Bakso Kepala Sapi, Inovasi PLS-UM

Di kawasan Karangbesuki Kota Malang, beberapa minggu terakhir ini selalu dilewati bakso dengan merk Kepala Sapi. Warga tentunya sudah tidak asing dengan sosok penjualnya. Dialah Arif Wijayanto. Tubuhnya tinggi, kulitnya agak kecoklatan.

Sore kemarin sekitar pukul 14.30 WIB, Arif nampak berhenti di sudut jalan. Rombong bakso diparkirnya agak ke tepi. Sembari menunggu orang beli, ia nampak santai memperhatikan kendaraan yang lalu lalang. “Biasanya begini, kadang saya keliling untuk berjualan, kadang juga berhenti,” ungkapnya saat disapa Malang Post.

Arif adalah salah satu warga belajar (WB) Pendidikan Kesetaraan Paket B (Setara SMP) Program Pendidikan Luar Sekolah (PLS) Universitas Negeri Malang (UM). Sejak tiga minggu ini, dia mempunyai profesi baru, yaitu berjualan bakso kepala sapi. Rombong, dan isinya semuanya didapatkannya tanpa modal sendiri. Itu adalah beasiswa yang didapatkan dari Direktorat Kesetaraan Dirjen Pendidikan Non Formal Indonesia (PNFI) Depdiknas. Bersama anggota WB yang lain, dia pun bisa mendapatkan pekerjaan tetap dengan berjualan bakso. “Sebelumnya saya bekerja di industri kerajinan. Tapi, saya berhenti karena gajinya sedikit. Cuma Rp 80 ribu per minggu,” ungkapnya.

Pria berusia 21 tahun ini menuturkan, penghasilannya berjualan bakso jauh melebihi pendapatannya di pekerjaan sebelumnya. Di sini ia bisa mendapatkan Rp 80 ribu hanya dalam satu hari saja. Karena itu, Arif senang sekali bisa mendapatkan beasiswa tersebut. Apalagi dengan bekerja, ia tetap bisa sekolah dan menyelesaikan pendidikan setingkat SMP.

Arif biasanya belajar di UM setiap Senin sampai Rabu. Kalau sedang ada jadwal sekolah, biasanya tidak berjualan. “Biasanya sekolah masuknya jam 16.00 WIB. Kalau pas sekolah, saya sorenya tidak jualan,” ungkapnya.

Sehari-hari, berjualan mulai pukul 09.00 WIB sampai pukul 19.00 WIB. Kadang bakso kepala sapi yang dijualnya bisa habis, kadang juga tidak. Namun, Arif tidak putus asa, apalagi ia mempunyai keinginan besar punya motor. “Dengan laba ini saya ingin menabung dan beli motor,” tuturnya.

Soal pengalaman saat berjualan, menurutnya ada banyak pengalaman seru yang dijumpai. Seperti saat menghitung jumlah uang yang harus dibayar pembeli. Seringkali ia salah hitung, untungnya pembelinya jujur.

Anak-anak kurang beruntung ini dihadapkan pada kenyataan tuntutan kebutuhan tinggi, dengan kemampuan keuangan yang pas-pasan. Arif yang dulunya hanya tamatan Madrasah, dulunya tidak ada harapan melanjutkan. Namun melalui program Paket B, ia bisa melanjutkan studi untuk mendapatkan ijazah setara SMP. Tidak hanya itu, melalui program ini kini sudah bisa mendapatkan pekerjaan yang baginya sangat berguna untuk menopang ekonomi keluarga. (rosida/habis) (Lailatul Rosida/malangpost)

1 Komentar

Filed under Malang, Pendidikan

One response to “Bakso Kepala Sapi, Inovasi PLS-UM

  1. heru

    saya dukung terus ada banyak wiraswasta muda hidup para penyumbang dana wiraswasta tanpa kehadiranmu negara tidak maju.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s