Investor Jual Semua Saham, Kecuali BRI dan Telkom

Pemain capital market (pasar saham) kini tengah meradang. Tsunami yang terjadi di pasar modal Amerika Serikat (AS) berimbas kemana-mana hingga akhirnya Rabu lalu, Bursa Efek Indonesia menghentikan semua perdagangan saham karena investor terus menjuali saham mereka. Bagaimana dengan investor di Malang?

Seperti biasanya, siang kemarin di perusahaan sekuritas Tri Megah Securities tampak beberapa investor tengah berada di depan komputer. Hanya, mereka tidak berkonsentrasi mengikuti pergerakan saham demi saham melalui jaringan internet. Siang itu mereka hanya duduk di depan komputer sambil membicarakan kondisi makro ekonomi.

Sejak beberapa hari, nasabah Tri Megah Securities praktis tidak banyak melakukan aktivitas jual atau beli saham. Sebelum terjadi guncangan hebat di pasar modal, baik di AS maupun di Indonesia sendiri, mereka sudah terlebih dahulu menjual saham-saham mereka.

Salah satu nasabah, Rudi, mengaku sudah jauh-jauh hari menjual sahamnya. Sehingga, ketika panic selling terjadi di Bursa Efek Indonesia, ia tidak ikutan menjual sahamnya dengan membabi buta. Rudi, yang mengawali investasi dengan modal sekitar Rp 200 juta ini masih mempertahankan saham BRI dan Telkom. Dua saham ini biasa disebut saham plat merah alias saham perusahaan milik pemerintah.

Menurut pegawai di salah satu perusahaan di Malang ini, saham plat merah relatif lebih menguntungkan. Meskipun, tidak juga terhindar dari badai krisis pasar finansial. “Seperti saham Telkom. Pada kondisi normal, harganya mencapai kurang lebih Rp 7000. Kini merosot hingga Rp 4000,” akunya.

Tetapi, meski menurun, Rudi mengaku tidak merasa rugi untuk tetap memegang saham tersebut. Alasannya, dua tahun lalu ia membelinya dengan harga Rp 2000. “Ketika kini harganya Rp 4000, saya tidak rugi kan? Investasi di pasar saham memang untuk long term investment (investasi jangka panjang),” cetusnya.

Alasan lain warga Kelurahan Klojen ini masih mempertahankan saham plat merah tersebut, karena setiap tahun ia mendapatkan deviden dari PT Telkom untuk setiap lembar saham yang dia miliki. “Lumayanlah, dari pada disimpan di bank. Setiap tahun saya mendapat bonus,” imbuhnya.

Rudi mengaku masih belum mumpuni benar dalam bermain di pasar modal. Selama dua tahun ia menekuni bisnis tersebut, ia hanya memegang satu kunci. Ketika bunga deposito terus merangkak naik, itulah saatnya dia harus menjual sahamnya dan memindahnya di bank.

“Asumsinya sederhana. Daripada capek-capek di putar di pasar modal yang hasilnya berada di bawah bunga deposito, lebih baik uang disimpan di bank saja akan menghasilkan keuntungan yang lebih besar,” ungkapnya. (Sinyo Suwignyo/han) (Sinyo Suwignyo/malangpost)

Tinggalkan komentar

Filed under Berita, Indonesia, Malang, Malang Raya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s