Skenario Penjegalan Arema

Ketika semakin tinggi pohon itu tumbuh, semakin kencang tiupan angin yang menerpa. Pepatah itu tampaknya sedikit banyak mulai tergambar pada perjalanan skuad Arema di kompetisi Superliga.
Bagaimana tidak, memasuki matchday kesembilan, Singo Edan mulai mendapat tekanan lebih berat dibanding sebelumnya. Karena ketika itu, Arema berada di puncak klasemen.

Tekanan itu tidak hanya muncul dari kekuatan teknis permainan lawan yang mereka hadapi di lapangan. Tapi juga kekuatan non teknis dari pihak tertentu, yang tersirat ingin menjegal Singo Edan agar tidak mampu mempertahankan posisinya di puncak klasemen Superliga.

Paling tidak, fenomena tersebut dirasakan Pembina Arema, Darjoto Setyawan setelah Arema tumbang 1-2 dari PKT Bontang, Sabtu (13/9) lalu.

Kala itu, Suroso dkk justru teraniaya ketika tampil di kandang sendiri, Stadion Kanjuruhan Kepanjen. Wasit Suprihatin (Magelang) dan dua asistennya bertugas tidak tegas dan banyak mengambil keputusan yang kontroversi.

‘’Betul sekali. Banyak pihak dengan berbagai skenario yang tidak menghendaki Singo Edan berada di puncak prestasi. Sangat menyedihkan. Sangat kami sayangkan. Hidup Arema,’’ terang Darjoto kepada Malang Post melalui ponselnya, semalam.

Menjamu PKT, Arema seharusnya mampu memenangkan pertandingan di hadapan publiknya sendiri. Terlepas kurang beruntung dan tampil tergesa-gesa saat mendapatkan peluang cetak gol, tim asuhan pelatih Gusnul Yakin ini juga harus menghadapi wasit dan dua asisten wasit yang dirasakan lebih berpihak kepada tim tamu.

Banyak pelanggaran keras pemain PKT tidak berbuah pelanggaran dan peringatan. Arema seharusnya mendapat hadiah penalti saat Fandy Mochtar ditackling keras dari belakang oleh pemain PKT menit 33 di kotak penalti lawan.

Kala itu, wasit sudah sempat mengarahkan tangannya ke tengah kotak sebagai pertanda PKT diganjar hukuman penalti. Bahkan, pemain-pemain PKT sudah memprotes keputusan wasit dengan mendorong-dorong wasit.

Akibatnya sangat manjur. Wasit langsung merubah posisi telunjuknya dari titik tengah ke pojok. Alias dari keputusan sebelumnya tendangan penalti, berubah menjadi tendangan penjuru.

Demikian dengan pelanggaran keras dari belakang oleh pemain PKT terhadap Emile Bertrand Mbamba menit 77. Wasit Suprihatin hanya memberikan free kick bagi Arema, sedangkan pemain PKT tidak diganjar kartu.

Keputusan itu menyulut Mbamba protes keras dan wasit malah mengganjar striker impor andalan Arema itu dengan dua kartu kuning dalam selang semenit, kemudian kartu merah.

Klimaknya, awak Arema pun kecewa berat setelah pertandingan berakhir dengan keunggulan PKT. Wasit dan asisten wasit menjadi sasaran kekecewaan itu.

Pemandangan tersebut juga memicu beberapa penonton masuk ke lapangan dan melempari perangkat pertandingan. Mereka juga terpaksa berhadapan dengan aparat keamanan yang bertugas di laga kemarin.

‘’Saya sangat menyayangkan peristiwa yang terjadi pada pertandingan Arema vs PKT Bontang kemarin. Semua dipicu oleh ketidakmampuan wasit, asisten wasit dan pengawas pertandingan. Demikianlah wajah sepakbola Indonesia. Sangat memprihatinkan,’’ tambah Darjoto. (poy) (poy harry/malangpost)

Tinggalkan komentar

Filed under Berita, Malang, Malang Raya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s