Melihat Pasar Kagetan Sawojajar yang Muncul Saat Ramadhan

Memasuki area Pasar Ramadan di Cinemax Café, beragam makanan siap santap, tersaji dimeja-meja kecil para penjual makanan. Rasa ingin tahu akan keberagaman makanan langsung muncul. Apalagi menu yang disajikan, menggungah selera memaksa, memaksa kedua mata kita, untuk menelusuri sepanjang jalan yang dihimpit oleh ratusan penjual makanan tradisional dan modern tersebut.

‘’Nasinya mas, buat persiapan buka. Ada es buah, mas,’’ sapa salah satu penjual pada Malang Post saat memasuki kawasan Pasar Ramadan.

Ratusan bahkan mungkin ribuan jenis makanan dapat dijumpai di area yang berada di belakang ruko Sawojajar tersebut. Mulai dari makanan jadul (jaman dulu), seperti kerak pisang hingga hamburger yang akrab di kalangan anak muda masa kini.

Sebagian penjual, menyediakan berbagai macam lauk pauk siap saji yang cukup murah dan beragam. Diantaranya mangut lele, lodeh, kare, tumis kangkung, bahkan sambel korek yang ekstra pedas pun dijual di kawasan sepanjang 500 meter tersebut.

‘’Saya senang dengan adanya Pasar Ramadan ini. Bagi pekerja kantor seperti saya ini cocok. Gak usah repot kalo mau beli makanan buat anak dan suami. Tinggal bayar dan kita bisa makan sesuai selera kita. Kalo bisa ya ada setiap hari aja,’’ ujar Dewi ibu rumah tangga yang tinggal di Sawojajar pada Malang Post.

Bagi sebagian warga Sawojajar, keberadaan Pasar Ramadan tersebut sangat membantu mereka. Terutama para ibu yang disibukan dengan aktivitas diluar rumah sebagai pekerja atau yang lain. Bagaimana tidak, makanan khas Jawa Timur bahkan bubur Manado pun semua ada.

Para penjual tak hanya asli orang Malang, kebanyakan para pendatang dari luar pulau yang merantau di Kota Malang yang tiap harinya berjualan makan khas daerah mereka di sekitar kawasan Sawojajar, di bulan Ramadan ini memilih untuk menjajakan dagangan mereka di tempat ini.

Hal ini dikarenakan owner Cinemax Café hanya mengharuskan untuk membayar biaya pendaftaran sebesar Rp 10 ribu/ orang, dan iuran harian yang berkisar seribu hingga tiga ribu rupiah, tergantung besar stand yang mereka pakai.

‘’Kalau pas hari puasa, kan kita sepi pembeli, meskipun keliing perumahan. Jadi mumpung ada stand seperti ini kita ikut terbantu masalah tempat penjualan,’’ terang Awaludin pemuda perantauan asli Medan yang telah dua tahun mengadu nasib di Kota Malang dengan berjualan bubur Manado.
Di tempat lain, owner Cinemax Café Drs Nurudin Huda mengatakan, dirinya sengaja membuat kawasan Pasar Ramadan sejak setahun lalu untuk menampung para penjual makanan dadakan yang dulunya berjualan di sepanjang jalan Danau Toba Sawojajar Malang.
Namun tak bisa dipungkiri pula, omzet penjualan makanan di kafenya juga meningkat sejak keberadaan Pasar Ramadan tersebut. Begitu banyak masyarakat dari luar kawasan Sawojajar yang datang ke pasar tersebut secara tidak langsung mengetahui keberadaan cafenya dan penasaran untuk mencoba makanan dan suasana yang ditawarkan.

‘’Saya sengaja membuat kawasan tersebut, bukan untuk mengeruk keuntungan dari bayaran mereka. Tapi lebih kepada penataan para penjual yang akan lebih menarik jika para penjual di kawasan sepanjang Jalan Danau Toba yang dulu memenuhi badan jalan, kini disediakan tempat yang lebih menarik dengan sentuhan live music dari cinemax café tiap harinya,’’ pungkas Nurudin. (Rendy Sebastian Ramadhan)
(rendy/malangpost)

Tinggalkan komentar

Filed under Malang, Malang Raya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s