Keluarga Sumiarsih Minta Disiapkan Tiga Liang Lahat

Pemakamanan Sumiarsih dan Sugeng dipastikan akan dilakukan dalam dua gelombang, menyusul perbedaan agama yang dianut keduanya usai eksekusi oleh Brimob Polda Jatim. Sugeng yang seorang muslim akan dimakamkan lebih dahulu di TPU Samaan, begitu tiba di Malang .

Sebaliknya, Sumiarsih yang beragama Kristen ini, akan disemayamkan lebih dahulu selama sehari di Yayasan Nur Pancaran Kasih di Jl. Bendungan Sigura-gura, milik Pdt. Andreas Nur Mandala. Di sini, akan dilakukan misa khusus dan penghormatan terakhir untuk Sumiarsih.

Tujuan lain disemayamkannnya Sumiarsih, tidak lain untuk menunggu kedatangan jasad Adi Prayitno, yang dipindahkan dari Pemakaman Umum Kristen Kembang Kuning Surabaya ke TPU Samaan, Malang . Sebab, keluarga terpidana mati kasus pembunuhan Letkol Mar Purwanto ini akan dimakamkan berjajar.
‘’Makam Pak Prayit di Kembang Kuning akan dibongkar, setelah bu Sumiarsih dan Sugeng dieksekusi. Sambil menunggu kedatangan peti berisi jasad Pak Prayit, jenasah bu Sumarsih kita semayamkan sehari. Kemungkinan Minggu (besok) baru kita makamkan bersama di sebelah Sugeng,’’ kara Andreas, kepada Malang Post.

Dikatakan Andreas, seluruh petugas dan pendukung pemakaman Sugeng begitu masuk kota Malang , sudah disiapkan di makam Samaan. Ambulan yang membawa Sugeng dari RSUD Dr. Soetomo Surabaya langsung masuk areal makam Samaan, meski matahari belum terbit.

‘’Meski dimakamkan bergelombang, tetapi semua kegiatan pemakaman dan perawatan pasca eksekusi, kita tangan secara imbang. Kami tidak membeda-bedakan agama yang dipeluk Sugeng,’’ katanya dengan menyebutkan, Jumat kemarin, Sugeng terlihat melakukan salat Jumat di masjid dalam Rutan Medaeng.

Dengan begitu, tidak hanya dua lubang saja yang dipersiapkan melainkan tiga lubang liang lahat yang akan ditanama secara berurutan Adi Jais Prayitno, Sumiarasih dan Sugeng. ‘’Sudah. Kami sudah siapkan semuanya. Kami ingin sekali menghormati mereka semua tutur Andreas.

Tidak seperti Sugeng, atribut untuk proses pemakaman Sumiarsih jauh lebih banyak dan jlimet. Selain peti mati, yang harganya Rp 6 juta sumbangan Tiara Surabaya, telah disediakan gaun putih, sarung tangan, kaos kaki, sepatu, untuk sebagai kelengkapan umat Kristen saat meninggal dunia.

Menurut keyakinan Sumiarsih, jika menjalani pejalanan menuju rumah Tuhan, atau meninggal harus mengenakan pakaian yang bersih. Selain itu, harus dilengkapi handbouquet dan lilin untuk persembahyangan.

‘’Tidak seperti ibu Sumiarsih, khusus untuk Sugeng, selain peti mati kita sediakan juga kain kafan, karena dia seorang muslim. Dan kami siapkan juga deo cologne merk Melanie sebanyak empat botol,’’ tutur Stepanie, pengelola Tiara Surabaya, ketika dihubungi, kemarin siang.

Tentang status perlengkapan itu, Stepani menyebutkan, tidak salah kalau dirinya memang memberikan semuanya dengan gratis. Ini dilakukan karena Sumiarsih adalah rekan se jemaat di kelompok yayasan Kristen yang memperhatikannya selama ini.(has/mar)
(harry santoso/mlangpost)

Tinggalkan komentar

Filed under Berita, Malang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s