Petani Budidaya Ikan Tawar Jaring Sekat Merugi

Ikan mati mengapung di karamba milik satu petani ikan tawar di Desa Rekesan, Kec Sumberpucung.

Ikan mati mengapung di karamba milik satu petani ikan tawar di Desa Rekesan, Kec Sumberpucung.

Dampak dari matinya ribuan ikan di Bendungan Sutami Kecamatan Sumberpucung beberapa waktu lalu mulai dirasakan petani ikan tawar jaring sekat. Pasalnya, budidaya ikan tawar yang dimiliki petani tersebut juga terancam mati. Hal itu ditunjukkan dengan tanda-tanda ikan tidak sehat. Sehingga petani terpaksa memanen lebih awal.

Petani ikan tawar yang banyak mengalami kerugian di Desa Rekesan Kec Sumberpucung dan Desa Sukowilangun, Kec Kalipare. Dari dua desa itu warga yang berada disekitar Bendungan Sutami mayoritas sebagai petani ikan tawar.

“Petani memanen ikan yang masih dalam keadaan sekarat, dan untuk ikan yang diketahui mati mengambang dipermukaan air, tidak ikut dipanen,” ungkap Sekretaris Masyarakat Korban Pencemaran Waduk Karangkates (MKPWK) MH Rokib beberapa waktu lalu.

Dikatakannya, petani telah mengalami kerugian yang tidak sedikit akibat kejadian itu. Karena ikan yang mati per hari rata-rata bisa mencapai lima kwintal beberapa hari setelah matinya ribuan ikan di bendungan Sutami (13/8) lalu. Sehingga terpaksa petani melakukan panen sebelum waktunya. Sebab, bila tidak cepat dipanen, maka petani akan mengalami kerugian yang lebih besar.

Menurutnya, petani memanen ikan yang masih berumur satu bulan. Karena pada awal bulan Juli 2008 lalu, petani baru memasukkan bibit ikan. Sehingga saat dipanen kondisi ikan masih kecil, dan sebenarnya tidak layak untuk dijual.

“Padahal, sebelumnya kami telah menebarkan bibit ikan jenis nila sebanyak 3 kwintal. Kalau dihitung bijian jumlahnya puluhan ribu ikan, sedangkan untuk biaya pembelian bibit ikan sebanyak 1 kwintal dan perawatan hingga panen, kami telah mengeluarkan uang sebesar Rp 5-7 Juta, selama empat bulan,” jelasnya.

Diakui, hingga kini pihaknya masih belum bisa menghitung berapa jumlah kerugian akibat banyaknya ikan yang mati. Namun, yang pasti petani ikan tawar kerugiannya mencapai puluhan juta rupiah. Selain itu, menurut Rokib, para petani ikan tawar akan melakukan protes pada Pemkab Malang, terkait seringnya air di Bendungan Sutami tercemar, yang mungkin disebabkan pembuangan limbah pabrik, dibuang di sepanjang daerah aliran sungai (DAS) Brantas. Sehingga limbah pabrik tersebut masuk di Bendungan Sutami.

Hal ini dibuktikan dengan seringnya ikan sekarat dan mati hampir tiap tahun. “Tetapi kejadian seperti ini Pemkab Malang selalu lambat dalam menanganinya dan terkesan tidak ada perhatian sama sekali terhadap petani ikan tawar,” tegas Rokib.(eno/malangpost)

Tinggalkan komentar

Filed under Berita, Kabupaten Malang, Malang Raya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s