka mengikuti kegiatan OSIS dan pintar bermain gitar serta menyanyi ini selalu mengantongi uang Rp 300.000 yang diberikan Sumiarsih, ibunya.

Katanya, uang sebesar itu adalah uang sakunya selama sebulan. Tahun demi tahun hidup di Jombang, dia merasa gaya hidupnya, pekerjaan orang tuanya dan uang yang dipegangnya tidak cocok agar bisa lebih dekat dengan Inep yang anak seorang pejabat di Pemerintah Kabupaten Jombang. Karena alasan inilah Sugeng pun memilih untuk pergi ke Surabaya.

Dia mendatangi Gang Dolly atau wisma yang dikelola orang tuanya, Djais Adi Prayitno dan Sumiarsih. Di sana, Sugeng sempat mengingatkan orang tuanya untuk ganti pekerjaan atau profesi. “Bu, berhenti dari pekerjaan ya. Saya malu,” katanya ketika itu. Namun, bukannya Sumiarsih sadar atas ucapan anak pertama dari pernikahannya dengan Prayit, wanita yang ikut dieksekusi mati ini malah meminta Sugeng untuk melamar bekerja sebagai karyawan kantoran. Permintaan Sumiarsih ini diiyakan Sugeng. Tidak lama, dia mendapat pekerjaan sebagai karyawan Hotel Simpang. Di kala waktu senggang, Sugeng datang ke Gang Dolly untuk mengunjungi orang tuanya.

Nama Inep yang pernah tertanam di hatinya, mendadak hilang setelah ia melihat Titik, salah satu adik kelasnya semasa di SMP Negeri 2 Jombang. Titik yang berasal Diwek, Jombang menjadi seorang primadona di kawasan Dolly. Hanya selang beberapa kali pertemuan, Sugeng dan Titik pun sepakat untuk berpacaran dan menikah. Sayangnya, niat untuk menikahi Titik, ditentang oleh Sumiarsih. “Dia itu bukan anak baik-baik. Kamu cari istri dari keluarga baik-baik saja,” perintah Sumiarsih. Keinginan Sumiarsih yang dikenal sebagai Mami top di Dolly ganti tidak diindahkan oleh Sugeng. Ia hidup dengan cara kumpul kebo dengan Titik.

Bahkan, setelah mendapat uang saku sebesar Rp 300.000 setiap bulan ini, pria yang suka bercanda tersebut nekat menikahi Titik. Tepat dua bulan setelah menikah, tragedi pembunuhan Kol Purwanto dan keluarganya terjadi.

Sugeng tertangkap. Nampaknya, meliihat suaminya ditahan, Titik tercium akan mengulangi pekerjaannya sebagai PSK di Gang Dolly. “Sugeng mendengar hal ini dan memanggil Titik untuk datang ke penjara. Begitu Titik datang, Sugeng pun menceraikannya, agar bisa menikah lagi. Kalau tidak salah, sekarang ini Titik sudah hidup berkeluarga dan tinggal di Jombang,” urai Ita, sahabatnya.

Saat di penjara ini, satu wanita kembali menghiasi hari-harinya. Dia berkenalan dengan Felicia, teman satu kerja Rose Mey Wati, adiknya lima tahun yang lalu. Felicia ganti jatuh cinta kepada Sugeng.

Bahkan, tanpa dengan Wati, Felicia sering menjenguk Sugeng sendirian di dalam penjara. Cinta pun disambut hingga akhirnya mereka berdua sepakat berpacaran. Hubungan janda anak dua ini pun berlanjut. Sayangnya, belum bisa merajut hubungan sebagai suami istri yang sah, grasi yang disampaikan Sugeng agar dia tidak dihukum mati, ditolak. Beberapa hari sebelum menerima surat resmi pelaksanaan eksekusi, Sugang teringat kembali dengan Inep. Yang dia harapkan, Inep tahu bahwa dia sangat mencintainya sepenuh hati. (*) (harry santoso/malangpost)

1 Komentar

Filed under Berita, Indonesia, Malang

One response to “Merekam Hari-hari Terakhir Sugeng-Sumiarsih

  1. duniapoet

    mengharukan. semoga mas sugeng tenang di alam baka.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s