Bensin Eceran Capai Rp 11 Ribu/liter

Pertamina Unit Pemasaran Surabaya (UPMS) V tidak bertanggung jawab atas melonjaknya harga bensin (premium) di tingkat eceran di kota Malang . Sebab, penjual eceran bukan menjadi mata rantai atau jaringan pemasaran produk BBM resmi yang dikelola UPMS.

Hal di atas diungkapka Eviyati Rofraida, Humas UPMS dan Tomotius Kristanto, Kepala Depo Malang kepada Malang Post secara terpisah, kemarin sore. ‘’Itu (harga eceran) bukan tanggungjawab kita, Mas. Jadi, bukan urusan Pertamina,’’ ujar keduanya meyakinkan.

Dari data yang dihimpun Malang Post di Kota Malang menunjukkan, harga bensin eceran tidak ubahnya harga saham blue chip, yang dikejar-kejar investor. Buktinya, dalam rentang waktu dua jam, harga eceran yang semual baru bertengger diangka Rp 9 ribu per liter, langsung meroket ke angka Rp 11 ribu per liter.

Padahal, harga Rp 9 ribu tersebut sudah melampui Harga Ecean Tertinggi (HET) yang ditetapkan Pertamina, yaitu Rp 6.500 per liter ditingkat SPBU resmi. Tetapi, karena suplai dan deman bensin di Malang Raya, khususnya Kota Malang tidak berimbang, maka harga berapapun akhirnya diterjang konsumen.

Menurut Kris, pihaknya sejak Selasa malam telah melakukan road show ke seluruh SPBU, khususnya di Kota Malang. Tindakan ini dilakukan tidak lain untuk mengecek secara langsung, pembelian bensin yang dilakukan konsumen di tiap-tiap SPBU.

Di sisi lain, Rabu kemarin, Kris juga mengetahui informasi jika harga bensin di tingkat eceran menembus angka Rp 11 ribu per liter. Tetapi, karena bukan menjadi kewenangan Pertamina, maka pihaknya tidak bisa melakukan action apapun atas persoalan itu.

Depo Malang lebih memilih melakukan tindakan riil dengan memperkuat stok pengisian dan pengadaan bensin di 22 titik SPBU di Kota Malang.

Harapannya, jika pembelian di setiap SPBU mudah didapatkan, maka secara psikologis harga eceran tidak akan setinggi itu. ‘’Sekali lagi itu (harga eceran) bukan wewenang kami,’’ katanya.

Ditanya kemungkinan adanya spekulan di balik panic buying bensin tiga hari ini, Kris menyebutkan, dari penelusuran pihaknya tidak menemukan unsur itu.

Panic buying terjadi, murni karena psikologis masyarakat sendiri. ‘’Tidak. Tidak ada spekulan. Semuanya terjadi karena konsumen panik terhadap isu yang tidak benar saja,’’ pungkasnya.

Sementara itu di Kabupaten Malang, sejumlah SPBU di pinggir jalan provinsi jurusan Kota Kepanjen, masih tetap diserbu ratusan pembeli. Bahkan salah satu SPBU di Desa Mojosari Kecamatan Pakisaji terpaksa tutup karena kehabisan stok. Sementara sejak pagi, SPBU di sepanjang jalan kewalahan melayani pembeli.

Malang Post bahkan sempat merasakan sulitnya mengisi BBM karena kelangkaan bensin. Seluruh toko atau kios yang biasanya menyediakan bensin eceran tutup sama sekali. Akhirnya, Malang Post memilih mengantri di SPBU Nomor 5465102, selama hampir satu jam. ‘’Dimana-mana ramai, Mas, sampai kapan ya seperti ini,’’ ujar salah satu pembeli sambil menghela nafas.

Sementara petugas SPBU 5465102 mengatakan, kapasitas tangki tanam di tempat itu hanya 8 KL (8000 liter). Jika setiap tangki sepeda motor diukur berkapasitas 5 liter, maka SPBU hanya mampu melayani 1600 pembeli. Itu belum termasuk pembeli bermobil yang kapasitasnya lebih besar. ‘’Antrian baru hari ini terjadi, kemarin masih lancar,’’ aku petugas itu. (has/ary/avi) (harry santoso/malangpost)

Tinggalkan komentar

Filed under Berita, Malang, Malang Raya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s