6 hingga 9 orang dari 1000 jiwa di Jawa Timur adalah Psikopat

Penelitian mengenai gangguan jiwa pada 2005 yang dilakukan Rumah Sakit Jiwa Dr Radjiman Wediodiningrat mengungkapkan enam hingga sembilan orang dari setiap seribu jiwa di Jawa Timur adalah psikopat. Jumlah mereka, kata Eko Susanto, direktur rumah sakit di Lawang, Kabupaten Malang, Jawa Timur, itu, mencapai 228 ribu orang—dari 38 juta penduduk.

“Saya yakin jumlahnya bertambah,” kata Eko. Tapi, menurut dia, untuk meneliti kembali keberadaan psikopat di tengah masyarakat dibutuhkan biaya cukup besar.

Selain tentang psikopat, penelitian itu menemukan adanya penderita gangguan jiwa berat atau gila yang mencapai 114 ribu orang. Dari total penderita, hanya 10 persen yang diopname dan sisanya berkeliaran.

Eko menjelaskan, keberadaan psikopat lebih berbahaya daripada penderita gangguan jiwa berat. Apalagi mereka bisa ditemukan pada beragam profesi dan kelas sosial, laki-laki ataupun perempuan. Psikopat makin sulit dideteksi karena lebih banyak yang berkeliaran daripada yang dipenjara.

Menurut Eko, ada tiga ciri utama seorang psikopat, yakni egosentris, tidak punya empati, dan tak pernah menyesal. Penderita gangguan jiwa ini bisa melakukan apa saja yang dia inginkan, dan dia merasa yakin perbuatannya benar.

Selain itu, Eko mengungkapkan, psikopat punya ciri spesifik, seperti emosi yang dangkal, manipulatif, pembohong, pintar bicara, toleransi yang rendah terhadap frustrasi, membangun relasi yang singkat dan episodik, gaya hidup parasitik, dan melanggar norma sosial yang persisten.

Menurut psikiater Limas Sutanto, psikopat adalah gejala yang dialami seseorang yang mengalami gangguan kepribadian antisosial. “Gangguan ini ditandai adanya keengganan untuk menaati norma sosial umum,” katanya. Penyebab gangguan ini ada dua, yakni psikososial dan biologi.

Limas menjelaskan, gangguan psikososial biasanya disebabkan oleh rasa takut seseorang untuk menjalin hubungan yang dekat dengan sesama manusia. Kondisi ini menyebabkan seseorang cemas, takut, dan khawatir. Sedangkan dari segi biologi, biasanya terjadi karena adanya perubahan pada psikis dan kimiawi tubuh yang disebabkan oleh ketakutan, rasa cemas, dan frustrasi. “Rasa cemas timbul karena kegagalan dalam struktur kepribadian yang bernama superego,” ujarnya.

Eko mengatakan tak semua psikopat identik dengan pelaku kriminal. Tapi, realitasnya, dalam kasus kriminal, psikopat dikenali sebagai pembunuh, pemerkosa, pemabuk, penjudi, penipu, pelaku kekerasan dalam rumah tangga, pelaku bunuh diri, juga koruptor.

Menurut Eko, koruptor tergolong psikopat karena punya ciri suka berpenampilan sempurna, pandai bertutur, mempesona, punya daya tarik luar biasa, dan menyenangkan. Dia selalu membuat kamuflase rumit, memutarbalikkan fakta, menebar fitnah, dan berbohong untuk mendapatkan kepuasan serta keuntungan sendiri. ABDI PURNOMO | BIBIN BINTARIADI – Koran Tempo

Tinggalkan komentar

Filed under Berita, Malang, Pendidikan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s