Terkena Dampak Bensin Langka, Mikrolet Kurangi Aktivitas

Langkanya bensin di Kota Malang, membuat sopir mikrolet terpaksa mengurangi jumlah trayeknya. Jika biasanya dalam satu hari mereka rata-rata jalan tiga hingga empat kali pulang-pergi, maka dua hari belakangan ini, mereka hanya jalan satu atau dua kali pulang-pergi. Ngetem menjadi langkah terbaik bagi mereka dibanding keliling mncari penumpang.

Siang hari suasana di depan Stasiun Kotabaru terlihat lengang. Belum ada kereta yang menurunkan penumpang, sehingga tak banyak pejalan kaki yang berlalu lalang di sekitar stasiun.

Keramaian justru diciptakan oleh sekumpulan orang yang sedang bergurau sambil ngopi. Kumpulan orang ini tak lain adalah para sopir mikrolet yang sedang bersantai sekaligus menunggu penumpang.

Salah satu sopir mikrolet jurusan AL, Prabowo yang ngetem di depan Stasiun Kotabaru, bersama teman-temannya sengaja tak keliling seperti hari-hari biasanya untuk menghemat BBM.

Sebab untuk mendapatkan BBM, mereka harus mengantre minimal dua jam. Padahal jika waktu sebanyak itu dipakai ‘narik’, jelas menghasilkan rupiah yang lumayan.

Belum lagi mereka harus berhemat BBM, ketimbang kalau kehabisan bensin, tapi penumpang sepi, akan menderita dua kali. Harus antre yang sekaligus kehilangan waktu. Tak heran kalau sopir itu memilih ngetem di tempat-tempat pemberhentian sembari menunggu penumpang.

‘’Daripada muter-muter nggak jelas mencari penumpang, lebih baik diam di tempat. Kalau muter-muter belum tentu dapat penumpang. Justru yang pasti malah menghabiskan bensin. Padahal hari-hari ini bensin antre-nya panjang sekali,’’ kata Prabowo saat ditemui Malang Post, siang kemarin.

Pria yang berdomisili di daerah Karang Besuki ini mengaku, di hari biasa ia mengisi tangki mobilnya pada malam hari setelah mengangkut penumpang, sekitar pukul sembilan malam. Dan itu langsung dapat tanpa harus menunggu lama.

Tetapi karena dua hari ini antre, ia bisa mengantre hingga dini hari. Bahkan tak jarang, meski sudah mengantre lama, belum tentu ia bisa mendapat jatah karena kehabisan. Kalau sudah begitu, untuk mendapatkan 20 liter bensin sebagai modalnya bekerja, ia harus kembali mengantre subuh.

‘’Subuh pun datangnya juga harus lebih awal. Soalnya banyak juga kendaraan kendaraan pribadi yang sudah antre sejak subuh seperti kami. Kalau nggak ada pengorbanan seperti ini bisa-bisa pas lagi narik mogok di jalan. Penumpang pun akhirnya pindah ke mikrolet lain dan saya tidak bisa dapat penghasilan,’’ lanjut pria berusia 28 tahun ini.

Baik Prabowo maupun sopir mikrolet lainnya sudah merasakan langkanya bensin sejak Minggu (12/10) malam lalu. Tetapi hingga sekarang baik dirinya maupun sopir lain tidak mengetahui sebab kelangkaan bensin yang meresahkan masyarakat di Malang Raya itu.

Baginya tidak penting apa yang menjadi sebab kelangkaan. Yang lebih penting adalah persoalan ini segera diselesaikan agar pekerjaannya tidak terganggu.

‘’Kalau keadaan susah seperti ini akhirnya berimbas juga untuk pendapatan. Sudah biasanya dapat pas-pasan, sekarang malah kurang. Kalau sudah begini, pulang bisa ‘dinyanyiin’ istri,’’ pungkasnya.
Sementara itu pemandangan sopir mikrolet yang ngetem menunggu penumpang tidak hanya dijumpai di daerah pusat kota. Di beberapa titik, seperti di daerah Matos dan di Arjosari juga banyak dijumpai sopir mikrolet yang memilih diam menunggu penumpang dibanding keliling mencari penumpang. (noer adinda zaeni) (dinda/malangpost)

Tinggalkan komentar

Filed under Berita, Malang, Malang Raya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s