Belajar Menikmati Kekalahan yang Indah

Belum lama Super Liga Indonesia berputar, kerusuhan sudah terjadi. Bobotoh Persib mengamuk karena dikalahkan musuh bebuyutan mereka, Persija. Tidak cuma mengamuk di dalam stadion, tetapi juga diteruskan di luar stadion, mencari sasaran mobil-mobil yang berpelat B.

Publik selalu bertanya-tanya dan mungkin ngedumel serta mengomel, kalau begitu apa gunanya diadakan kompetisi yang tiap tahun menyedot anggaran negara (dan rakyat) puluhan miliar. Duit APBD yang seharusnya digunakan menyejahterakan rakyat, malah tidak menghasilkan apa pun kecuali kehancuran kaca-kaca mobil setelah kalahnya sebuah klub.

Jika pada kompetisi sepak bola saja publik sudah dibuat pening, maka yang terjadi pada kompetisi politik lebih membuat pening, bahkan mungkin sudah sampai taraf memuakkan. Pemilihan kepala daerah adalah kompetisi untuk mencari calon pemimpin yang tangguh, kapabel, dan, tak ketinggalan, fair play dan jujur.

Yang terjadi kebalikannya, pilkada menjadi ajang konflik para elite partai dan organisasi masa, saling gelar kelicikan dan tipu daya. Yang paling dahsyat salah satunya proses pilkada Maluku Utara, yang hampir setahun terkatung-katung dalam konflik. Bahkan konfliknya sudah menjurus ke konflik fisik, bakar-bakaran, sambil dikipasi oleh konflik politik elitenya yang ada di Jakarta. Rakyat provinsi itu dibiarkan tanpa pemimpin resmi, terbelah menjadi dua kubu, saling serang. Sungguh membuat pening kepala.

Mungkin ada yang salah pada nilai-nilai pendidikan kita. Pengkultusan terhadap kompetisi sungguh terlalu utama, yang terbaik adalah yang mendapat nilai paling tinggi di ujian akhir/nasional, tanpa peduli nilai itu didapat dari bantuan sana-sini, terutama kepala sekolah dan gurunya.

Mungkin kita harus merevaluasi nilai-nilai pendidikan dan tradisi kita. Menjadikan kompetisi hanya sebagai kawah candradimuka, sebuah sasaran antara untuk meraih kemenangan, melahirkan sang juara sejati. Kompetisi diadakan untuk mencari pemenang, memang, tetapi tidak melulu itu tujuannya. Semangat dan gairah untuk menuju kemenangan dan menjalani pengalaman melawan orang/kelompok lain, itu lebih penting. Sangat penting pula jika kemenangan yang diraih dengan jalan yang legal, fair play, bukannya mencari-cari jalan belakang, menghalalkan segala cara.

Yuris Ishak
Malang, Koran Tempo

Tinggalkan komentar

Filed under Indonesia, Malang, Pendidikan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s