Diwajibkan Beli Buku, Diprotes Wali Murid

Gara-gara dititipi beberapa penerbit, SDN Klojen diprotes wali muridnya. Kemarin ada wali murid yang mengadukan soal kewajiban membeli buku di sekolah.

Padahal kebijakan itu jelas dilarang. Apalagi menurutnya, harga buku yang dijual sekolah lebih mahal dibandingkan harga buku di luar. Sementara murid, diharuskan membeli karena buku itu adalah lembar kerja siswa, yang memang harus diisi.

‘’Siswa diwajibkan beli buku di sekolah dan saat dicek ternyata harganya lebih mahal dibandingkan harga di luar,’’ ungkap salah satu wali murid, yang keberatan namanya dikorankan.
Sementara saat dikonfirmasi mengenai pengaduan ini, Kepala SDN Klojen Drs Sya’roni membantahnya. Sebab menurut dia, tidak ada paksaan untuk membeli buku paket pelajaran di sekolah. Yang benar menurutnya, sekolah hanya menawarkan untuk membeli buku lembar kerja siswa (LKS) dari beberapa penerbit saja.

‘’Memang ada beberapa penerbit yang titip kepada koperasi untuk menjual buku LKS untuk beberapa mata pelajaran. Tapi saya sudah mewanti-wanti kepada penerbit jika harganya lebih mahal dibandingkan di luar, maka akan saya kembalikan,’’ tegasnya.

Pembelian LKS itu menurutnya, juga tidak bersifat wajib. Namun bagi siswa yang memerlukan bisa membeli. Kalaupun saat ini ada yang mengaku keberatan, ia siap untuk mengembalikan semua titipan buku LKS dari penerbit itu.

Di SD hasil regrouping itu, kata Sya’roni, sekolah berupaya memaksimalkan buku paket bantuan dari BOS Buku. Selain itu semua buku paket juga sudah diberikan gratis oleh Dinas Pendidikan (Disdik) kepada semua murid.

Buku itu dikelola oleh perpustakaan dan dipinjamkan kepada siswa di tiap kelas. Jika siswa sudah naik kelas, buku harus dikembalikan lagi untuk dipergunakan adik kelasnya. Karena ketersediaan buku yang sudah lengkap itulah, ia mengaku tidak akan menerima buku paket dari penerbit.

‘’Terus terang saja, di awal tahun ajaran baru banyak penerbit yang datang. Tahun ini kami hanya menerima buku LKS yang disusun oleh guru Kota Malang. Itupun sifatnya titipan, jadi kalau tidak ada yang beli, kami kembalikan lagi ke penerbitnya,’’ tegasnya.

Soal persenan yang diterima sekolah dari penjualan buku dari penerbit ini, menurut Sya’roni nilainya tidak besar. Itupun digunakan untuk mensubsidi silang siswa yang tidak mampu membeli buku.

Disinggung soal Buku Sekolah Elektronik (BSE) yang diprogramkan Mendiknas, menurutnya belum bisa dipraktikkan di sekolah. Pasalnya layanan internet di sana sama sekali tidak bisa dipakai. Padahal sudah sering dilaporkan ke penyedia layanan internet. (oci/avi) (Rosida/malangpost)

2 Komentar

Filed under Berita, Malang, Pendidikan

2 responses to “Diwajibkan Beli Buku, Diprotes Wali Murid

  1. salam,

    Persoalan buku memang tidak sekedar menyediakan dan membagikan buku ke para siswa. Di sana ada persoalan yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan proses KBM. Yach, inilah negeri kita…indonesianic :)

    wassalaam,

  2. Lha Penerbitnya hanya TITIP kok ditawarkan ke siswa apalagi DIJUAL. Tau ngga’ sih Pak, TITIP itu sifatnya gimana? Mestinya Penerbitnya yang bayar pada bapak, bukan Orang Tua Siswa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s