18 Desa di Malang Selatan Siaga Bencana

Warga di 18 desa di enam kecamatan di wilayah Malang Selatan diminta untuk selalu siaga menghadapi kemungkinan angin kencang dan gelombang besar. Menurut Komandan Satuan Siaga Bencana Palang Merah Indonesia (Satgana PMI) Kabupaten Malang, Sauriyanto, secara khusus pihaknya memfokuskan kesiagaan pada semua warga yang tinggal di kawasan pesisir.

Baik yang jauh dari pantai maupun kawasan pantai itu sendiri. Pasalnya dalam sebulan terakhir perairan di Samudera Indonesia tidak normal yang ditandai dengan kemunculan angin kencang mirip badai dan gelombang besar yang bergulung-gulung.

Akibat angin kencang dan gelombang besar, ribuan nelayan di tiga dusun yakni Sendangbiru, Tamban, dan Tambakasri di Desa Tambakrejo, Kecamatan Sumbermanjing Wetan terpaksa berhenti melaut. Selain warga di tiga dusun Desa Tambakrejo, warga yang menetap di tujuh kawasan pantai lainnya juga diminta meningkatkan kesiagaan.

Antara lain warga sekitar Ngliyep, Balekambang, Bajulmati, Lenggoksono, Sipelot dan Licin. “Kemarin ada pertemuan dengan para ahli geologi. Dari mereka kami diingatkan kemungkinan terjadinya bencana di wilayah selatan Malang. Bukan hanya karena angin dan gelombang besar, tapi juga kesiagaan terhadap kemungkinan terjadinya gempa dan tsunami,” kata Sauriyanto, Kamis (31/7).

Selain desa-desa yang sudah disebut, warga di Desa Sidoasri, Kecamatan Sumbermanjing Wetan; Pujiharjo, Purwodadi, dan Sitiarjo di Kecamatan Tirtoyudo; Srigonco, Sumberbening, Bandungrejo, Kecamatan Bantur; serta Tulungrejo, Banjarejo, Purwodadi, Sumberoto, dan Mentaraman, Kecamatan Donomulyo juga diminta bersiaga untuk menghadapi kemungkinan terjadinya bencana gempa bumi dan tsunami.

Untuk itu, kata Sauriyanto, kini ada sekitar 6 ribu sukarelawan yang tergabung dalam Satuan Koordinasi Pelaksana Penanggulangan Bencana dan Pengungsian yang siap dikerahkan jika bencana benar terjadi. Sebagian dari mereka sudah disebar ke desa-desa yang masuk kategori rawan bencana, khususnya di dusun-dusun pantai.

Mereka terdiri dari Satgana PMI Kabupaten Malang, Satuan Polisi Pamong Praja, Tim SAR (search and rescue) Mahameru, Malang Selatan Rescue, dan unsur aktivis pencinta alam.

Secara terpisah, Ketua Malang Selatan Rescue Bambang Siswanto menyatakan siap mengerahkan anak buahnya kapan dan di mana saja dibutuhkan. “Malah, beberapa personel MSR dalam posisi standby di sana, khususnya di daerah dusun-dusun pantai,” kata Bambang.

Pihaknya juga rutin mengadakan pelatihan kesiagaan bencana bagi remaja. Misalnya, ia menyebutkan, pada 2-3 Agustus nanti pihaknya melatih 120 siswa SMK Widyadharma, Kecamatan Turen. Mereka akan dilatih menjadi taruna siaga bencana.

Dalam catatan Tempo, kawasan perairan selatan Malang juga memiliki kerawanan tinggi terjadinya gempa laut yang besar karena di sekitar 200 kilometer selatan lepas pantai Malang terdapat jalur pertemuan dari rangkaian gunung aktif di dunia atau yang disebut “Cincin Api Pasifik”. Jalur pertemuan itu berada di bawah perairan berupa persilangan dan membentang lempengen Indo Australia dan Eurasia.

“Kedua lempengenan selalu bergerak aktif dan menimbulkan tumbukan yang menyebabkan penumpukan energi. Pada saat batas elastisitas lempengan terlampaui akan menimbulkan gempa bumi atau gempa laut. Gempa diprediksi pasti akan terjadi, tapi tak bisa ditentukan kapan waktunya dan berapa kekuatan gempanya. Kami minta warga di pesisir selatan untuk waspada selalu siap siaga,” kata Adi Soepriyanto, Kepala Badan Metereologi dan Geofisika Karangkates, dalam sebuah pelatihan mengenai siaga bencana bagi para jurnalis di Malang pada 2007.

Potensi terjadinya gempa laut berkekuatan di atas 6,2 skala Richter di perairan selatan Malang sangat atau gempa di bawah kedalaman air laut dangkal atau kurang dari 60 kilometer sangat mungkin terjadi. Jika salah satu dari dua kondisi itu terjadi, mungkin akan menimbulkan tsunami dalam waktu 30 menit. (bagus ary/malangpost)

1 Komentar

Filed under Berita, Kabupaten Malang, Malang Raya

One response to “18 Desa di Malang Selatan Siaga Bencana

  1. dengan habisnya hutan di sebelah utara sido asri, sangat mungkin terjadi banjir. 20 th yg lalu kali gopit masih banyak kedung ttp sekarang kali itu sudah dangkal. saya kawatir jika bnjir akan meluap sampai ke permukiman. harus waspada masyarakat yg tinggal di dekat kali. hanya mengingatkan. tanam lagi pohon.

Tinggalkan Balasan ke agus Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s