Aremania-Panpel Tak Masuk Agenda Komdis

Hikmah sanksi tak boleh masuk ke stadion di seluruh Indonesia selama dua tahun dalam even resmi PSSI mulai dirasakan Aremania. Salah satu hikmah yang bakal dirasakannya adalah kemungkinan penonton fanatik Arema itu terlepas dari sanksi akibat kerusuhan yang terjadi pada Sabtu (13/9) malam lalu, usai pertandingan Arema versus Bontang PKT di Stadion Kanjuruhan.

Bahkan, jelas anggota Komisi Disiplin (Komdis) PSSI Joko Driyono, komdis tak akan membahas kerusuhan yang dilakukan Aremania. “Bagi kami, Aremania itu tak ada. Karena Aremania dilarang masuk ke stadion. Dan penonton yang masuk ke stadion itu tak teridenfikasi sebagai Aremania,” ucap Joko melalui teleponnya kemarin (14/9).

Karenanya komdis menganggap bahwa kerusuhan yang dilakukan penonton di Kanjuruhan tersebut bukan dilakukan Aremania. Sehingga Aremania tak bisa dikenai sanksi. Beberapa kerusuhan yang dilakukan penonton di antaranya adalah merusak fasilitas stadion seperti pintu dan kursi, melakukan pembakaran di berbagai sudut tribun, dan menyalakan petasan.

Penonton juga melakukan pelemparan terhadap pemain PKT dan perangkat pertandingan. Mereka juga terlibat bentrok dengan aparat keamanan.

Selain Aremania, pihak lain yang tampaknya juga bakal terlepas dari sanksi adalah panitia pelaksana pertandingan (panpel) Arema. Karena panpel dianggap telah sukses menggelar pertandingan selama 90 menit tanpa ada kerusuhan.

Kalaupun ada kerusuhan di lapangan, peristiwanya terjadi setelah pertandingan usai. Dan penyebabnya bukan karena ketidaksigapan panpel. Namun lebih dikarenakan ulah ofisial Arema yang tak terpuji dan tak bisa menahan emosi. Sehingga pertandingan yang sebelumnya berlangsung dalam suasana normal berakhir dengan rusuh. “Panpel sudah berusaha maksimal. Kami menghargai usaha panpel yang selama ini sukses menggelar pertandingan,” puji Joko.

Dalam laga itu, panpel memang berusaha mengamankan jalannya pertandingan secara maksimal. Selain menyiapkan aparat keamanan berjumlah sekitar seribu personel, panpel juga melakukan razia ketat di pintu-pintu masuk tribun.

Tak hanya itu, panpel juga langsung bereaksi cepat ketika melihat ulah-ulah penonton yang tak simpatik. Selain itu, panpel setiap saat mengingatkan penonton agar tak melakukan aksi-aksi di luar koridor melalui master of ceremony (MC) ataupun spanduk-spanduk di pinggir lapangan.

Bahkan, saat terjadi kerusuhan, ketua panpel Arema Muhammad Muklis terkena lemparan batu dari penonton. Akibatnya dia harus menjalani operasi kecil di wajahnya di Rumah Sakit Umum Daerah Kanjuruhan, Kepanjen. Ada delapan jahitan di wajah Muklis. (fir/abm/radar malang)

Tinggalkan komentar

Filed under Berita, Indonesia, Malang, Malang Raya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s