Apel Batu Diserang Hama, Produktivitas Turun Drastis

Tanaman apel di Kecamatan Bumiaji banyak yang terserang hama dan mengakibatkan merosotnya hasil tanam. (NOVAL LUTHFIANTO/MALANG POST)

Tanaman apel di Kecamatan Bumiaji banyak yang terserang hama dan mengakibatkan merosotnya hasil tanam. (NOVAL LUTHFIANTO/MALANG POST)

Tanaman apel di Kecamatan Bumiaji produksinya menurun drastis dalam dua bulan terakhir. Padahal di kecamatan ini merupakan pemasok terbesar apel Batu yang cukup tersohor itu.

Penurunan ini diakibatkan tanaman apel diserang hama penyakit berupa kutu sisik, mildu atau cabuk putih, kutu daun hijau atau Aphis Pomi dan kumbang daun.

“Ada penurunan produksi cukup drastis sekitar 60 persen lebih di beberapa perkebunan apel petani. Hal utama yang menjadi penyebab adalah pemilihan pestisida tidak tepat untuk memerangi hama. Termasuk juga musim dalam beberapa bulan ini tak bersahabat bagi tanaman apel,” ujar Sugiman, ketua Kelompok Tani Makmur Abadi Bumiaji, kepada Malang Post.

Ia menyebut, dalam kondisi normal atau sehat, setiap 0,5 hektare kebun apel dalam sekali musim panen atau enam bulan mampu menghasilkan 10 hingga 15 ton apel. Namun dalam dua bulan ini dengan kondisi makin maraknya dan beragamnya hama, produksi menurun tajam hingga 5 hingga 7 ton saja.

“Bahkan ada beberapa petani dengan luas kebun 0,5 hektare hanya mampu menghasilkan 1,5 hingga dua ton saja. Ini menyedihkan, sementara ini kami terus berupaya memberikan solusi tepat bagaimana mengatasinya,” imbuh Sugiman kemudian.

Panen apel juga terancam hama jenis baru, Mumul yang sebelumnya lebih dikenal sebagai hama pada tanaman lain. Hama tersebut seperti lalat yang mampu merontokkan daun dan bunga apel, sehingga menyebabkan gagalnya proses penyerbukan. Sedangkan untuk membasminya para petani memerlukan biaya yang besar guna membeli pestisida.

Di Bumiaji saat ini terdapat delapan kelompok tani apel, yakni Makmur Abadi, Arjuno, Makmur Karya Tani, Sri Mulyo, Bumi Jaya I, Bumi Jaya II, Bumi Jaya III, dan Juyso.

Masing-masing kelompok tani dengan anggota antara 40 hingga 80 orang itu, hampir semuanya terkendala menurunnya kualitas produksi atau gagal panen.

“Sehingga sejak mulai awal para petani selalu menerka-nerka dan berharap-harap cemas. Apakah pohonnya bisa tumbuh daun, kemudian bisakah berbunga, dan apakah nanti akan keluar buah. Selain itu apakah nantinya buahnya bisa tumbuh hingga panen,” timpal petani apel dari Desa Tulusrejo, Nowohadi.
Pria usia 55 tahun ini memiliki dua hektare kebun apel. Dalam panen lalu hanya mampu menghasilkan antara 12 hingga 20 ton yang seharusya 40 ton lebih. Belum lagi ia harus dihadang kendala mahalnya harga obat-obatan penyubur dan pencegah hama.

“Kadang-kadang kami kalau dihitung hasil bersih penjualan apel panenan dibanding ongkos produksi sangat tipis atau bahkan pernah tekor atau rugi,” imbuh Nowohadi.

Sementara itu, Sugiman juga menilai penyakit embun upas atau busuk kering daun, pucuk bertepung atau mildu tepung, dan busuk batang juga menjadi akibat dari semua serangan hama itu. Kondisi itu juga berimbas kepada kualitas pohonnya sendiri dan kuantitas produksi apel.

“Masalah itu belum terselesaikan, musim penghujan sebentar lagi akan tiba. Ini tentu saja menjadi kendala tersendiri bagi petani apel. Rata-rata petani di sini menanam apel jenis manalagi dan Ana. Per enam bulan panen mereka rata-rata dalam bulan-bulan ini mendapat laba bersih Rp 1,9 juta,” ujarnya. (nov) (Noval Lutfianto/malangpost)

Tinggalkan komentar

Filed under Batu, Berita, Malang Raya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s