Tangis Neno untuk Korban Zakat Maut

Artis yang kini menjadi ustadzah, Neno Warisman kemarin hadir dalam gelaran Tabligh Akbar Mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) di Samanta Kridha.

Dalam talk show itu, Neno sempat menyinggung tragedi zakat maut di Pasuruan. Mantan penyanyi ini bahkan menitikkan air mata mengingat tragedi yang menewaskan 21 orang itu.

Menurutnya kejadian itu menunjukkan, akar kemiskinan di negara ini masih tumbuh dengan suburnya. Terutama kemiskinan aqidah yang dimiliki pemimpin bangsa ini.

‘’Ini semua terjadi karena kita punya presiden yang tidak takut kepada Allah, tapi lebih takut kepada Amerika. Karena itu, sekaranglah waktunya para pemuda untuk merebut kembali peradaban. Mahasiswa jangan hanya mengejar sebagai lulusan UB saja, tapi sebagai pejuang di jalan Allah dalam semua bidang,’’ ungkapnya.

Awalnya, Neno mencoba memberikan apresiasi kepada salah satu dosen dari Palu yang sedang berjuang di Malang. Ia pun bercerita pernah didatangi sekelompok nelayan dari Palu yang membutuhkan penerangan untuk kapalnya. Ia tak kuasa menahan air mata melihat fakta bahwa kemiskinan masih mendera negeri ini.

Gelaran talkshow dalam acara Student Day kemarin mengangkat tema Menggugah Makna Kesuksesan Sejati. Bagi Neno, kesuksesan adalah bisa merubah keadaan dari buruk menjadi baik.

Seorang ibu misalnya, bukanlah ibu yang berhasil mengantarkan anak dari zero menjadi hero. Melainkan ibu yang bisa memahamkan anak bahwa manusia itu dari zero menjadi hero dan kembali menjadi zero.
Kesuksesan sejati menurutnya harus selalu ada orang yang berani mengatakan kebenaran. Dan sukses sejati harus banyak berkorban. Karena puncak sukses adalah satu titik diatas segunung masalah.

Neno pun mencoba mengingatkan mahasiswa akan peranan penting orang tua dalam pendidikan anak.
‘’Bagi saya, anak yang cerdas adalah anak yang berotak rimbun, jadi segala sesuatunya tidak diukur dengan ranking. Saya tidak marah walaupun anak saya tidak naik kelas,’’ ungkapnya.

Sebagai seorang pendidik anak, ia berharap ada satu SKS di UB ditambahkan dengan pembelajaran yang mengajarkan pendidikan anak. Jadi diharapkan seorang mahasiswa nantinya bisa menjadi pendidikan anak. ‘’Karena puncak kesuksesan sebagai mahasiswa saat mereka sukses menjadi ayah dan ibu yang baik bagi anak-anaknya kelak,’’ tuturnya.

Dalam talk show kemarin, Neno pun banyak mengisahkan bagaimana perjalanan karir keartisannya. Yang diakuinya penuh dengan godaan material.

Neno yang kala itu memutuskan menjadi penyanyi demi membiayai pendidikan tingginya, harus berhadapan dengan realita materialistis. Dimana seringkali kapitalisme menjajah, namun ia bersyukur bisa menghindarinya.

‘’Dulu saya tidak pernah bisa ke diskotik karena memang pulang kerja saya harus ngebut dengan tugas kuliah. Saya bersyukur tidak pernah melihat lantai disko. Saya juga bersyukur karena bisa berfikir realistis saat aqidah saya ditawar oleh produser saya kala itu dengan sebuah rumah. Saya rela melepas rumah dan segala fasilitas yang ditawarkan itu, karena saya bukan kambing,’’ tuturnya. (oci/avi) (rosida/malangpost)

Tinggalkan komentar

Filed under Berita, Indonesia, Malang, Malang Raya, Pendidikan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s