Menelusuri Sejarah Lambang Kota Batu

Nama pencipta logo Kota Batu kemungkinan besar tidak akan masuk dalam catatan sejarah perjalanan awal Kota Batu. Pencipta logo tersebut, Yudi Armadioka tidak ada dalam berkas di Pemkot Batu karena berkasnya sudah hilang. Hilangnya berkas pencipta logo Kota Batu terungkap dalam sarasehan HUT ke-7 Kota Batu yang digelar masyarakat Kota Batu di Hotel Purnama beberapa waktu lalu.

Asisten I Sekda Kota Batu, Pudjo Yuwono menegaskan, berkas lomba penciptaan logo Kota Batu tidak ada di Pemkot Batu, termasuk nama pemenang yang hingga saat ini digunakan Pemkot Batu. Ironis memang, berkas bagian dari sejarah perjalanan Kota Batu harus hilang. Padahal, usia Kota Batu hari ini baru genap 7 tahun. Semua saksi sejarah peningkatan status Kota Batu masih ada dan pencipta logo Kota Batu pun masih hidup.

Nama Yudi Armadioko memang tidak sepopuler tokoh-tokoh kelompok kerja (Pokja) peningkatan status Kota Batu dari kota administratif, seperti Slamet Henkus, Harijono, MC, Andrek Prana, dan tokoh lainnya. Tapi, nama Moka, sapaan akrab Armadioko mampu menciptakan logo Kota Batu dengan melihat segala potensi yang ada di kota apel itu.

Penciptaan logo Kota Batu awalnya memang dilombakan secara luas pada tahun 2002 lalu, dengan ketua panitia Slamet Henkus yang kini menjadi ketua Dewan Kesenian Kota Batu. Ada 68 logo yang dikirimkan kepada panitia lomba logo Kota Batu. Karya cipta Moka masuk paling akhir pada jam 22.00 WIB dengan nomor 68. Saat itu malam terakhir penutupan penyerahan lomba cipta logo yang ditutup jam 24.00 WIB.

“Untuk menciptakan karya itu, butuh perenungan yang cukup mendalam. Bahkan, saya harus menghitung tangga yang ada di Candi Supo di Songgoriti. Gambar candi itu saya letakan di tengah logo,” ungkap Moka.

Warga Jalan Sareh 33 itu juga heran, mengapa dokumen dan berkas penciptaan logo Kota Batu bisa hilang. Untuk menciptakan logo Kota Batu yang dapat menjadi cerminan sebuah kota yang makmur bukan hal mudah.

Meski terbilang singkat, pria yang mahir desain grafis itu mampu menciptakan logo Kota Batu yang dapat menjadi simbol Kota Batu. Dia memasukan gambar bintang, gambar padi dan kapas, gambar gunung, keris, rantai candi, perisai, warna dasar hijau, air dan lainnya. Masing-masing gambar memiliki makna dan filosofis yang sangat mendalam.

“Gambar logo yang saya ciptakan hampir semuanya sama. Hanya semboyan atau motto Kota Batu yang ada dalam logo bukan hasil buah pemikiran saya. Panitia memang meminta untuk mengkosongkan moto atau semboyan Kota Batu,” terangnya.

Dewan juri menunjuk hasil cipta logo Kota Batu memilih logo hasil karya Moka sebagai pilihan utamanya. Atas prestasinya itu, dia mendapatkan satu buah TV 21 inc dari Wali Kota Batu, Imam Kabul saat itu dan piagam penghargaan. Hadiah dan piagam itu masih disimpannya rapi, termasuk kliping-kliping koran yang memberitakan kemenangannya sebagai pencipta logo Kota Batu. Sebagai bukti dirinya ikut andil dalam perjalanan sejarah Kota Batu.

“Anehnya, TV hadiah wali kota itu tiba-tiba rusak, bertepatan saat Wali Kota Batu, Imam Kabul meninggal pada Agustus 2007 lalu,” herannya. Dia berharap, hasil cipta karyanya tetap diakui sebagai bagian dari perjalanan sejarah Kota Batu. Tidak dilupakan begitu saja, apalagi sampai berkasnya lomba penciptaan logo itu hilang. (muhaimin) (Muhaimin/malangpost)

Tinggalkan komentar

Filed under Batu, Berita, Malang Raya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s