Siswi Tersangka Penganiaya Diberhentikan dari SMA Shalahuddin

Sanksi tegas akhirnya diberikan pihak SMA Shalahuddin terhadap Ika Widya Safitri. Siswa kelas XII IPS 2, ini akhirnya dikembalikan kepada orang tuanya.

Ironisnya lagi, dalam surat yang diberikan oleh pihak sekolah dengan persetujuan Disdik Kota Malang tersebut, Widya terancam tidak bisa melanjutkan sekolah di lingkungan Disdik Kota Malang.

Sontak hal ini membuat penasehat hukumnya Eko Arif Mujiantono kecewa. Terlebih, saat kliennya kemungkinan tidak bisa melanjutkan sekolah di lingkungan Disdik Kota Malang. Eko pun mengancam akan menggunggat Disdik Kota Malang.

‘’Kami jelas sangat kecewa dengan sanksi yang diberikan. Jika ini dampak dari kasus penganiayaan yang sedang ditangani pihak kepolisian, kan prosesnya masih berjalan. Dan klien saya juga belum tentu bersalah. Apalagi, dari pihak pelapor sendiri (Arily Safitri, Red.) juga sempat membalas memukul, sehingga kasus tersebut tidak bisa dikatakan penganiayaan murni,’’ kata Eko.

Langkah pihak SMA Shalahuddin dan Disdik Kota Malang dinilai Eko telah melanggar hak azasi kliennya untuk mendapatkan pendidikan. Padahal, sesuai hukum di Indonesia, setiap anak wajab mendapatkan pendidikan yang layak.

Dijelaskan Eko, saat maraknya kasus penganiayaan yang dilaporkan Arily Safitri Jumat (8/8) lalu, pihak SMA Shalahuddin memang memanggil orang tua Widya, yang selanjutnya dihadapkan kepada pihak Disdik. Saat itu Disdik memberikan pilihan, terkait kelanjutan sekolah itu.

Pilihan pertama adalah, memindah sekolahkan Widya dari SMA Shalahuddin, atau memiliki keputusan sendiri, atau menyerahkan semuanya kepada pihak Sekolah.

Karena pihak orang tua Widya tidak memiliki pilihan dan tiba-tiba muncul surat dari SMA Shalahuddin dengan persetujuan Disdik, memberhentikan Widya.

‘’Dasar pemberhentian ini apa? Jelas kami tidak terima dan sangat kecewa. Sedangkan penyelesaian secara hukum juga masih berjalan,’’ terang Eko yang dikonfirmasi Malang Post melalui telepon tadi malam dengan nada geram.

Selama waktu istirahat ini, kata Eko, kliennya lebih banyak memperdalam ilmu agama. Malah, Widya dititipkan di salah satu Ponpes di wilayah Kota Malang.

‘’Dia baik-baik saja dan kami selalu memberikan suport, sekaligus berusaha membimbing dia untuk sabar. Saat ini dia ada di salah satu ponpes untuk lebih memperdalam ilmu agama,’’ tandas Eko.

Sementara itu, selain Widya, Arily Safitri pun juga mengalami hal yang sama. Arily yang notabene korban penganiayaan dan pelapor dalam kasus penganiayaan tersebut, juga mendapatkan surat yang sama dari pihak SMA Shalahuddin.

Menurut informasi, gadis berusia 17 tahun tersebut saat ini berada di Surabaya. Namun berita pemberhentian Arily ini disangkal oleh kuasa hukumnya Maskur SH.

Menurut Maskur, kliennya tidak diberhentikan, tapi sengaja mengundurkan diri. Pertimbangannya adalah karena lingkungan sekolah sudah tidak lagi mendukung kenyamanan kliennya untuk melaksanakan kegiatan belajar mengajar.

‘’Kalau sudah tidak nyaman, pastinya pelajaran itu tidak bisa terserap dengan baik. Itu sebabnya, kami sengaja mengundurkan diri, dan memilih untuk pindah ke sekolah lain,’’ kata Maskur.

Maskur sendiri mengatakan, pihak sekolah dinilai kurang bijaksana dan meremehkan proses hukum. Menurutnya, sudah menjadi kewajiban korban pelaku kriminal untuk melapor ke polisi, karena ini adalah negara hukum. Tapi kenyataannya, bukan dukungan positif yang diberikan pihak sekolah, malah memberikan kesan menyalahkan.

‘’Kasus ini kriminal murni, yaitu ada penganiayaan. Jika kasus ini akhirnya berkembang menjadi informasi umum, setelah adanya peliputan oleh wartawan, itu bukan salah klien kami. Sehingga harusnya pihak sekolah bijak, bukan malah menyalahkan klien kami,’’ tandas Maskur sambil mengatakan jika saat ini kliennya sudah aman dan nyaman melanjutkan sekolahnya di salah satu SMA di Kota Surabaya.

Selain dua siswa tersebut yang mendapat sanksi tegas, informasinya pihak sekolah juga memberikan surat peringatan kepada dua siswi lainnya, yaitu Lia dan Anis, yang merupakan rekan dari Widya. Namun begitu, sanksi apa yang diterima keduanya sampai saat ini belum diketahui pasti.

‘’Semuanya dikeluarkan dari sekolah, pertama Arily, kedua Widya, dan menyusul dua rekannya yang lain. Hanya satu saja yang tersisa, dan tetap melanjutkan sekolah sampai saat ini adalah Ria,’’ kata salah satu sumber Malang Post yang tidak mau disebut namanya.

Sayangnya ketika hal itu dikonfirmasikan ke Kepala Sekolah SMA Shalahuddin, Safilin, enggan berkomentar. Malah pria yang ditemui Malang Post di ruang TU ini lebih banyak berharap berita ini tidak lagi dipublikasikan. ‘’Tolonglah, jangan lagi kasus ini diberitakan. Sudah cukup bagi kami, dan kami juga sudah berbuat yang seharusnya kami perbuat,’’ kata Safilin.

Safilin sendiri mengaku sangat kecewa, dengan pemberitaan di berbagai media, baik cetak maupun elektronik. Tapi, meskipun dia menceritakan banyak hal, Safilin meminta obrolannya dengan Malang Post tersebut tidak diberitakan, alias off the record.

Seperti yang pernah diberitakan sebelumnya, Arily Safitri melaporkan Ika Widya Safitri ke Polresta Malang. Laporan tersebut karena Arily tidak terima dengan perilaku Widya yang melakukan penganiayaan terhadap dirinya. Kasus ini sendiri sampai sekarang masih ditangani Unit PPA Polresta Malang. (ira/avi) (Ira Ravika/malangpost)

Tinggalkan komentar

Filed under Berita, Malang, Malang Raya, Pendidikan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s