PLS UM Kenalkan Bakso Kepala Sapi

Siswa Kejar Paket B yang membuka stan untuk berjualan bakso Kepala Sapi, yang diminati pengunjung

Siswa Kejar Paket B yang membuka stan untuk berjualan bakso Kepala Sapi, yang diminati pengunjung


Ada satu nama bakso baru yang kini banyak dijumpai di Kota Malang, yaitu Bakso Kepala Sapi. Dari namanya saja memang unik, rasanya pun khas. Siapa sangka, ternyata bakso baru ini penjualnya mahasiswa dan warga belajar (WB) Paket B binaan Universitas Negeri Malang (UM).

Bakso gerobak ini sudah mulai disebar di beberapa lokasi di Malang, tidak hanya di UM. Seperti di Karang Besuki Kecamatan Sukun, di RSSA Malang, dan di Kemirahan yang dikelola WB Paket B Program Pendidikan Luar Sekolah (PLS) Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) UM. Sementara stand lainnya dikelola umum dengan melibatkan mahasiswa dan juga WB.

Di UM kemarin, suasana stand bakso ini nampak ramai. Beberapa mahasiswa terlihat tidak sabar menunggu kuah bakso yang baru diangkat dari perapian. Maklum saja, bakso baru saja ditata dan belum dibuka. Namun pembelinya sudah antre. “Rasanya enak, pentol baksonya yang berbeda. Gurih sekali dan berserat. Pokoknya mak nyus,” komentar Eka, salah satu mahasiswa UM.

Konsep belajar sambil bekerja, setidaknya hal itulah yang ditanamkan pada siswa. Berjualan bakso sebenarnya dilakukan untuk memberikan tambahan penghasilan bagi anak-anak warga belajar Paket B atau setara SMP. “Harapannya, mereka bisa menjadi juragan kecil,” ungkap Koordinator Program, Imam Hambali kepada Malang Post.

Belajar sembari bekerja bukanlah hal yang mustahil bagi anak-anak WB. Sembari menunggu pembeli, anak-anak tetap disarankan untuk membaca modul pembelajaran. Sehingga sekali dayung dua tiga pulau terlampaui. Sembari bekerja mencari uang, anak-anak bisa tetap belajar dan menamatkan pendidikannya hingga mendapatkan ijazah setara SMP. Target ke depan, warga belajar ini pun bisa melanjutkan hingga tuntas Paket C atau setara SMA.

Program berjualan bakso ini baru dilaksanakan awal Agustus lalu. Berawal dari diterimanya bantuan beasiswa keterampilan untuk WB Paket B, yang merupakan kerja sama antara jurusan PLS dengan Direktorat Pendidikan Non Formal. Bantuan diberikan sebesar Rp 5 juta per WB. Sementara ada 30 WB yang mendapatkannya, dengan nilai sebesar Rp 1,5 juta dipergunakan untuk modal awal per anak. Sebab untuk menjalankan satu rombong dibutuhkan Rp 7,5 juta lengkap dengan isinya. Karena itu, satu rombong dikelola oleh tiga WB.

“Karena ini adalah sistem franchise, jadi kita membeli merk dan isinya. Sementara anak-anak bertugas untuk mengembangkan pemasarannya,” ungkap Imam.

Pria yang juga Dosen PLS FIP UM ini menuturkan, keuntungan penjualan bisa dinikmati oleh WB. Harapannya, bisa dipergunakan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari mereka. (rosida/malangpost) (Lailatul Rosida/malangpost)

Tinggalkan komentar

Filed under Malang, Malang Raya, Pendidikan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s