Padepokan Kemuning

Mbah Tamun di Padasan yang dipercaya akan mengeluarkan air yang bisa dikonsumsi, bila doanya direstui. (SIGIT ROKHMAD/MALANG POST)

Mbah Tamun di Padasan yang dipercaya akan mengeluarkan air yang bisa dikonsumsi, bila doanya direstui. (SIGIT ROKHMAD/MALANG POST)

DIAKUI atau tidak, Kabupaten Malang benar-benar menyimpan sejumlah lokasi untuk mencari berkah selain Gunung Kawi, Kecamatan Wonosari. Seperti di wilayah Kecamatan Ngajum, persisnya Padepokan Kemuning, di Dusun Kemuning, Desa Kranggan, siapa sangka juga merupakan lokasi pencari berkah. Berikut laporannya.

Berlokasi diantara rerimbunan pohon Beringin ketika dilihat dari tepi Jalan Dusun Kemuning, Desa Kranggan, siapa sangka lokasi Padepokan Kemuning yang terkesan menakutkan justru akan terkikis dengan sendirinya ketika sudah sampai di pintu masuk padepokan. Lokasi yang begitu sederhana karena memang tidak banyak terjamah, membuat sekeliling lokasi pun tetap rapi dan bersih.

Begitu memasuki areal padepokan, suasana nan asri yang sejuk akan begitu kentara. Belum lagi, aula atau layaknya pendopo ukuran sedang yang berada persis di depan Padasan (tempat air), seolah membuat pengunjung ingin untuk istirahat sebentar menghilangkan lelah selama menuju lokasi yang jaraknya sekitar 7 kilometer dari pusat Desa/Kecamatan Ngajum.

Namun siapa sangka pula, dibalik lokasi yang lumayan jauh dengan medan jalan yang relatif kurang mendukung, tidak sedikit pencari berkah yang mengunjungi lokasi itu. Bahkan, tidak hanya dari wilayah Malang, namun dari Gresik maupun Surabaya, juga datang ke Padepokan Kemuning.

“Biasanya, Kamis Kliwon ada saja mereka yang datang ke sini. Rutinnya, selain berdoa ke makam Sekat Tunjungsari, juga berdoa ke Sunggingan dan ke Padasan (Tempat air). Padasan sendiri, biasanya dilakukan diakhir sebelum meninggalkan padepokan. Terkadang, kalau memang doa atau permintaannya selama berdoa direstui, air secara tiba-tiba akan alan keluar dari lubang kecil layaknya kendi ini,” kata Mbah Tamun, juru kunci Padepokan Kemuning.

Ditanya sekilas mengenai makam Sekat Tunjungsari, pria yang berusia 87 tahun itu menceritakan, kalau Sekat Tunjungsari merupakan orang kepercayaan dari Sultan Mentaram-Solo. Selama mengasingkan diri untuk melakukan tirakat, Sekat Tunjungsari akhirnya meninggal di sini.

“Sementara Sunggingan sendiri, merupakan tulisan hindu-jawa yang sudah lama berada di Padepokan Kemuning. Apa arti dari tulisan yang tertera di Sunggingan itu, saya sendiri kurang paham karena bukan tulisan jawa. Mereka yang paham, terkadang hanya memberitahu kalau tulisan-tulisan yang tertera, merupakan (kata-kata) sandi,” ungkap Mbah Tamun. (sigit rokhmad/eno) (Sigit Rohnad/malangpost)

Tinggalkan komentar

Filed under Berita, Kabupaten Malang, Malang Raya, Pariwisata

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s