Puring Roro Wilis Jadi Primadona

Kontes Puring kali pertama yang digelar Plaza Araya mendapat tanggapan baik khususnya dari kalangan kolektor Malang. Terbukti, tanaman Puring yang dibawa sebagian bahkan belum pernah diperlihatkan pada publik. Deretan Puring ini dipamerkan di atas panggung di halaman depan Plaza Araya. Selama penjurian kemarin, pengunjung plaza selalu berhenti untuk sekadar mengamati jenis Puring yang susunan daunnya tampak proporsional.

Penyelenggara Kontes Puring, Nanang Mukholis Anwar mengatakan, sebelumnya juga digelar kontes serupa di Tumpang. Namun peserta kontes di Plaza Araya, bukanlah orang yang sama dengan kontes serupa tersebut. “Banyak peserta baru yang memang kolektor. Sebelumnya mereka bahkan tidak keluar untuk melakukan pameran,” kata Nanang yang ditemui Malang Post disela penjurian.

Total peserta, lanjutnya, memang tidak sebanyak yang diprediksikan sebelumnya. Menurutnya, banyak peserta yang menarik diri dari kontes sehingga menyisakan 25 peserta. “Namun dari jumlah ini, 80 persen mengikutikan Puring jenis impor yang cukup langka. Jadi bukan sekadar Puring yang kerap menghias kuburan dan Puring ini juga tidak mudah ditemukan di pasaran,” katanya.

Nama Puringnya yang mengikuti kontes kecantikan tanaman tersebut cukup unik. Di antaranya Green Apple, Santa Helena, Oscar Ruby, Oscar Madu, Banglor, Tanduk, Sahara, Sakura, Lipstik dan masih banyak lagi. Meski Puring berkualitas kebanyakan merupakan Puring jenis impor, namun bukan berarti Puring lokal kalah pamor. Misalnya saja Puring Roro Wilis yang juga menjadi primadona di kalangan penggemar Puring karena kelangkaannya.

GM Plaza Araya, Priali M Basa yang juga menjadi juri dalam Kontes Puring tersebut mengatakan, harga Puring yang dipamerkan tidak menjadi pertimbangan utama. Pasalnya, kegiatan hobi seperti ini tidak memiliki batasan harga. “Namanya juga hobi, berapapun akan dibeli. Puring Lidah Api terakhir dijual dengan harga Rp 15 juta dan tetap ada pembelinya,” terang dia.

Demam Puring yang sudah berlangsung delapan bulan tersebut hingga kini masih diminati pecinta tanaman. Pasalnya, Puring merupakan tanaman yang akrab dengan keseharian karena biasa ditemukan di taman, dan juga pernah populer sebagai tanaman kuburan. Hanya saja, untuk jenis yang berharga tinggi tentunya merupakan Puring yang langka.

Nanang sendiri memprediksi, booming Puring akan cukup lama bertahan. Pasalnya, berbeda dengan Anthurium, perbanyakan tanaman Puring terbilang lebih sulit meski perawatannya paling mudah di antara tanaman hias lainnya. Dibiarkan pun, tanaman ini tetap tumbuh dengan kondisi luar ruangan. “Justru jika terlalu dimanja, tanaman ini akan mati,” pungkasnya. (fio/lim) (Fiona Mediony/malangpost)

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Berita, Malang, Malang Raya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s