Guru BK Tak Maksimal

Hudaniah M.Si Psi

Hudaniah M.Si Psi

PAKAR Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Hudaniah M.Si Psi memiliki beberapa analisis terkait munculnya Geng Nero di Kota Malang. Geng yang muncul di kalangan pelajar ini disebabkan oleh beberapa hal. Salah satunya adalah kurang maksimalnya peranan guru Bimbingan Konseling (BK) yang ada di sekolah.

“Sebenarnya setiap sekolah punya guru BK, namun memang tidak mungkin bisa memantau ratusan siswa sementara jumlah guru BK biasanya hanya satu atau dua orang. Hanya saja kecenderungannya guru BK lebih banyak bertindak jika ada masalah. Usaha preventifnya belum ada,” ungkapnya ditemui di Laboratorium Psikologi UMM kemarin.

Hudan, panggilan akrabnya menuturkan perkelahian pelajar yang terjadi sekolah jelas punya andil. Namun tidak bisa dituntut seratus persen.

Sebab terkadang sekolah ingin membangun komunikasi efektif dengan orang tua, dan seringkali orang tua tidak punya waktu. Faktor keluarga dari anak juga berpengaruh terhadap pembentukan perilaku anak. Apalagi saat ini orang tua baik yang ekonomi atas maupun bawah, lebih banyak sibuk bekerja. Akibatnya perhatian terhadap perilaku anak pun sulit dipantau. Hal sepele saja, saat kecil anak dibiasakan menonton film seperti Tom and Jerry yang banyak memunculkan pertengkaran. Jika tidak ada arahan, maka anak akan cenderung agresif.

Alumnus S2 UGM Yogyakarta ini menegaskan sebenarnya naluri untuk berkelahi atau mempertahankan diri dengan cara kekerasan tidak mutlak milik laki-laki saja. perempuan juga bisa melakukan kekerasan karena secara instingtif laki-laki dan perempuan punya naluri untuk mempertahankan diri saat diserang. “Hanya saja secara sosial, perempuan dikodratkan untuk lemah lembut, feminin, dan lebih halus. Sementara laki-laki lebih maskulin dan kuat. Karena tuntutan sosial inilah, perkelahian yang dilakukan perempuan menjadi lebih istimewa,” lanjutnya.

Soal kecenderungan membentuk kelompok, ungkap dia remaja dalam psikologi perkembangan remaja biasanya cenderung membentuk geng yang berangkat dari kesamaan latar belakang, minat, visi baik positif atau negatif. Dan kelompok ini akan semakin kuat saat usia SMP dan SMA. Karena pada masa itu remaja cenderung menunjukkan identitas bahwa mereka bukan anak-anak lagi dan bisa lepas dari orang tua.

“Jadi kalau sampai ada kelompok yang cenderung negatif itu penyebabnya sangat komplek. Baik karena peranan orang tua yang kurang, maupun karena masyarakat lingkungannya yang cenderung tidak memiliki kontrol sosial lagi,” kata dia. (ary/mar) (bagus ary/malangpost)

Tinggalkan komentar

Filed under Berita, Malang, Pendidikan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s