Poktan Kopi Butuh Pengolah Biji

Dua kelompok petani (Poktan) Kopi di Kecamatan Wonosari bakal menyusul Pokta komoditi serupa di wilayah Amsterdam (Ampelgading, Tirtoyudo, dan Dampit). Dalam pembahasan Perubahan Anggaran Keuangan (PAK) Jumat (8/8), Dewan Kabupaten Malang mengusulkan dua unit alat pengolah biji kopi untuk Kecamatan Wonosari. Diharapkan dua alat tersebut mampu meningkatkan kapasitas produksi para petani kopi di wilayah tersebut.

Menurut Ketua Komisi B, H. Choirul Anam, SH, selama ini para petani kopi di kecamatan Wonosari hanya menggunakan cara manual. Sehingga kapasitas produksi mereka amat jauh dari harapan, karena tersedot pada pabrik pengolah kopi. Sehingga alat pengolah kopi amat dibutuhkan untuk kecamatan yang mempunyai dua kelompok petani kopi tersebut. “Kami usulkan dua unit, satu unit kira-kira seharga Rp 260 juta,” ujar Anam.

Dia menambahkan, sebelumnya Pemkab Malang telah mengucurkan bantuan senilai Rp 1 miliar kepada petani kopi di wilayah Amsterdam itu. Bantuan tersebut berupa empat unit peralatan pengolah kopi untuk memacu produktivitas para petani kopi.

Ketua Kelompok Tani dan Nelayan Andalan (KTNA) itu optimis, bantuan empat unit peralatan pengolah kopi tersebut mampu meningkatkan perekonomian para petani Kopi.

“Selama ini petani kopi hanya mampu menjual produk kopi dalam bentuk mentah (biji). Sehingga perolehan keuntungan para petani dari sektor ini belum maksimal. Mereka bekerjasama dengan PT Asal Jaya sebagai pengolah biji kopi,” paparnya.

Menurut Anam, selama satu tahun para petani Amsterdam mampu menghasilkan panenan sebanyak 200 ton. Sedangkan di pasaran lokal, harga biji kopi per kilogram mencapai Rp 16 ribu. Padahal harga bisa lebih tinggi jika para petani mampu menjual dalam bentuk olahan. “Sayangnya para petani tidak mempunyai peralatan pengolah sendiri, sehingga keuntungannya masih kecil,” tuturnya.

Anam menambahkan, unit pengolah kopi itu mempunyai kelebihan menghemat kerja para petani. Diantaranya, menggiling biji kopi, mengeringkan biji kopi hasil olahan dalam satu kali kerja. Tak hanya itu, alat pengolah kopi itu juga berfungsi pemolesan produk kopi. “Diperkirakan harga kopi olahan ini bisa meningkat lebih dari Rp 18 ribu per kilogram,” ujarnya.

Secara terpisah, Kepala Dinas Koperasi, Perindustrian dan Perdagangan (Diskoperindag) Kabupaten Malang Syakur Kullu mengatakan, kopi merupakan komoditi eksport andalan Kabupaten Malang. Pada tahun 2007, eksport biji kopi Kabupaten Malang mencapai Rp 52 USD. Komoditi biji kopi itu membuat surplus ekspor tahun 2007 meningkat sebesar 39 persen. (ary/udi) (Bagus/malangpost)

Tinggalkan komentar

Filed under Kabupaten Malang, Malang Raya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s